Transformasi Insan Menurut Mulla Sadra: Membaca Konsep Dasar Insan Kamil Hikmah Muta’aliyah

Oleh: Nurul Khair

Mahasiswa Pascasarjana Ahlul Bait University Tehran

Tulisan sederhana ini berangkat dari kegalauan penulis dalam melihat paradigma masyarakat sosial, bahwa kesempurnaan dan kebahagiaan eksistensi insan dapat dinilai dan diukur berdasarkan kekayaan materi yang diperoleh. Artinya, individu yang memiliki kekayaan materi terbanyak merupakan orang yang paling bahagia dan sempurna. Sebaliknya, individu yang tidak memiliki kekayaan materi dipandang sebagai individu yang tidak bahagia dan sempurna di dunia. Paradigma masyarakat sosial memahami kesempurnaan dan kebahagiaan diri didasari oleh pengaruh modernitas yang melihat eksistensi manusia secara terukur, tersistematis, dan terinderawi. Akibatnya, manusia memandang segala sesuatu berdasarkan nilai materi di realitas.

Jika melacak paradigma masyarakat modern melalui pendekatan historis, maka dapat diketahui bahwa paradigma materialisme dikembangkan oleh Thomas Hobbes—selaku pakar aliran Naturalisme yang memandang bahwa manusia adalah makhluk mekanis. Thomas Hobbes menganalogikan seperti jam tangan yang bergerak dan bekerja keras secara bebas berdasarkan hasratnya. Hasrat merupakan daya penggerak manusia untuk mencapai segala sesuatu yang diinginkannya di dunia. 

Pandangan Thomas Hobbes memiliki keselarasan dengan kemunculan konsep humanisme abad reinassance bahwa masalah utama pemberontakan para pemikir terhadap kaum gereja ialah kebebasan eksistensi. Menurut Hobbes, kebebasan tertinggi ialah manusia dapat berkreasi secara bebas berdasarkan potensinya untuk mencapai sesuatu yang dinginkannya di dunia. Dunia merupakan objek yang harus dikaji secara terukur, sistematis, dan terinderawi. Sebab, ketiga komponen tersebut merupakan kreasi murni yang dapat dikaji dan ditelaah oleh manusia melalui kekuatan individunya. Implikasinya setiap individu akan berlomba-lomba untuk menciptakan kreativitas di muka bumi yang berujung pada terciptanya konflik dan sistem persaingan satu sama lain, demi memperoleh kesempurnaan dan kebahagiaan eksistensinya di dunia.

Berdasarkan ragam penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa terciptanya sistem persaingan dan konflik di tengah kehidupan masyarakat modern didasari oleh paradigma materialisme yang melibatkan daya persepsi sebagai media utama untuk meningkatkan kesadaran materi manusia. Dalam meningkatkan kesadaran materi manusia, daya persepsi melibatkan kekuatan pancaindera untuk menentukan sikap dalam berkehendak di realitas. Kekuatan pancaindera mempengaruhi aspek syahwat dan emosional manusia untuk bertindak dan berkehendak di dunia. Setiap tindakan dan kehendak manusia didasari oleh syahwat dan emosional akan menghilangkan aspek spiritual dalam kehidupan manusia. Sebab, syahwat dan emosional akan mengaktualkan insting dan naluri manusia untuk mencari kelezatan dan kenikmatan di realitas. Tindakan dan perbuatan manusia didasari oleh insting dan naluri akan mendeskripsikan eksistensinya seperti binatang, sebagaimana binatang senantiasa mengutamakan insting dan nalurinya untuk beraktivitas di dunia. Manusia bertindak berdasarkan insting dan naluri akan mendeskripsikan eksistensinya sebagai hewan. Akibatnya, manusia mengalami penurunan eksistensi di realitas. Konsep humanisme dalam pandangan para filsuf barat tidak meningkatkan kehormatan, eksistensi, dan potensinya melainkan mendegradasi eksistensi manusia di realitas.

