Abu Thalib al-Makki: Tujuan Puasa itu Menjauhi Dosa, Bukan Lapar dan Haus!

Syekh Abu Thalib Muhammad bin Ali bin ‘Athiyyah al-Makki al-Ḫaritsi al-‘Ajami (w. 386 H/996 M)—selanjutnya disebut Abu Thalib al-Makki—merupakan seorang sufi yang memiliki ketersambungan sanad keilmuan yang otoritatif dengan para maha guru sufi awal. Ia berguru kepada Muhammad bin Salim, Muhammad bin Salim berguru kepada Sahal al-Tustari sosok sufi senior yang menjadi soko guru para sufi setelahnya. Dengan demikian, Abu Thalib al-Makki merupakan pelaku amaliah tasawuf juga sebagai teoretikus tasawuf yang menuangkan ajaran dan gagasannya dalam bentuk karya tulis.

Qūt al-Qulūb fī Mu’āmalat al-Maẖbūb (Hidangan Hati dalam Berhubungan dengan Sang Kekasih (Allah)) adalah salah satu warisan pemikirannya yang bisa kita akses. Kitab ini terdiri atas tiga jilid yang mengupas 48 bab/pasal ritus tasawuf paktis untuk para murid yang hendak menuju ke maqām (stasiun spiritual) tauhid. Dibahas seputar amaliah ibadah praktis semisal; zikir dan wirid-wirid untuk waktu malam dan siang hari, muhasabah diri, mengenal diri, salat, zakat, puasa, haji, cara membangun rumah tangga, cara mencari rezeki yang halal dan baik, membedah hal-hal yang halal, haram dan subhat dsb. Semua itu disajikan, dijelaskan secara komprehensif dan dibumbui dengan kekayaan analisis perspektif sufistik terkait tema-tema pembahasan tersebut, sehingga kitab ini bisa disebut sebagai kitab fikih yang beraroma sufistik. Corak penulisan dengan menggabungkan antara fikih dan tasawuf yang dipromosikan oleh Abu Thalib al-Makki ini kemudian dilanjutkan oleh Imam al-Ghazali dalam menyusun Ihyā’. Tidak hanya melanjutkan, Imam al-Ghazali bahkan terpengaruhi oleh kedasyatan isi dan sistematika dari kitab Qūt al-Qulūb.

Dalam kitab Qūt al-Qulūb pada fasal ke 22, Abu Thalib al-Makki mengulas puasa dengan menyandingkan firman Allah:

Baca Juga:  POTRET SUFISME SEBAGAI PSIKOTERAPI

وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ…

“Memohonlah pertolongan (kepada Allah swt.) dengan sabar dan shalat…” (QS. Al-Baqarah [2]: 45).

Menurut Abu Thalib al-Makki, sabar dalam ayat tersebut bermakna puasa (al-shaum). Dikatakan demikian, karena Rasulullah saw. menamakan Ramadhan sebagai bulan kesabaran (syahr al-shabr). Nabi juga bersabda, “Sabar itu setengah dari keimanan, dan puasa itu adalah setengah dari kesabaran”. Atas dasar itu, ayat tersebut ditafsirkan oleh Al-Makki dengan “Memohonlah pertolongan (kepada Allah swt.) dengan (mengerjakan) puasa dan shalat”.

Di ayat lain, Al-Makki juga menafsirkan as-shābirūn (orang-orang yang sabar) bermakna al-shāimūn (orang-orang yang menjalankan puasa) seperti bunyi ayat:  

اِنَّمَا يُوَفَّى الصّٰبِرُوْنَ اَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Ketahuilah hanya orang-orang sabar (yakni meraka yang sedang berpuasa) disempurnakan pahala mereka tanpa perhitungan” (QS. Az-Zumar [39]: 10).

Dari penjelasan di atas, Abu Thalib Al-Makki menekankan bahwa puasa itu memiliki hubungan yang erat dengan kesabaran. Kenapa sabar itu amat ditekankan oleh Al-Makki? Besar kemungkinan salah satu tujuannya ialah lewat ibadah puasa umat Muslim dididik oleh Allah agar memiliki sikap dan mental sabar dalam menjalani berbagai aktivitas kehidupan. Sebab, sabar itu dibutuhkan kapan pun dan di mana pun serta sabar harus merasuk pada lintas umur—dewasa, anak-anak, laki-laki, perempuan, kaya, miskin dll—semuanya membutuhkan kesabaran. Karena apa yang dialami seseorang dalam hidup itu tidak keluar dari dua kemungkinan; Pertama, mendapatkan sesuatu yang sesuai dengan keinginan dan kehendaknya. Kedua, mendapatkan hal yang tidak sesuai dengan keinginan dan kehendaknya. Dan puasa melatih seseorang untuk bersikap sabar.

