Pemuda Profetik

Oleh: Himran

Alumni Jurusan Sosiologi Universitas Tadulako Palu

Sedikit mencurahkan refleksi pemikiran berkaitan dengan momentum  hari kelahiran sosok penghulu manusia sejagat, Nabi Muhammad saw. Sebagai suluh peradaban manusia. Sembari merengkuh saripati keteladanan yang mungkin bisa menjadi cermin diri bagi penulis dan pemuda masa kini dalam bingkai falsafah pergerakan kenabian.

Memahami sosok manusia besar atau menjadi manusia ideal hampir tak luput dari benak kita, bahkan mungkin terlepas dari segenap penilaian yang dianggap utopis. Kita tak bisa menepis beberapa pengusung teori sosial atau para filsuf banyak menguraikan ihwal figur ideal yang diharapkan atau telah memainkan peran besar untuk perubahan sosial dalam sejarah peradaban manusia.  Sebut saja, Nietzsche dengan teori manusia super (ubermans), Thomas Carlyle  dengan teori manusia besarnya, Antonio Gramsci dengan  intelektual organik atau Ali Syariati dengan intelektual yang tercerahkan (rausyanfikr). Secara sosiologis pun, tak tanggung-tangung secara implisit kerap sebagian orang mudah menirukan  atau termotivasi untuk menjadi orang-orang yang telah sukses di bidangnya.

Kita tahu, tak ada sosok manusia yang lebih agung dari Rasul saw. dalam Islam. Sehingga, dalam Al-Qur’an dikatakan terdapat suri taudalan tercermin dari kepribadiannya (QS Al-Ahzab Ayat 21). Karena personalitasnya sebagai sosok manusia sempurna (insan kamil) yang memanifestasikan sifat-sifat ilahiah dalam segenap aktivitasnya. Sebagaimana dalam mengemban misi ilahi untuk membangun  nilai-nilai universalitas Islam serta fondasi keadilan walau zaman yang tak menghendaki. Pesan-pesan ilahiah yang tak lain dengan upaya pembimbingan multidimensi guna mengaktualisasikan potensi dalam jiwa manusia.  Ini tentunya tak lain sebagai upaya untuk menjaga esensi kemanusiaan dan spirit progresifitas yang bertumpu pada asas realisme instingtif.

Kita paham dan sadar setiap dari kita memiliki potensi yang sama untuk berubah sehingga dapat mengaktualisasikan segenap capaian intelektual atau spiritual dalam perjalanan kehidupan. Tentunya capaian tersebut dibangun dengan ikhtiar yang kuat untuk terus menempa jiwa dengan  jalan penghambaan. Jalan penghamban di sini adalah jalan penyucian jiwa, tentu ditopang dengan basis pengetahuan guna mendidik jiwa, sehingga bisa mencapai kadar ketundukkan akal dan hati yang diharapkan beroleh pancaran pengetahuan yang termanifestasi dalam kenyataan hidup. Dengan pemahaman seperti itu, tak lain jalan agama justru membuka optimisme bagi masa depan peradaban dan progresifitas manusia.

Baca Juga:  Krisis Kosmologi dan Tawaran Ecotheologi Islam

Budayawan sekaligus cendekiawan Muslim, Kuntowijoyo dalam Paradigma Profetik-nya, mencoba mengelaborasi nilai-nilai universal profetik (kenabian). Setidaknya disebutkan ada tiga misi profetik yakni, humanisasi, liberasi, dan transendensi. Prinsip humanisasi atau kemanusiaan dalam pergerakan kenabian merupakan pesan untuk senantiasa memanusiakan orang lain,  membela  hak-hak kemanusiaan merupakan pergerakan yang membuka jalan bagi realisasi dari melepaskan ego diri yang kerap menghambat orientasi dalam mengemban misinya hingga menjadi ego universal. Artinya, bahwa universalitas misi kenabian justru tidak spesifik untuk golongan atau keluarga  tertentu melainkan pesan inklusifitas untuk semua manusia. Yakni, mengaktualisasikan  nilai-nilai kemanusiaan dalam prinsip moral kehidupan bersama.  Langkah itu ditempuh tidak lain mencerminkan ruh perjuangan kenabian  untuk menunjukkan bahwa Islam mendorong manusia tetap bergerak sesuai dengan koridor kemanusiaannya.