Baca Juga:  Laku Syukur, Memikat Cinta Tuhan Yang Maha Syakur

Demi mengatasi ragam permasalahan di atas, penulis berusaha menawarkan paradigma Mulla Sadra melalui pembacaan konsep dasar Insan Kamil Hikmah Mut’aliyah guna mengatasi kekeliruan masyarakat modern memahami kesempurnaan dan kebahagiaan dirinya. Dalam membahas konsep Insan Kamil, Mulla Sadra menggunakan istilah al-Insān al-Ilahī yang memandang keberadan manusia terdiri dari materi dan immateri merupakan dua domain eksistensi individu yang memiliki relasi saling menyempurnakan di realitas. Pada fase awal kehidupan, manusia menyadari bahwa keberadaan dirinya dan sesuatu di luar dirinya berasal dari jasmani, sebagaimana si Ain dapat mengetahui keberadaan individu di luar dirinya, seperti Hasan, Husein, dan Ali secara fisik. Pengetahuan Ain mengenai keberadaan ragam individu lain merefleksikan akalnya untuk membedakan keberadaan fisik Husain dengan Hasan dan Ali secara kuantitas, seperti berat badan dsb. Proses membeda-beda atau memilah-milah entitas merupakan cara kerja akal untuk menganalisis segala sesuatu demi memperoleh hakikat eksistensi. Hasil analisa akal menyimpulkan bahwa jika eksistensi materi bisa terbagi-bagi, maka ada entitas tidak dapat dibagi-bagi secara materi. Artinya, keberadannya tidak terpengaruh oleh ragam materi. Mulla Sadra menjelaskan bahwa jiwa merupakan eksistensi immateri manusia senantiasa mengalami proses aktulitas untuk mencapai kesempurnaan eksistensinya di realitas.

Meskipun, jiwa dipandang sebagai sesuatu yang terlepas dari materi pada proses aktualitasnya, akan tetapi perlu diketahui bahwa pada fase potensial jiwa bergantung pada tubuh sebagai wadah kesempurnaannya. Adapun, tubuh manusia tidak dapat berkehendak tanpa refleksi jiwa, sehingga keduanya memiliki relasi antara satu sama lain untuk menyempurnakan eksistensi manusia. Mulla Sadra menjelaskan bahwa relasi jasmani dan jiwa dalam diri manusia dapat diketahui melalui pengetahuan individu memahami kebenaran realitas. Mulla Sadra menyebutkan bahwa pancaindra merupakan instrumen ilmu pengetahuan bersifat rendah mempersepsi keberadaan eksternal secara menghasilkan gambaran bersifat partikular. Gambaran partikular dipersepsi oleh indra penglihatan akan dianalisis oleh akal sebagai fakultas tertinggi jiwa untuk menghasilkan gambaran bersifat universal di alam mental. Gambar universal dalam mental mendeskripsikan manusia dapat mengetahui keberadaan entitas secara menyeluruh berdasarkan kebenaran realitasnya di realitas, seperti Ain melihat gelas hijau melalui persepsi pengelihatan, sehingga ia memperoleh gambaran partikular mengenai kehijauaan gelas secara kuantitas. Kemudian, gambaran partikular dibawa oleh akal untuk membedah ada dua konsep antara gelas sebagai subjek dan hijau sebagai predikasi. Konsep hijau dinisbahkan kepada gelas bukanlah predikasi yang sesungguhnya, sebab hijau dapat dipredikasikan kepada daun, mobil, dan baju sesuai dengan kebenaran realitasnya. Akibatnya, setiap individu memiliki kemampuan menganalisis segala sesuatu untuk memperoleh pengetahuan mengenai hakikat realitas.

