Tasawuf ala Kierkegaard dan Doa Yang Mesra

Oleh: Mahdi Ruhani

Mahasiswa STFI Sadra Jakarta

Dalam filsafat pembahasan mengenai eksistensi manusia mengundang argumen yang panjang dan membutuhkan perenungan yang bukan main. Salah satunya, tokoh eksistensialis Barat, Soren Kierkeegard menyebutkan bahwa setidaknya ada 3 wilayah eksistensi yang dimiliki oleh manusia, antara lain wilayah esensi, etis dan terakhir wilayah religius. (Thomas Hidya Tjaya: 2018)

Wilayah pertama adalah ketika manusia tidak menjadikan rasio sebagai penengah antara keinginannya dengan dirinya sendiri. Berbeda dengan yang kedua yang menjadikan rasio sebagai batas dari diri dan hasrat. Sementara itu, yang ketiga adalah ketika manusia melihat bahwa relasinya dengan Tuhan adalah apa yang paling penting, sehingga ia menghapus setiap keegoan diri termasuk keinginan mendapatkan pahala dari Tuhan.

Pandangan Kierkegaard ini, boleh saya katakan jika tidak berlebihan, berbanding lurus dengan konsep eksistensi yang dikembangkan oleh Mulla Shadra dan Ibn al-‘Arabi, bahwa manusia secara ontologis adalah tajalli atau tempat penampakan Tuhan. Artinya, seorang manusia tidak memiliki eksistensi mandiri melainkan adalah sesuatu yang berasal dari Tuhan.

Akan tetapi, secara epistemologis tajalli manusia berarti proses mengaktualkan diri sebagai cerminan dari sifat-sifat Tuhan. Mengaktual berarti berbicara proses untuk selalu meningkat. Hal yang sama diungkapkan oleh Kierkeegard tentang mencapai wilayah eksistensi religius adalah dengan menghapus keegoan dari dirinya dan menjadi wajah dari sifat Tuhan di dunia.

Pemahaman bahwa kita bukan sebuah eksistensi yang hakiki dan nir-eksistensi, telah diterima oleh tokoh tasawuf secara umum. Akan tetapi, itu tidak menjadikan kita sekonyong-konyong sebagai makhluk yang tidak memiliki hak memilih dalam kehidupan. Malahan, kita memiliki tanggungjawab besar sebagai makhluk yang memiliki potensi kepada wilayah religius untuk selalu mempertahankan eksistensi tersebut.

Baca Juga:  Belajar Zuhud pada Imam Hasan al-Bashri

Seperti dijelaskan oleh Kierkegaard barusan, wilayah eksistensi pertama adalah wilayah esensi. Wilayah ini merupakan wilayah setiap hewan yang hanya mengikuti hasrat yang bersifat spontanitas (immadiate) kepada pemuasan semata. Maka, seharusnya manusia menjauhi wilayah eksistensi tersebut dengan menjadikan rasionya sebagai batas.

Akan tetapi, pergulatan manusia untuk lepas dari hasrat dan ego bukan perkara mudah. Sementara jika tahap itu tidak dilewati, maka pencapaian pada wilayah religius boleh jadi tidak akan pernah tercapai dan kita tetap terjebak pada eksistensi yang paling rendah. Bahkan menurut teori reinkarnasi, berhentinya kita pada wilayah eksistensi tersebut akan membuat kita bangkit dalam wujud hewan di kehidupan setelah kita mati.

Fakta bahwa manusia adalah makhluk yang lemah memaksanya untuk tidak sombong pada siapa pun. Para penguasa pun jika dia masih berwujud manusia, selalu berdiri pada bingkai kelemahan yang mudah binasa. Sehingga akan selalu ada eksistensi yang lebih kuat untuk dimintai pertolongan dan perlindungan oleh manusia. Dalam teologis, kita mengenalnya sebagai Tuhan Yang Maha Sempurna, hingga Ia suci bahkan dari segala penggambaran kesempurnaan kita yang terbatas.

Relasi antara manusia dengan Tuhan dapat terjalin melalui untaian-untaian doa yang kita panjatkan. Hal itu tak lain karena doa menjadi bahasa paling indah untuk mengungkapkan kerendahan diri kita di hadapan-Nya. Sementara kita ketahui, Tuhan dengan semua sifat jamalliyah-Nya selalu menyambut kita, bak seorang ibu yang mencintai anaknya.

Doa sendiri tidak selalu berarti permintaan atas sebuah barang atau kedudukan, setiap panggilan yang menyeru Diri-Nya merupakan doa, bahkan Syahid Muthahari pernah menyebutkan bahwa doa yang baik adalah ketika kita tidak memanggil Diri-Nya untuk urusan duniawi kita, tetapi murni menunjukkan kerinduan dan kepasrahan kita kepada-Nya.

Baca Juga:  Keutamaan Meminta Maaf

Dan salah satu untaian doa yang paling indah dan kaya makna adalah apa yang keluar dari lisan cucunda Nabi saw. yaitu Ali bin Husain bin Ali as-Sajjad. Berikut saya kutip beberapa syair doa (yang telah diterjemahkan oleh Jalaluddin Rahmat) yang menggambarkan situasi eksistensi manusia yang merasa terjebak dalam lumuran hawa nafsunya dan Tuhan pada kenyataan yang paling tinggi:

Bagaimana mungkin aku menyeru-Mu, padahal aku pendosa?

Bagaimana mungkin aku tidak menyeru-Mu, padahal Engkau Maha Pemberi karunia?

Bagaimana aku bisa bergembira, padahal aku pendosa?

Bagaimana aku berduka, padahal Engkau Maha Pemberi karunia?

Bagaimana aku menyeru-Mu, padahal aku, aku?

Bagaimana aku tidak menyeru-Mu, padahal Engkau, Engkau?

Penyebutan kata ‘aku’ sebagai penjelas dari ‘aku’ ingin langsung menunjukkan kepada diri sendiri yang penuh dosa, yang masih lemah dan terjebak dalam eksistensi esensi, namun sekaligus risau dan ingin menuju kepada pelepasan eksistensi itu. Menjelaskan batu dengan menunjuk batu selalu lebih definitif dan konkret ketimbang menggunakan jenus dan diferensia. Begitu pun dengan menjelaskan Tuhan, ‘Engkau’ dengan menunjuk langsung kepada ‘Engkau’, berarti tidak ada yang lain selain Dia.

 

Doa tersebut akhirnya mempertegas posisi manusia sebagai eksistensi yang sesungguhnya sedang berjuang untuk menuju Tuhan mereka. Kelemahan mereka meniscayakan hubungan butuh terus-menerus. Doa kemudian menjadi senjata manusia untuk mengikis egoisme di dalam dirinya, meskipun banyak manusia tidak mengetahui hal itu. Menyadari diri sebagai eksistensi yang selalu bergantung membantu memperbaiki diri agar tidak sewenang-wenang dan merusak selainnya.

 

Sumber Bacaan

  1. Thomas Hidya Tjaya, Kierkeegaard dan Pergaulan Menjadi Diri Sendiri, (Jakarta: KPG, 2018)
  2. Ali bin Husain bin Ali as-Sajjad, Shahifah Sajjadiyyah: Gita Suci Keluarga Nabi, diterjemahkan oleh Jalaluddin Rahmat, (Bandung: Muthahari Press, 2003)
Baca Juga:  Syirik

0 Shares:
You May Also Like
Read More

Syirik

Oleh: Faqry Fakhry Muhib di Jalan Menuju Mahbub “Allah mengampuni semua dosa kecuali syirik” (QS. an-Nisa [4]: 48),…