Pun dalam misi liberasi, yakni misi pembebasan dari belenggu dogmatis atau penindasan yang mengabaikan hak-hak orang lain baik dari personal maupun dari struktur yang menindas. Atau dalam doktrin agama disebutkan dengan anjuran melakukan perbuatan baik dan menjauhi perbuatan buruk (amar makruf dan nahi mungkar). Fakta sosial kemiskinan,  serta perbuatan korup  yang masih menjadi problem sosial masyarakat kita semestinya diupayakan solusi guna mencapai kemaslahatan umat. Kontektualisasi pergerakan dari spirit liberasi menumbuhkan kepekaan sosial yang justru terpahami melalui kesadaran kritis yang mengawali guna memutuskan problem praktis di medan sosial. Sebagai  landasan dari sebuah aksi sosial upaya pembebasan di sini tentu secara fundamental telah diletakkan pada daya daya persepsi yang terbebas dari sesat fikir yang menjebak manusia dalam mengorientasikan tindakannya. Sisi lain menurut penulis, juga berupaya untuk menempuh jalan spiritual dengan menjaga kebersihan jiwa (tazkiyah an-nafs).

Lebih lanjut, misi transendensi yakni misi untuk mentransendensikan kebudayaan atau melahirkan sosok intelektual dengan visi tauhid. Melalui pengetahuan ilahiah, pesan wahyu tak hanya mengorientasikan arah hidup manusia justru mengangkat derajat manusia untuk diantarkan pada tujuan penciptaannya yakni sebagai sosok khalifah  atau manusia sempurna.  Begitupun dalam konteks kebudayaan atau pengetahuan manusia sejatinya berupaya mendialogkan antara kebudayaan dan dimensi ilahiah, sehingga atmsofer pengetahuan atau kebudayaan manusia merefleksikan pesan-pesan ilahiah. Atau terhindar dari sekularisasi kebudayaan. Sehingga adanya integrasi antara dimensi spiritualitas dalam pengetahuan kita.

Baca Juga:  Kenapa Harus Bertasawuf, Kenapa Tak Berakhlak Saja?

Tentu, tanpa berupaya memaksakan diri. Refleksi ini hendak menguraikan setidaknya  untuk para pemuda yang sadar akan posisi dan  tanggung jawab sosialnya senantiasa mengambil peran guna megorientasikan masa depan kemanusiaan tetap dalam jalur kemaslahatan. Apalagi modalitas daya yang begitu kuat dengan spirit yang teguh dalam meraih impiannya masih dimiliki oleh pemuda kita. Juga diharapkan turut andil dan berperan aktif dalam upaya menyerap dimensi ilahiah dalam paradigma profetik guna mengejewantahkan dalam keseharian hidup kita. Minimal mengorientasikan jiwa pemuda profetik secara dini. Inilah esensi jiwa pemuda profetik, yakni jiwa pemuda yang menyerap spirit kenabian sebagaimana dalam misi humanisasi (kemanusiaan), liberasi (pembebasan) dan transendensi.

Narasi ini juga berupaya menghindari lahirnya mental pemuda yang terjebak dalam kutub ekstrem, sehingga kerap mengabaikan perjuangan sosial  dan lebih condong ke spiritualitas negatif. Sehingga menegasi dunia dan lingkungan sekitarnya dan fokus meningkatkan amalan ibadahnya yang akan mengantarkan ia menjadi sosok yang ekslusif. Di satu sisi,  kita juga menghindari mental yang memisahkan kehidupan keseharian dengan wilayah spiritualitas agama. Dengan kata lain, pemuda profetik tak melihat dikotomi antara wilayah agama dan kehidupannya.

Di sisi yang lain, tulisan ini berupaya menyambung asa, rasa, dan kesadaran kita untuk senantiasa terjaga dalam ikhtiar membangun kelayakan jiwa sebagai manusia yang berkhidmat kepada Tuhan di jalan kemanusiaan.  Menutup tulisan ini sebagaimana pesan Rasul saw. setelah kembali dari perang Badar, “Kita kembali dari perang kecil (pertempuran fisik) ke perang besar yakni memerang hawa nafsu (ego/diri sendiri)”.  Selamat membangun kelayakan diri. Semoga kita semua mendapatkan bimbingan dan syafaat dari Rasulullah saw. kelak di Hari Kemudian.

 

20 Shares:
You May Also Like
Read More

Apa itu Filsafat Harmonisasi?

Sebagai sebuah disiplin ilmu, filsafat memiliki keistimewaan dibandingkan dengan disiplin ilmu yang lainnya. Keistimewaan yang dimiliki filsafat disebabkan…