Filosofi Tauhid: Sebuah Paradigma Kesetaraan dan Kemerdekaan

Makna Tauhid seringkali ditafsirkan sebagai ajaran normatif, yang sama sekali tidak mempunyai muatan filosofis di dalamnya, sehingga ajaran tersebut terkesan dogmatis dan harus diterima tanpa boleh mentelaah lebih jauh. Hal ini tentu berimplikasi terhadap pemahaman intelektual masyarakat Muslim kebanyakan yang cenderung gagap menghadapi terpaan modernisasi pemikiran Barat. Oleh karenanya, dirasa perlu menjelaskan ajaran-ajaran Islam khususnya bagian yang paling fundamental, yakni tauhid.

Secara filosofis, tauhid sangat multidimensional, artinya tidak hanya memiliki makna tunggal “Iman terhadap satu Tuhan” saja, sebagaimana ajaran monoteism lainnya. Lebih dari itu, tauhid juga memiliki dimensi sosiologis yang bertitik berat pada isu kesetaraan, yang berarti penolakan terhadap segala bentuk feodalistik. Kesetaraan tersebut diterjemahkan melalui nilai-nilai persamaan dalam memperlakukan setiap insan tanpa diskriminatif. “Hai (seluruh) manusia! Sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seseorang laki-laki dan seseorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sungguh yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Mahateliti” (QS. Al-Hujurat [49]: 13).

Ayat tersebut menegaskan bahwa kemuliaan seseorang bukan diraih atas dasar latar belakang yang bersifat determinatif, melainkan melalui capaian-capaian prestasi spiritual dan intelektual. Dengan kata lain, Al-Qur’an secara tegas menolak pola-pola primordaliaisme yang akan berimplikasi pada sikap hegemonistik manusia atas manusia lainnya. Pakem ini diaktualkan oleh Nabi Muhammad saw. sendiri (Sang Utusan), beliau mencoba mendobrak budaya jahiliyah yang penuh dengan rasisme. Kala itu orang dibedakan dari asal-usulnya, kabilahnya, bahkan gender juga turut mempengaruhi strata sosial pada saat itu.

Di Balik Penolakan Tauhid Oleh Para Tiran

Mengapa sepanjang sejarah ajaran tauhid ditolak oleh raja-raja atau penguasa zalim? Pada umumnya para pemikir menerangkan hal ini hanya pada aspek teologis saja tanpa mempertimbangkan aspek lainnya, terutama aspek sosio kultural masyarakat setempat serta dampak ekonominya. Sebagaimana diketahui, ajaran yang dibawa oleh para Nabi selalu berpusar pada pembebasan terhadap perbudakan. Jelas hal ini bertolak belakang dari kehendak penguasa despotik yang cenderung  bertindak eksploitatif terhadap masyarakat dengan segala ancaman dan iming-iming surga. Oleh karenanya, tak jarang para penguasa tersebut mengklaim diri sebagai Tuhan, sebagaimana yang dilakukan oleh Fir’aun dan Namrud, atau paling tidak mengaku sebagai wakil Tuhan di muka bumi yang mesti dipatuhi segala kehendaknya, seperti apa yang dilakukan oleh Abu Jahal, Abu Lahab dan yang lainnya.

Baca Juga:  Menilik Filsafat Cinta Jean Paul Sartre

Dengan klaim-klaim tersebut,  “tuhan-tuhan bertulang” ini seakan mempunyai legitimasi kuat untuk melakukan apa yang mereka kehendaki, termasuk memperbudak masyarakat serta mengeksploitasinya sedemikian rupa. Artinya, membawa-bawa nama Tuhan untuk kepentingan hasrat duniawi merupakan modus purba yang sejak dahulu sudah dilakukan.

Untuk itu, Nabi Muhammad saw. datang dengan ajaran tauhid yang bersifat egaliter, yang di dalamnya memuat nilai-nilai humanistik. Beliau mencoba mendobrak tatanan tersebut yang sudah lama terbentuk. Dari sinilah timbul benturan keras di antara dua ajaran ini. Bagaimana tidak, Muhammad saw. dianggap telah mengganggu hegemoni penguasa Arab Quraisy dan menjadi ancaman nyata bagi perekonomian mereka. Ini bisa terlihat ketika mereka mengajak kompromi dengan menawarkan tahta, harta, dan wanita kepada Nabi agar tidak mengusik ritual penyembahan berhala yang mereka buat untuk meraup harta masyarakat. Namun upaya tersebut gagal karena ditolak mentah-mentah oleh Nabi.

