Membaca Kesempurnaan Holistik Manusia melalui Kisah Ibn Miskawaih dan Ibn Sina

Oleh: Nurul Khair

Magister Ahlul Bait International University, Tehran

“Manusia memiliki dua entitas dalam dirinya, yaitu wujud khariji (luar) dan dzihni (dalam). Kedua entitas ini senantiasa mengalami korespondensi dalam membimbing manusia menjadi kesempurnaan paradigma dan akhlak, sehingga keduanya memiliki manfaat yang tidak hanya dirasakan oleh diri manusia, melainkan di luar dirinya. Berbeda dengan kenari yang hanya memberikan manfaat dari sisi dalamnya, sedangkan kulit kerasnya (sisi luar) tidak memberikan manfaat bagi penikmatnya.” Murtadha Muthahhari

Ungkapan Murtadha Muthahhari dikutip melalui salah satu karyanya berjudul “Dastān Rastān”, tatkala mengisahkan pertemuan dua filsuf besar Islam, yaitu Ibn Sina dan Ibn Miskawaih (kisah keduapuluh dalam buku Dastān Rastān, halaman 97, jilid pertama). Murtadha Mutahhari menyebutkan pertemuan kedua filsuf besar tersebut terjadi ketika Ibn Sina berusia 20 tahun. Di usia muda, Ibn Sina telah memahami beberapa cabang ilmu pengetahuan, seperti ilmu alam, matematika dan teologi. Akan tetapi, kecerdasan yang dimiliki oleh Ibn Sina muda tidak berbanding lurus dengan moral yang dimilikinya saat itu. Murtadha Mutahhari mengisahkan bahwa suatu hari Ibn Sina menghadiri kajian pengetahuan di madrasah Ibn Miskawaih, pada saat itu Ibn Miskawaih merupakan filsuf dan ilmuwan besar.

Saat menghadiri kajian ilmu pengetahuan tersebut, Ibn Sina secara tiba-tiba melempar sebuah kenari di hadapan Ibn Miskawaih dan seraya berkata, “Tolong hitung berapa luas permukaan kenari tersebut?” Secara ilmu pengetahuan, kita mengetahui bahwa Ibn Miskawaih mampu menjawab pertanyaan yang diberikan Ibn Sina, apalagi pertanyaan tersebut dilontarkan di forum diskusi yang dihadiri oleh para pemikir dan ilmuwan besar lainnya. Akan tetapi, Ibn Miskawih tidak menjawab pertanyaan Ibn Sina dan berkata, “Moral seseorang merupakan cerminan pengetahuannya. Karena setiap tindakan dan perilaku manusia didasari oleh pengetahuannya untuk menentukan baik dan buruknya perilaku tersebut dilakukan. Anda perlu mengoreksi moral Anda terlebih dahulu daripada mempertanyaan luas permukaan sebuah kenari”. Mendengar jawaban Ibn Miskawaih, Ibn Sina merasa malu dan menjadikan perkataan dan pertemuaan dengan Ibn Miskawaih sebagai sebuah pelajaran untuk membimbing moral dan pengetahuannya di dunia.

Baca Juga:  Kenal Diri Kenal Tuhan

Dari kisah Ibn Sina dan Ibn Miskawaih, sebagaimana dikisahkan oleh Murtadha Muthahhari, kita dapat mengetahui bahwa segala perilaku dan tindakan manusia mencerminkan ilmu pengetahuannya. Dengan argumentasi bahwa segala perilaku dan tindakan manusia didasari oleh pengetahuannya untuk menentukan, apakah perilaku ini pada dasarnya baik dan buruk untuk dilakukan? Dari pertanyaan sederhana ini akan menghasilkan sebuah pengetahuan dalam diri manusia dan diaktualkan dalam sebuah tindakan di realitas.

Dalam wacana filsafat Islam, pengetahuan dapat diperoleh melalui kekuatan pancaindrawi dan akal sebagai instrumen ilmu pengetahuan, tanpa harus memisahkan peran dan urgensi keduanya. Mulla Sadra dalam Al-Hikmah al-Mutāliyah fī al- Asfār al-Aqliyyah al-Arba’ah menyebutkan instrumen ilmu pengetahuan manusia senantiasa berkorespondensi untuk mengetahui hakikat ilmu pengetahuan, seperti   individu mengetahui bahwa jujur itu baik dengan mendengar suatu perkataan melalui telinga maupun membaca sebuah buku dengan melibatkan mata.

Pengetahuan jujur itu baik yang diperoleh melalui pancaindra menghadirkan konsep partikular, yang selanjutnya dianalisis akal untuk memahami lebih jauh makna jujur dan perbuatan baik lainnya. Akal manusia menganalisis, apakah jujur dan perbuatan baik lainnya merupakan sesuatu yang relatif dalam kehidupan manusia dengan mempertimbangkan sedikit dan banyaknya yang merasakan manfaatnya? Sebagaimana pandangan utilitarian yang memandang perbuatan baik sebatas pada sedikit dan banyaknya individu yang memperoleh manfaat. Atau perkataan jujur dan perbuatan baik lainnya disebut baik, ketika hanya individu saja yang memperoleh manfaat, sebagaimana pandangan kaum egoisme?