Pengetahuan manusia mengenai kebenaran segala sesuatu dijelaskan oleh Mulla Sadra melalui tema ittihad ‘aql wa ma’qul bahwa korespondensi antara pengetahuan internal dan eksternal merupakan syarat utama untuk memahami objek realitas. Sebab, setiap individu tidak memperoleh kebenaran segala sesuatu tanpa kesesuaian antara internal dan eksternal dalam diri manusia di realitas. Mulla Sadra memandang bahwa korespondensi antara pengetahuan internal dan eksternal didasari oleh prinsipilitas wujud merupakan sumber keberadaan segala sesuatu. Para filsuf barat tidak membahas konsep prinsipilitas wujud dalam pengetahuan manusia, sehingga mereka tidak menyakini keberadaan pengetahuan internal sebagai domain ilmu pengetahuan dalam diri manusia. Implikasinya manusia tidak dapat mengetahui kebenaran realitas didasari oleh pengetahuannya bersifat partikular terhadap realitas. Di satu sisi, penolakan para filsuf barat terhadap pengetahuan internal juga meniscayakan pengetahuan manusia untuk memandang keberadaannya berasal dari materi, sehingga kesempurnaanya bergantung pada materi. Akibatnya, setiap individu akan memandang kesempurnaan eksistensinya secara parsial di realitas.   

Baca Juga:  Laku Tasawuf Menjadikan Manusia yang Memanusiakan Manusia

Mulla Sadra mempertegas konsep ittihād āql wa ma’qūl melalui pembahasan ma’qulāt (konsep universal) dalam Hikmah al-Muta’aliyah yang mengklasifikasi konsep universal terdiri dari dua bagian, berdasarkan pola prosesnya di realitas, yaitu ma’qulāt al-awwali dan ma’qulāt al-tsani al-falsafi. Ma’qulāt al-awwali merupakan tahap awal menangkap seluruh kuiditas entitas bersifat partikular melalui kekuatan indrawi. Kuiditas entitas yang dicerap oleh pancaindra akan dibawa menuju akal untuk dirasionalisasikan menjadi konsep-konsep universal yang sesuai dengan realitasnya disebut ma’qulāt al-tsani al-falsafi. Konsep-konsep universal memengaruhi keberadaan jiwa sebagai substansi mengetahui untuk mengaktualkan dirinya berdasarkan pemahamannya terhadap realitas. Aktualitas jiwa dalam pandangan Mulla Sadra merupakan proses keterlepasannya terhadap entitas materi menuju wadah yang lebih sempurna untuk meningkatkan eksistensinya di realitas.

Mulla Sadra mengibaratkan kesempurnaan jiwa secara bertahap, seperti seorang anak kecil (jiwa) memakai pakaian (wadah). Ketika anak kecil beranjak dewasa, ia akan meninggalkan pakaian di masa kecil dan memakai pakaian dewasa. Masa kecil dalam pandangan Mulla Sadra ialah potensial. Jiwa memakai tubuh sebagai baju untuk mengaktualkan seluruh potensinya. Jika potensi jiwa telah aktual, maka ia akan memakai pakaian dewasa untuk mengaktualkan kembali potensi dewasanya dan meninggalkan pakaian kecil. Keterlepasan jiwa terhadap entitas materi akan mempengaruhi kesederhanaan jiwa manusia yang mendeskripsikan kesempurnaan paradigma dan sikap manusia di dunia melalui dua aspek, yaitu teoritis dan praktis berdasarkan pola aktualitasnya di realitas. Kesempurnaan teoritis ialah pengetahuan akal manusia memahami kebenaran seluruh objek realitas, sehingga ia mempersepsi segala sesuatu melalui kebenaran untuk mengetahui hakikat realitas. Kesempurnaan teoritis mempengaruhi aspek praktis dalam eksistensi manusia. Aspek praktis mempengaruhi tindakan manusia dengan melibatkan akalnya sebelum berkehendak di realitas. Akal manusia merupakan roda untuk menggerakan seluruh rantai tindakan manusia berdasarkan persepsinya terhadap realitas. Persepsi terhadap realitas akan menciptakan pengetahuan, sehingga manusia dapat bertindak berdasarkan pengetahuannya. Manusia mencapai ma’rifat al-haqq bertindak secara logis dan sistematis dengan mengabaikan hasrat dan emosional di setiap kehendak.  Artinya, manusia bertindak berdasarkan pemahamannya melalui proses kesadarannya terhadap objek realitas. Kesadaran dalam bertindak mengaktualkan pandangan etika manusia untuk mengetahui kebaikan (ma’rifat al-khair). Ma’rifat al-khair mendeskripsikan kesempurnaan etika manusia untuk bertindak berdasarkan sebuah kebaikan dengan mengabaikan segala keburukan.