Segera dapat dipahami, mengapa para raja-raja tersebut menolak ajaran tauhid yang dibawa oleh para Nabi. Semata-mata hanya untuk merawat stabilitas kekuasaan dan ekonomi mereka. Karena apabila ajakan tauhid tersebut diterima, maka konsekuensinya ialah kerugian besar. Mereka akan kehilangan legitimasi kekuasaan yang pada akhirnya mempengaruhi pendapatan ekonomi yang sudah menjadi ladangnya sedemikian lama.

Tauhid Memuliakan Manusia

Dari sini, dapat disimpulkan bahwa ajaran tauhid secara inheren dipahami sebagai bentuk sikap menghargai dan menghormati diri sendiri. Ajaran ini menganjurkan untuk tidak tunduk kepada siapapun kecuali kepada Tuhan Yang Maha Esa. Tauhid menolak segala bentuk eksploitasi, agar manusia terbebas dari belenggu ketundukan dan kepasrahan kepada selain Tuhan. Dengan demikian, manusia baru bisa dikatakan sebagai makhluk merdeka karena mampu berjalan secara independen.

Ada suatu kisah menarik ketika seorang Syaikh ditanya saat sehabis melakukan salat, “Wahai Syaikh, mengapa kau seperti mahluk primitif ketika beribadah, dengan meletakan wajahmu di atas tanah, di mana tempat itu selalu diinjak-injak oleh manusia?Syaikh itu menjawab, “Aku melakukan ini tidak pada setiap waktu, dan aku melakukan perbuatan ini hanya kepada Tuhan Pencipta alam ini. Sedangkan di luar ini (shalat), jangankan untuk sujud, menundukkan kepala saja, tak akan pernah kulakukan”.

Dari kisah tersebut terlihat secara jelas bahwa ajaran tauhid bersifat aktif dan progresif. Tak heran bila kita rela memposisikan diri serendah-rendahnya dengan bersujud di atas tanah demi meraih rida Tuhan. Tapi selain kepada Tuhan, tidak akan pernah kita lakukan hal yang demikian. Oleh karenanya, tauhid memaknai kebebasan tidak seperti memberi cek kosong tanpa nominal, tapi lebih mengedepankan arti kemerdekaan manusia yang substantif dan hakiki, bukan kebebasan ala Barat yang sebenarnya membawa kita tunduk kepada hawa nafsu dan gaya mainstrem manusia. Inilah esensi ajaran tauhid yang didengungkan sejak lama oleh para Nabi dan penerusnya.

Baca Juga:  Hijrah (1) : Tentang Muhammad Yang Terusir

Eric Fromh, seorang pakar psikoanalisis modern berpendapat bahwa di setiap diri manusia mempunyai jiwa kultus dan kecenderungan mencintai terhadap sesuatu. Maka seandainya pun tidak ber-Tuhan, ia pasti akan menuhankan sesuatu selain Tuhan. Sebagaimana yang dikatakan Fromh, bahwa setiap manusia tak lepas dari sifat kultus, maka sikap yang paling logis ialah memilih untuk mengkultuskan sesuatu yang jelas-jelas lebih mulia dari diri kita sendiri. Jangan sampai keliru menempatkan sikap kultus kepada sesuatu yang sebenarnya tidak lebih mulia atau bahkan lebih rendah dari diri kita. Tauhid adalah ideologi/teologi pembebasan dan cara sikap menghormati diri sendiri. Seperti apa yang ungkapkan oleh Imam Ali bin Abi Thalib, “Jangan biarkan dirimu menjadi budak orang lain, karena Allah telah menjadikanmu manusia merdeka. Oleh karena itu, jangan jual dirimu demi mendapatkan sesuatu yang tidak abadi”.

Oleh karenanya, sangat disayangkan bila kita melihat Islam hanya sebatas ajaran langit yang sama sekali tidak menyentuh ke persoalan-persoalan partikular di tengah masyarakat. Rasanya tidak mungkin, bila Islam diturunkan oleh Tuhan hanya semata-mata untuk menyembah-Nya tanpa ada tujuan-tujuan mulia lainnya. Islam adalah ideologi kaum tertindas dan rahmat bagi seluruh alam semesta. Untuk itu, mari kita renungkan kata-kata  Ali Syariati:

“Bagi Dia, Tauhid berarti Keesaan” (Oneless)

“Bagi kita, Tauhid berarti kesatuan” (Unity)

“Bagi Dia, Tauhid berarti penghambaan”

“Bagi kita, Tauhid berarti pembebasan” 

“Untuk Dia, Tauhid adalah pemujaan tanpa syarat”

”Untuk kita, Tauhid adalah persamaan tanpa kelas”.

 

12 Shares:
You May Also Like