KETIKA SEORANG SUFI JATUH CINTA

Para kaum sufi tentu juga seorang manusia. Mereka memiliki rasa dan cinta sebagaimana manusia pada umumnya. Sebagai bukti bahwa seorang sufi juga bisa jatuh cinta adalah kisah Nabi Yusuf as. Itulah kisah cinta yang diabadikan dalam Al-Qur’an sebagai teladan bagi umat manusia. Bagaimana tidak, Nabi Yusuf punya segala sarana dan pendukung untuk berbuat maksiat dengan Zulaikha, namu beliau lari menjauh darinya. Kisah tersebut menggambarkan bagaimana tingkah seorang sufi jika terjerat asmara.

Seorang yang sedang jatuh cinta, berpotensi berbuat maksiat lebih besar. Dia menghalalkan segala cara untuk selalu bersama dengan orang yang dia cintai. Terkecuali para sufi, mereka punya daya tahan kuat untuk berbuat kemaksiatan saat terjerat asamara.

Salah satu kisah percintaan seorang sufi adalah kisah Abdurrahman bin Abi Ammar, sebagaimana yang dikisahkan oleh Ibnu al-Jauzi dalam Akhbarun-Nisa’. Abdurrahman sendiri merupakan salah satu tabi’in di Makkah yang terkenal ahli ibadah. Suatu ketika dia jatuh cinta pada Sulamah az-Zarqa’, sahaya dari Sahal bin Abdurrahman bin Auf.

Suatu ketika Sulamah menemui Abdurrahman untuk menyatakan cintanya juga.

“Ingin sekali rasanya menempelkan bibirku pada bibirmu,” kata Sulamah pada kesempatan itu.

“Demi Allah, akun pun juga menginginkan itu.”

“Lalu, kenapa tidak engkau lakukan?”

“Celakalah engkau. Aku mendengar Allah swt. berfirman:

الْأَخِلَّاءُ يَوْمَئِذٍ بَعْضُهُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ إِلَّا الْمُتَّقِينَ 

Teman-teman akrab pada hari itu sebagainnya menjadi musuh bagi sebagian yang lain kecuali orang-orang yang bertakwa. (QS az-Zukhruf [43]: 67)

“Aku tidak ingin persahabatan kita di dunia justru mengakibatkan permusuhan kita di akhirat,” lanjut Abdurrahman.

Lalu, dia bergegas pergi meninggalkan Sulamah, seraya menangis menahan ombak asmara di hatinya. Abdurrahman kembali ke dunianya yang sunyi dan berusaha menghilangkan bayang-bayang Sulamah. Dia kembali fokus kepada ibadahnya.

Baca Juga:  Tasawuf, Toleransi, dan Perdamaian Indonesia

Abdurrahman telah memberikan teladan yang cukup luar biasa dalam hal kekuatannya menahan diri dari godaan asmara yang telah menguasai hatinya. Dan dia telah berupaya menggiring rasa cintanya bukan hanya di dunia. Tapi dia juga berupaya menggiring cintanya sampai ke akhirat.

Hingga akhirnya, dia sadar bahwa asmara tidak bisa dibiarkan tumbu jika tidak langsung dilanjutkan dengan pernikahan. Maka, satu-satunya jalan untuk selamat adalah dengan menjauhkan diri meskipun harus berperang melawan hatinya sendiri.

Kita tahu kisah legendaris cinta, yakni Qais si gila. Beberapa tahun lamanya dia menahan rasa cintanya yang sangat besar pada Laila untuk tidak terjerumus dalam kemaksiatan sampai keduanya mati karena cinta. Hingga akhirnya menurut satu riwayat Qais dan Laila berhasil bersatu di akirat.

Al-Mubarrid, seorang ulama besar dibidang ilmu nahwu pada masa Abbasiyah, bercerita bahwa di Kufah pernah ada seorang pemuda yang ahli ibadah dan mujahadah (tirakat). Suatu ketika dia bertamu ke sebuah desa. Syahdan, dia melihat seorang gadis yang sangat cantik. Dia jatuh cinta, sampai seperti gila dan kehilangan akal sehatnya. Si gadis tersebut akhirnya merasa iba dan bersimpati kepadanya. Tanpa terasa, dia pun akirnya jatuh cinta.

Si pemuda memberanikan diri berkunjung ke rumah gadis itu untuk meminangnya. Tapi apa boleh buat, sang ayah menolak pinangan tersebut karena dia berencana menjodohkan putrinya itu dengan sepupunya. Penolakan sang ayah tentu saja menyisakan suatu yang teramat pahit bagi mereka berdua.

Akhirnya, suatu ketika, si gadis memberanikan diri untuk bertindak  nekat. Dia mengutus orang untuk mendatangi pemuda itu dan menyampaikan pesan: “Aku mendengar engkau sangat mencintaiku. Begitu pula aku. Datanglah padaku sekarang, atau aku yang akan datang kepadamu.”

Baca Juga:  Mencoba Meraba Makna Batin Ayat Kursi

Pemuda itu menjawab, “Tidak ada yang kupilih.” Dia kemudian membaca ayat:

قُلْ إِنِّي أَخَافُ إِنْ عَصَيْتُ رَبِّي عَذَابَ يَوْمٍ عَظِيمٍ

Katakanlah: “Sesungguhnya aku takut azab hari yang besar (Hari Kiamat(, jika aku mendurakai Tuhanku” (QS. Al-An’am [6]: 15).

Ketika si gadis mendengar jawaban pemuda tersebut, dia bergumam, “Dalam keadaan terlilit asmara, dia masih takut kepada Tuhannya. Demi Allah, semua orang memiliki kemampuan yang sama untuk melakukan hal ini. Kalau dia bisa, seharusnya aku juga bisa.”

Semenjak itu, gadis tersebut memutuskan untuk meninggalkan segala kesenangan duniawi dan dia menghabiskan seluruh waktunya untuk ibadah. Dia begitu terinspirasi dengan kesucian cinta dari pemuda tersebut. Singkat cerita, gadis itu akhirnya jatuh sakit karena menahan asmara, dan tak lama kemudian meninggal dunia.

Si pemuda berziarah dan menangis di atas kuburan gadis itu. Syahdan, pada malam harinya dia bermimpi beremu dengannya. Dia datang dengan wajah berseri-seri dan memakai gaun yang sangat indah.

“Bagaimana keadaanmu sekarang?” tanya si pemuda.

Gadis itu menjawab dengan menggubah sebuah syair:

نعم المحبة يا سؤلي محبتكم……. حب يقود إلى خير وإحسان

Cinta terbaik adalah cinta yang ada padamu……. yaitu, cinta yang menuntunku pada kebaikan dan kemuliaan.

Kisah cinta sufi tadi sangat penting untuk kita jadikan suri tauladan. Bagaimana bisa mereka melawan hatinya sendiri demi tidak terjatuh ke lubang kemaksiatan. Semoga kita bisa meneladaninya.

1 Shares:
You May Also Like