Menelusuri Islam Rahmat dalam Nalar Socrates

Oleh: M. Khusnun Niam

Mahasiswa Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta dan Alumni IAIN Pekalongan

Islam merupakan agama yang berbalut akan kasih sayang dan keromantisan. Tidak dapat menafikan esensi agama yang hadir sebagai tonggak keselamatan yang dipercaya para pemeluknya. Islam menjadikan tauhid sebagai esensi fundamental dalam dasar bangunannya. Dua kalimat syahadat menjadi pintu gerbang dalam mengenali Islam, sehingga pendalaman tauhid tidak dapat terlepas dari perihal teks suci dan pemaknaannya melalui nalar untuk menemukan bukti keilmiahannya dalam kritisisasi.

Dewasa kini, problem keberagamaan tidak dapat dipungkiri telah hadir memangsa siapa saja korbannya. Tidak melihat usia, bahkan keyakinannya. Problem ini eksis dengan begitu derasnya bak roket yang meluncur dalam perang tiada habisnya. Persoalan agama dewasa kini cenderung mengarah pada perihal pokok dalam Islam, artinya menjadikan keyakinan sebagai objek problematiknya. Hal tersebut tidak terlepas dari adanya beberapa oknum yang dengan sengaja hendak mengeksiskan dan membawa ajaran agama dengan menghilangkan karakteristiknya sebagai keselamatan.

Dalam Islam, terdapat beberapa kelompok yang terus berseteru, tegang dan memanas ke arah konflik dari mikro bahkan meluas antar wilayah kuasa. Oleh sebab itu, Islam seperti membawa dampak kesengsaraan bagi siapa saja, bahkan sesama pemeluknya. Keselamatan dalam makna Islam (tunduk; menyembah) menjadi profil awal mengenal Islam seolah-olah tidak lagi memiliki integritas kuat untuk memulihkan kondisi yang surut memanas dan menyengsarakan korban.

Kehidupan beragama yang damai seakan hanya terkotak dalam ruang kondisi kelompok. Secara tidak langsung, keberagamaan tidak memberikan pengaruh apa-apa bagi masyarakat sekitar sebagai tetangga bahkan sebangsa. Problem ini telah banyak dikaji oleh para pemerhati sekaligus intelektual dari berbagai asal, baik berangkat dari kepentingan politik hingga dari kesadaran teologis-kritis keberagamaan dewasa kini.

Baca Juga:  Manusia, Agama, & Ketenangan

Berbagai problem yang eksis dalam keberagamaan hingga menjadi konflik antar wilayah tidak lain karena doktrin teologis yang mendaging juga karena kepentingan politik para penguasa yang ingin menguasai wilayah. Kefanatikan memberikan lebih banyak dampak negatif daripada positif jika melihat problem demikian. Meskipun tidak dapat dipungkiri, di balik suatu realita yang terjadi boleh jadi terdapat kepentingan penguasa yang sengaja disembunyikan.

Persoalan demikian hadir sebagai salah satu bentuk gambaran lemahnya penajaman ruang dialektika hingga menimbulkan semua dogma dalam agama dianggap benar sampai akhirnya dimutlakkan oleh individu dalam beragama. Disamping itu, pendalaman agama melalui materi eskatologis (akhirat; surga dan neraka, pahala dan dosa) menjadi daya dukung tersendiri sebagai alat untuk memasuki ruang individu. Perihal ini berkembang pesat dengan merosotnya atau mundurnya budaya ‘mikir sehat’ (dialog, dialektika dan penalaran kritis) melalui literasi yang cukup kokoh, sehingga tidak dapat dipungkiri keberadaan kelompok ini terus bertambah dan eksis terselubung dalam masyarakat.

Berkaitan dengan problematik keberagamaan yang tidak surut sejak dahulu hingga kini, jauh sebelum Islam yang dibawa Rasul Muhammad saw. eksis di Mekkah dan Madinah. Terdapat salah satu filosof Yunani yang menjadi gerbang perubahan objek pemikiran kala itu. Dia adalah Socrates, salah satu filosof yang terkenal di Yunani. Kehadirannya memberikan dampak positif dalam dunia filsafat, terkhusus perihal kemanusiaan. Namun, ironisnya, ia menjadi korban dalam perpolitikan di wilayahnya karena usahanya mengajak kaum muda di sekitar lingkungan daerahnya untuk berdialog dan membebaskan mereka dari kekolotan dan kekakuan para tetua di wilayahnya.

Problema dalam keberagamaan dewasa kini tidak lain dikarenakan terdapatnya kelompok atau golongan yang kaku dan kolot dalam beragama, sehingga tidak jauh beda dengan masa Socrates. Bagi Socrates, kekolotan dan kekakuan dalam berpikir menjadi sumber problem yang tidak logis dan tidak ilmiah, sehingga, suka tidak suka, kelompok ini akan menghalalkan segala cara untuk membenarkan tindakannya dan menghukumi kepada yang menentangnya.