Semakin akal menganalisis suatu perbuatan baik, semakin manusia dapat menyadari dan memahami hakikat dari perbuatan baik tanpa harus dihukumi berdasarkan banyak-sedikit atau hanya diri sendiri yang merasakan manfaat perbuatan baik tersebut. Sebaliknya, hakikat dari perbuatan baik itu sendiri didasari bahwa perbuatan itu pada dasarnya baik, seperti jujur yang pada dasarnya baik dan bohong yang pada dasarnya itu buruk. Murtadha Mutahhari menyebutkan bahwa kesadaran manusia mengenai hakikat berperilaku baik dengan istilah aql al-malakah yang berarti melekatnya suatu pemahaman dalam paradigma manusia untuk mengetahui secara jelas suatu pengetahuan yang mendeskripsikan kesempurnaan paradigmanya.

Baca Juga:  Puasa: Membelenggu diri, Membelenggu Setan

Akan tetapi perlu diketahui bahwa kesempurnaan paradigma atau pengetahuan seseorang belum menjadi modal utama kesempurnaan dirinya, seperti yang dialami Ibn Sina di masa muda. Secara teoritis, ia menguasai banyak ilmu pengetahuan, akan tetapi secara praktis Ibn Sina belum menguasai. Murtadha Mutahhari menjelaskan bahwa manusia memiliki dua entitas dalam dirinya, yaitu wujud dzihni (pengetahuan) dan wujud khariji (akhlak). Wujud dzihni berkaitan dengan persepsi manusia terhadap segala sesuatu di realitas. Sedangkan, wujud khariji merupakan perilaku dan tindakan manusia sebagai representasi dari kesempurnaan wujud dzihni. Kesempurnaan wujud dzihni senantiasa mengarahkan manusia untuk berperilaku dan berkehendak baik dan menghindari ragam perilaku yang buruk dalam konteks sosial yang mendeskripsikan kesempurnaan wujud khariji.

Kedua entitas ini senantiasa mengalami korespondensi untuk membimbing manusia menuju sebuah kesempurnaan luar dan dalam pada dirinya yang tidak hanya dirasakan oleh manusia melainkan masyarakat sosial. Murtadha Muthahari menyebutkan, manusia yang telah mencapai kesempurnaan pengetahuan dan akhlak menggambarkan sebuah kesempurnaan holistik atau menyeluruh dalam dirinya. Kesempurnaan holistik dalam diri manusia berbeda dengan kenari yang hanya memberikan kenikmatan dari sisi dalamnya saja, sedangkan kulit kerasnya (sisi luarnya) tidak memberikan manfaat bagi para penikmatnya.

Korespondensi pengetahuan dan akhlak sebagai kesempurnaan holistik, dirujuk oleh Murtadha Muthahhari melalui salah satu magnum opus Ibn Sina berjudul Mabda wa al-Ma’ad, yang menjelaskan bahwa setiap tindakan dan perilaku manusia berasal dari pengetahuan yang diperoleh dari ragam persepsi akal dan pancaindrawi. Persepsi akal dan pancaindrawi akan mempengaruhi sebuah kesadaran dalam diri individu untuk berperilaku baik dan menghindari keburukan di setiap tindakannya. Adapun, individu yang memiliki pengetahuan yang berbanding terbalik dengan akhlak didasari oleh minimnya kesadaran, sehingga senantiasa mengarahkannya pada sebuah kesombongan yang memutuskan hubungannya dengan masyarakat sosial.

Baca Juga:  MASALAH EPISTEMOLOGI ILMU

Dari penjelasan Ibn Sina, dapat diketahui bahwa sesungguhnya manusia senantiasa mengaktualkan pengetahuannya pada perilaku dan tindakannya di tengah masyarakat untuk mencapai sebuah kesempurnaaan holistik (kesempurnaan dzihni dan khariji) dalam dirinya.

Kesempurnaan holistik yang dialami oleh manusia akan mempengaruhi kesederhanaan jiwanya. Sebab, segala perilaku terpuji dan pengetahuan merupakan indikator penghiasan eksistensi jiwa untuk menghapus segala keburukan yang melekat dalam eksistensinya, sehingga jiwa mengalami kesederhanaan atau suci. Imam Khomaini menyebutkan kesederhanaan jiwa akan mengantarkan manusia mengetahui hakikat segala sesuatu di realitas berdasarkan pengetahuannya. Pengetahuan akan menciptakan sebuah kesempurnaan akhlak, sehingga setiap tindakan dan perilaku manusia mencerminkan tindakan-Nya di realitas sebagai salah satu bentuk manifestasi-Nya di realitas.

Sampai di sini, kita dapat memahami bahwa setiap manusia memiliki potensi untuk mencapai kesempurnaan holistik dengan melibatkan kesatuan pengetahuan dan akhlak sebagai proses penyederhanaan jiwa, sebagaimana pesan utama yang ingin disampaikan oleh Murtadha Muthahhari melalui kisah Ibn Sina dan Ibn Miskawaih. Harapnya, kisah ini dapat menjadi refleksi dalam keseharian kita untuk semakin mengaktualkan ilmu pengetahuan melalui tindak dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.

0 Shares:
You May Also Like