Polemik di Balik Nama Filsafat Islam

Sebagaimana lahirnya ilmu-ilmu pada umumnya, filsafat Islam juga lahir dalam pergumulan dan pergulatan sejarah panjang. Dalam perkembangannya, nama filsafat Islam juga mengalami perubahan dan perumusan ulang di kalangan para peminat dan intelektual.

Tentu, itu semua tak lain dan tak bukan, karena filsafat Islam bukanlah ilmu yang berdiri sendiri. Ia akan selalu bergumul dan bergulat dengan banyak faktor yang mempengaruhi. Bahkan, terkadang menjadi polemik yang berkepanjangan, di antara para pengkaji dan peminatnya.

Misalnya saja, penggunaan istilah term nama “filsafat Islam” sebagai disiplin keilmuan, ternyata menjadi salah satu topik yang pernah hangat dan menjadi perdebatan di kalangan para sarjana dan intelektual modern.

Malahan sebagian intelektual ada yang meragukan keautentikan filsafat Islam, karena di dalamnya ditemukan adanya pengaruh atau “islamisasi” ilmu pengetahuan dari transmisi penerjemahan pada masa khilafah al-Makmun (w. 218 H) dengan Bait al-Hikmah di Bagdad dari buku-buku Yunani, India, Persia, Suryani, dan Ibrani ke dalam bahasa Arab yang sangat kental di dalam kajiannya.

Lalu kemundian, muncul pertanyaan yang sering kali diajukan kepermukaan oleh sebagian kalangan, dan termasuk mahasiswa di program studi Filsafat Islam: apakah filsafat Islam itu benar-benar ada? Jika filsafat Islam itu ada, apa karakteristik yang membedakannya dari filsafat pada umumnya? Serta kenapa kajian filsafat Islam tak begitu berkembang sampai hari ini, dan kalah populer dengan kajian filsafat Barat?

Polemik ini, sebenarnya sudah banyak dari kalangan intelektual dan peminat kajian filsafat Islam yang berusaha menjawabnya dengan melahirkan berbagai karya. Akan tetapi, filsafat Islam sebagai paradigma ilmu pengetahuan akan sangat sulit untuk mengatakan tak dipengaruhi kebudayaan ilmu pengetahuan lainnya.

Jostein Garder, dalam bukunya Dunia Sophie (Mizan, 1998), menyatakan bahwa filsafat yang kita kenal hingga saat ini merupakan filsafat Yunani-Alexander dalam bingkai baju Arab yang memiliki peran besar sebagai penyalur warisan filsafat Yunani Kuno pada Barat abad Pertengahan hingga saat ini.

Baca Juga:  Konsep Etika Sufistik Al-Ghazali

Polemik lain yang muncul terkait dengan adanya embel-embel kata “Islam” dalam term filsafat Islam. Dengan demikian, sebagian kalangan masih dan semakin dengan tegas mempertanyakan keautentikkan filsafat Islam. Sebab pada satu sesi mengingat sumber inspirasi keilmuan filsafat Islam tak hanya berasal dari Al-Qur’an dan Hadis sebagai sumber utama ilmu-ilmu keislaman. Akan tetapi pada sesi yang lain juga mengambil dari rasionalitas filsafat Yunani, Persia dan Ibrani serta keilmuan lainya.

Oleh karena itu, sebagian intelektual Islam menggunakan istilah “filsafat Islam”, dan ada yang menggunakan ‘filsafat Arab”, dan bahkan ada yang menggunakan “Filsafat Muslim” dalam karya-karya ditekuni. Misalnya, di antara penulis yang sering kali kita jumpai memakai istilah filsafat Islam ada Ahmad Fuad al-Ahwani dengan bukunya Al-Falsafah al-Islamiyyah (1988), T.J. De Boer, The History of Philosophy in Islam (1866) dan Henry Corbin dalam History of Islamic Philosophy (1993).