Baca Juga:  Hijrah (11): Tak Kenal Maka Tak Sayang

Pun dalam Islam, terdapat kelompok yang kaku dan kolot dalam beragama, hingga keberagamaan yang seharusnya tidak konservatif menjadi konservatif, tidak ekslusif menjadi ekslusif, bahkan menggunakan jalan konflik lalu menutupinya dengan ayat-ayat suci tentang jihad dan balasan eskatologis. Perihal ini secara tidak langsung memberikan efek buruk, salah satunya ialah berkembang pesatnya kelompok ini dengan keekslusifan keberagamaannya. Kemudian dapat merugikan pihak lain bahkan menyengsarakannya.

Oknum yang mencemari nama Islam dengan berbagai konflik yang dibuatnya tidak lain karena lemahnya nalar teologis kritis. Hal ini di dukung oleh minimnya keadaran berdialektika para generasi muda seperti masa Socrates yang menyebabkan dirinya menjadi korban atas kekakuan dan kekolotan masanya. Akhrinya, terbentuk suatu generasi yang taklid dan memutlakkan kebenaran kelompok. Sehingga, dalam ranah apapun, jika berbeda dengan kelompoknya akan disalahkan, disesatkan, dikafirkan dan bahkan dibunuh.

Socrates dengan metode sokratiknya juga berbagai ajaran dan prinsipnya, secara khusus dapat difungsikan oleh generasi muda Islam. Disamping itu, Islam juga menganjurkan pemeluknya untuk berdialog dalam kerahmatan dengan kesejukan. Bahkan, dalam Islam pun dianjurkan untuk memahami manusia lain seperti kearifan Socrates yang menganjurkan untuk mengenali diri terlebih dahulu kemudian memahami orang lain. Secara logis, manusia dapat memahami orang lain, ketika dirinya memahami dirinya terlebih dahulu.

Berkaitan dengan hal itu, dapat dipahami bahwa antara Socrates dan Islam memiliki problema yang cenderung sama, yakni perihal kekakuan dan kekolotan manusia. Bahkan tujuan dari ajaran dan prinsip Socrates pun memiliki kecenderungan yang sama dengan Islam, yakni membentuk manusia logis, kritis dan tidak kaku melalui diskusi, ngaji dan dialog. Sehingga, secara tidak langsung metode Socrates juga ikut serta mengurangi kelompok yang membawa nama jihad dan perihal eskatologis dalam Islam untuk kepentingan kelompoknya.

Baca Juga:  Memaknai Adam dan Surga dalam Novel Filsafat Dunia Cecilia

Namun, dalam Islam dan pemikiran Socrates terdapat perbedaan yang sangat banyak yakni dalam konteks sumber kebenaran mutlak. Sehingga, tidak menjadi asing ketika menemukan banyak perbedaan yang mencolok. Oleh sebab itu, tulisan ini menjadi unik dan menarik untuk dibaca dan dikaji kembali terkait pemikiran Socrates dan Islam.

Dari tulisan ini, dapat diambil hikmah bersama, bahwa setiap ruangan yang besar di dalamnya memiliki berjuta-juta kotak. Layaknya Socrates, ia merupakan ruang yang besar dan pemikirannya yang tidak dibukukan atau diulas oleh murid-muridnya merupakan berjuta-juta kotak itu. Sebagai manusia yang belajar arif, tidak menjadi kesalahan dan merugi jika kita mengambil sisi baik dari pemikir besar Yunani yang memiliki pengaruh besar dalam filsafat, terkhusus kemanusiaan. Oleh karena itu, mari bersama mulai menggali kembali berbagai pemikiran dengan tujuan menuju Islam rahmat yang mendamaikan juga tidak menyengsarakan.

 

28 Shares:
You May Also Like
Read More

Derita itu Bahagia?

Bil Hamdi Mahasiswa Filsafat Islam STFI Sadra Manusia akan menemui beragam peristiwa dalam perjalanan hidupnya. Kebahagiaan, penderitaan, tawa…
Read More

Makna, Fungsi dan Manfaat Puasa

Raghib al-Ishfahani dalam Mufradāt Alfāzh al-Qur’ān menjelaskan makna asli dari kata puasa (al-shaum/as-shiyām) adalah menahan diri dari sesuatu…
Read More

Alam & Autokritik untuk Kita

Thaharah, sebuah kata yang sangat umum di kalangan umat Islam. Secara bahasa bermakna bersuci. Demikian diterjemahkan oleh masyaikh…
Read More

Kebenaran Bermuka Ganda?

Oleh: Yusuf Mahdi Penikmat Kajian Filsafat Islam dan Tasawuf Saya akan membawa Anda untuk berpikir sejenak. Berbicara mengenai…