Baca Juga:  Musik Sufi Perspektif Ulama Fikih dan Ulama Tasawuf

Pengetahuan manusia terhadap sesuatu yang baik dilandasi oleh kekuatan jiwa manusia untuk menganalisa sesuatu yang baik dan buruk dengan melibatkan aktualitas akal manusia yang dideskripsikan melalui ma’rifat al-haqq. Mulla Sadra menjelaskan jiwa merupakan landasan utama untuk mengaktualkan seluruh paradigma dan kehendak manusia di realitas. Manusia tidak dapat memahami hakikat kebenaran dan kebaikan tanpa refleksi jiwa untuk meningkatkan eksistensi manusia di realitas. Jiwa merupakan identitas inti dalam eksistensi manusia-sebagaimana argumentasi keberadaan jiwa. Mulla Sadra mendeskripsikan perjalanan kesempurnaan jiwa ibarat manusia memakai baju di dunia. Pada fase balita manusia akan memakai baju sesuai ukurannya, akan tetapi ketika ia mencapai fase anak-anak, manusia akan meninggalkan baju balita dan memakai baju ukuran anak-anak. Manusia yang berada pada fase balita dideskripsikan sebagai eksistensi yang bergantung pada materi, sehingga ia akan menggantungkan segala kebutuhannya, baik paradigma maupun kehendak pada ranah materialis. Sedangkan, manusia yang berada pada tahap anak-anak mendeskripsikan eksistensi melampui paradigma dan kehendak materialis. Artinya, manusia telah melampui kebergantungan materialis dalam eksistensinya untuk mencapai tahap kesempurnaan secara berkelanjutan melalui aktualitas jiwa manusia. Kesempurnaan berkelanjutan mendeskripsikan bahwa setiap insan dapat melakukan transformasi diri di realitas.

Transfromasi insan dalam pandangan Mulla Sadra berusaha untuk menyadarkan setiap individu mengenai keberadaan eksistensi jiwa dan tubuh dalam diri mereka yang senantiasa berhubungan untuk menyempurnakan eksistensinya. Hubungan jiwa dan tubuh diaktualkan melalui keberadaan wujud untuk merefleksikan ragam entitas, sehingga keduanya dapat mengetahui keberadaan segala sesuatu melalui persepsi indrawi dan akalnya di realitas. Pengetahuan akal dan pancaindra manusia akan menghasilkan gambaran internal dan eksternal senantiasa mengalami korespondensi antara satu sama lain, sehingga setiap individu dapat memahami kebenaran seluruh entitas di realitas. Pemahaman manusia mengenai kebenaran seluruh entitas realitas mengimplikasikan aktualitas jiwa sebagai substansi mengetahui untuk menyempurnakan keberadaannya di realitas. Aktualitas jiwa menyebabkan eksistensinya bergerak meninggalkan tubuh untuk mencari wadah pengganti bersifat lebih tinggi daripada keberadaan fisik. Pergerakan jiwa meninggalkan tubuh mendeskripsikan proses kesempurnaan bersifat transedental secara bertahap yang menyebabkan kesederhaan jiwa manusia untuk mengetahui eksistensi absolut bersifat basith al-haqq (kesederhanan yang benar). Pemahaman jiwa terhadap basith al-haqq mengantarkannya pada tahap kesempurnaan tertinggi. Kesempurnaan tertinggi mendeskripsikan kebahagiaan eksistensi jiwa. Dengan demikian, dapat diketahui bahwa konsep dasar kesempurnaan insan dalam Hikmah Muta’aliyah dikaji melalui pendekatan jiwa sebagai identitas immateri yang senantiasa mengalami transformasi menuju kesempurnaan dan kebahagiaan eksistensi insan.  

2 Shares:
You May Also Like