Sabar juga merupakan kunci kesuksesan manusia. Allah berfirman, “Demi waktu! sesungguhnya (semua) manusia (yang mukallaf yakni yang mendapat beban perintah keagamaan) benar-benar dalam (wadah) kerugian (dan kebinasaan besar). Kecuali orang-orang yang beriman mengerjakan amal saleh serta saling berwasiat tentang kebenaran dan saling berwasiat tentang kesabaran” (QS. Al-‘Asr [103]:1-3).

Baca Juga:  PANDANGAN-DUNIA AGAMA DAN TUHAN YANG TOTALITARIANISTIK

Surat tersebut setelah menjelaskan pelbagai kebaikan diakhiri dengan kesabaran. Artinya dalam menjalankan keimanan perlu kesabaran, dalam beramal saleh perlu kesabaran, dalam nasehat saling menasehati pun demikian. Tanpa kesabaran kita bisa terjerumus ke dalam wadah kerugian. Dengan demikian, sabar itu ialah kunci kesuksesan dan kesempurnaan.

Lebih rinci lagi pembahasan puasa juga bisa ditemukan di fasal 33 kitab Qūt al-Qulūb. Di sini al-Makki lebih banyak menjelaskan tujuan puasa dan hal-hal yang harus dijaga oleh orang yang sedang berpuasa seperti; puasa itu selain menahan makan dan minum juga harus mengontrol/menundukkan mata dari memandang hal-hal yang tidak baik, memproteksi telinga dari mendengarkan hal-hal yang haram, menjaga lisan dari berbicara yang tidak baik dsb. Karena bagi orang yang khusus batalnya puasa itu bukan karena makan dan minum semata, tapi disebabkan oleh berbuat bohong, menceritakan keburukan orang, menyebar berita hoaks, melihat sesuatu dengan mata syahwat dsb.

Karena itu, Abu Thalib al-Makki dengan tegas menutup pembahasan puasa dalam kitab Qūt al-Qulūb dengan menyatakan:

والمراد من الصيام مجانبة الآثام، لا الجوع والعطش, كما ذكرنا من أمر الصلاة أن المراد بها الإنتهاء عن الفحشاء والمنكر. كما قال رسول الله صلي الله عليه وسلم: من لم يترك قول الزور والعمل به فليس لله حاجة في أن يدع طعامه وشرابه

“Tujuan puasa itu menjauhi dosa-dosa bukan (sekedar menahan) lapar dan dahaga, sebagaimana telah disebutkan kepada kita yakni tujuan diperintahkan shalat itu untuk mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Rasulullah saw. bersabda: ‘Barangsiapa yang tidak meninggalkan ujaran kebohongan (hoaks) dan mengamalkannya, maka Allah tidak membutuhkan (usahanya) dalam meninggalkan makan dan minumnya”.

Semoga Allah membimbing dan memberikan taufik kepada kita semua untuk dapat merasakan kenikmatan hakikat berpuasa, sebagaimana yang dirasakan oleh para kekasih-Nya.

Baca Juga:  Manusia, Agama, & Ketenangan

Sumber Bacaan:

Abu Thalib al-Makki, Qūt al-Qulūb fī Mu’āmalat al-Maẖbūb, jilid 1. Ditaẖqīq oleh Maẖmūd Ibrāhīm al-Ridhwāni.  Qāhirah, Maktabah al-Tsaqāfah al-Dīniyyah, 2018.

Abu Thalib al-Makki, Qūt al-Qulūb fī Mu’āmalat al-Maẖbūb, jilid 2. Ditaẖqīq oleh Maẖmūd Ibrāhīm al-Ridhwāni.  Qāhirah, Maktabah al-Tsaqāfah al-Dīniyyah, 2018.

Kautsar Azhari Noer (Ed), Warisan Agung Tasawuf: Mengenal Karya-Karya Besar Para Sufi. Jakarta: Sadra Press, 2015.

Al-Taftazani, Madkhal ilā al-Tashawwuf al-Islāmī. Kairo: Dār al-Tsaqāfah li al-Thibā’ah wa al-Nasyr, 1979.

1 Shares:
You May Also Like