Dari kalangan intelektual Islam seperti, Seyyed Hossein Nasr dan Oliver Leaman, dengan bukunya, History of Islamic Philosophy (1996), dan Mustafa Abdul Raziq yang berjudul Tamhid li Tarikh al-Falsafah al-Islamiyyah (1966). Sedangkan di antara penulis dan intelektual yang sering kali memakai istilah filsafat Arab ada Emile Brehier dengan bukunya The History of Philosophy (1963), Sementara M.M Sharif dalam History of Muslim Philosophy (1963) menggunakan istilah filsafat Muslim.

Faktanya, penggunaan istilah “filsafat Islam” sebagaimana yang saat ini menjadi program studi di beberapa perguruan tinggi di Indonesia oleh para intelektual selalu merujuk pada argumentasi bahwa filsafat yang tumbuh dan berkembang di negeri-negeri Arab pada rentang sejarah dan kebudayaan Islam tanpa melihat agama dan bahasa yang digunakan.

Pengunaan istilah “filsafat Arab” didasarkan pada argumentasi logis bahwa para filsuf yang dikenal hingga saat ini dalam kajian filsafat Islam adalah hidup dan menentap di Semananjung Arab dan berbahasa Arab sebagai pengantar di berbagai literatur.

Baca Juga:  Dari Tasawuf Teoritis Menjadi Tasawuf Praktis: Sebuah Refleksi Daras Buku Dari Allah Menuju Allah

Tentu, di samping kenyataan lain bahwa filsuf awal berasal dari suku kawasan Arab dan karya-karya filosofis yang dihasilkan bukan dalam bahasa Arab, melainkan bahasa Persia. Sedangkan penggunaan istilah filsafat Muslim didasarkan pada pertimbangan rasional bahwa para filsuf yang melakukan kegiatan berfilsafat adalah orang-orang yang beragama Islam.

Pada dasarnya kalau kita mau mengacu pada istilah filsafat atau al-Falsafah dalam struktur asli bahasa Arab tak didapatkan sebagai bahasa keilmuan Islam. Kata ini oleh kalangan intelektual masih diyakini ada dalam perbendaharaan kata Arab melalui usaha menerjemahan dari teks-teks Yunani Kuno di sekitar abad ke-8 dan 9 M yaitu Philosophia. Padanan istilah ini sama dengan kata hikmah.

Dalam pandangan Seyyed Hossein Nasr, perdebatan tentang penggunaan istilah hikmah atau falsafah telah menjadi topik hangat sejak dikenalnya istilah ini dalam pemikiran dan keilmuan Islam. Dalam konteks ini, pendefinisian filsafat Islam bisa merujuk pada akar kata masing-masing, yaitu kata filsafat dan Islam. Filsafat berarti kegiatan berpikir bebas, radikal dan berada dalam dataran makna.

Bebas dalam artian tema apapun boleh dikaji dan tergantung pada pilihan dan kesanggupan orang yang hendak mengkajinya. Radikal diartikan mendalam dan sampai ke akar masalah. Berpikir dalam tahap makna berarti kajiannya dilakukan dalam rangka mencari hakikat dari sesuatu.

Sebagaimana yang kita ketahui, kata Islam berarti penyerahan diri, ketundukan, dan keselamatan. Kata Islam dalam konteks ini bisa jadi merujuk pada struktur peradaban Islam yang telah lahir dan berkembang sejak 14 abad yang lalu sampai saat ini.

Oleh sebab itu, jika dua pengertian ini digabungkan, maka filsafat Islam berarti berpikir bebas dan radikal yang berkembang dalam peradaban Islam dengan tak menigasikan sumber-sumber ajaran Islam sebagai dasarnya.

Baca Juga:  Membaca Kunci Peradaban Intelektual, Moral dan Spiritual

Dengan demikian, maka tak mengherankan jika di dalam kajian filsafat Islam saat ini terdapat juga kajian filsafat sejarah, filsafat bahasa, filsafat etika, epistemologi, estetika, metafisika, filsafat politik dan filsafat sains.

Perkembangan topik dan tema kajian ini, bisa jadi sebagai akibat dari pengaruh lingkungan, politik, seperti tuntutan untuk mengetahui suatu kebenaran, dan tuntutan untuk mengikuti perkembangan zaman yang terus bergerak dengan pesat.

3 Shares:
You May Also Like