Agama, Cinta Tuhan, dan Nestapa Manusia Modern

Hari ini kita sering diasosiasikan sebagai manusia modern. Status ini tak hanya berlaku bagi kaum kota saja. Bagi penduduk desa, mereka tak kalah modernnya dengan Anda yang di kota. Semua gawai dan teknologi paling baru, mereka juga mengenal dan menggunakannya. Berkah revolusi teknologi informasi, memang. Dan, tak jarang, semua modernitas teknis ini membentuk cara pandang baru bagi manusia penggunanya.

Di antara cara pandang tersebut adalah dunia yang dilihat sebagai arena kompetisi. Perspektif ini tidak benar-benar baru. Hanya saja, cepatnya perubahan dalam bidang teknologi, informasi, dan aplikasi, turut menantang adrenalin manusia—pada umumnya—untuk juga berlomba jangan sampai ketinggalan membeli, menggunakan, dan menguasai semua yang baru.

Barangkali Anda sudah bisa menebak ke mana tulisan saya ini akan bermuara. Ya, betul sekali. Dunia yang dipandang sebagai arena kompetisi ini telah membuat manusia teralienasi dari “hakikat” dirinya sendiri. Anda mengejar-ngejar sesuatu—sebut saja prestasi, gaji besar, posisi strategis, dan ketenaran di media sosial—dan Tuhan dari kejauhan memanggil Anda: “Fa ayna tadzhabun”, “Ke mana kalian pergi?”

Agama dan Cinta Tuhan

Suatu malam yang tenang, Muhammad masuk ke kamarnya. Meski sudah lelah, seharian menjadi pelayan bagi hamba-hamba Allah, pikiran dan hati Muhammad tak pernah berhenti menyadari kehadiran Allah di mana-mana, bahkan di bilik peristirahatannya. Wa huwa ma’akum ayna ma kanu; Dia selalu bersama kamu di mana saja kamu berada.

Muhammad merebahkan badannya, dan di sampingnya berbaring Aisyah. Istrinya ini menyadari, sang Nabi telah ada di sampingnya lagi—kulit mereka pun bersentuhan. Senang dan girang Aisyah, malam itu Muhammad berbaring di sisinya. Tak lama, Muhammad tiba-tiba terbangun. Aisyah terkejut. Muhammad merasa sungkan pada istrinya, karena telah mengganggu tidurnya.

“Wahai putri tercinta Abu Bakar, bolehkah malam ini aku beranjak pergi?” pinta sang Nabi. “Ke mana kau akan tinggalkan aku malam-malam begini?” tanya Aisyah. “Izinkan aku beribadah pada Tuhan yang melindungi kita, malam ini”.

Aisyah sebenarnya lebih senang sang Nabi tetap berbaring di sampingnya. Namun, ia pun tak kurang bahagianya jika sang Nabi lebih memilih sujud kepada Pemilik segenap semesta. Beranjaklah Muhammad, mengambil wudu secara perlahan, dan keluar rumah menuju Masjid Nabi di samping biliknya.

Baca Juga:  Memahami Islam Rahmatan lil ‘Alamin Melalui Pendekatan Pendidikan Karakter

Aisyah meriwayatkan hadits ini, dan menceritakannya kepada Atha’, salah satu kalangan tabi’un. Aisyah berkisah, betapa malam itu adalah malam ketika ia menyaksikan peristiwa paling menakjubkan dari sang Nabi. Memang, Atha’ sendiri meminta kepada Aisyah supaya ia menceritakan satu buah peristiwa paling menakjubkan yang istri Nabi ini pernah saksikan dari manusia pilihan Tuhan.

Kata Aisyah, “Ia (Muhammad) melaksanakan shalat di malam hari, ketika semua orang lelap dalam pembaringan. Air matanya tak berhenti mengalir, semenjak ia mengangkat takbir. Aliran itu kian deras, isakannya kian terdengar, tatkala makin merunduk ia dalam ruku’ dan sujud. Aku melihat sendiri, basah dadanya dengan air mata. Aku melihat sendiri, pegal, bergetar, dan bengkak kakinya saking lamanya berdiri dalam shalat malam”.

Atha’ yang mendengar, tak tahan untuk turut menangis, mendengar sang Nabi beribadah hingga seperti itu. “Lanjutkan, lanjutkan wahai Ummul Mu’minin. Apalagi yang terjadi setelah itu?” pinta Atha’.

Kata Aisyah, “Aku pun menghampirinya selesai shalat—ketika Bilal sudah tiba untuk mengumandangkan panggilan subuh. Aku pun bertanya, mengapa sampai seperti ini engkau menyembah Tuhanmu, ya Muhammad? Bukankah kau ini tak punya dosa—yang akan kau minta pertobatannya pada Tuhanmu?”

Apa jawab Nabi? Kira-kira, apa jawab Nabi? Muhammad hanya menjawab singkat, dengan air mata masih tersisa, dan kelopak mata yang sudah membengkak: “Wahai istriku, aku hanya ingin menjadi hamba-Nya yang bersyukur (‘abdan syakuran)”.

Menurut Anda, apa inti pengakuan Nabi, tentang keinginannya menjadi hamba Allah yang bersyukur. Nabi mengerti, bahwa semua yang ia peroleh di kehidupan dunia, adalah wujud cinta Allah padanya. Maka, betapa senang dan sedih hati ini menyadari hal tersebut, bahwa Allah mencintai kita sedemikian rupa, dan mencurahkan banyak kasih sayang baik berupa materi maupun immateri, menciptakan kita dalam ahsani taqwim, dan memberikan kita hudan (petunjuk) ke jalan yang lurus. Cinta Tuhan, itu intinya.

Cinta pada Tuhan, Masihkah Mungkin?

Tulisan ini berangkat dari tema utama tentang relevansi agama bagi manusia modern, seperti Anda. Meski penampakan lahir dari peradaban modern sangat berbeda dengan peradaban masa silam, akan tetapi, manusia yang menghuninya tak pernah berubah—watak, alam, serta kebiasaan-kebiasaannya.

Baca Juga:  Perempuan Sufi: Bukti Kesejajaran Laki-laki dan Perempuan di Hadapan Tuhan

Di masa yang serba maju, demokratis, dan penuh dengan organisasi-organisasi kemanusiaan ini, Anda masih bisa menemukan Fir’aun, Namrud, dan Abu Jahal, orang-orang yang menindas sesama manusia demi keuntungan pribadinya. Anda juga masih bisa menemukan Musa, Yesus, dan Muhammad—yaitu orang-orang yang tergerak hati nuraninya untuk kembali kepada Tuhan, dan mengerahkan tenaga untuk mengatasi kebodohan, kesombongan, kemiskinan, dan ketidakadilan.

Entah Anda bisa menangkap pesan kisah rasa khusyu’ dan ta’zhim Muhammad di hadapan Tuhannya—sehingga ia beribadah sedemikian rupa—atau tidak. Apakah agama bisa relevan bagi kita, dan mengembalikan koordinat hidup kita ke titik yang benar, atau tidak—itu semua kembali kepada diri kita sendiri.

Allah menegaskan kepada sang Nabi, bahwa utusan-Nya itu tak lebih dari sekadar penyampai pesan (rasul/mursal), penyampai peringatan Tuhan (mundzir), dan penyampai kabar gembira dari Tuhan (mubassyir). Fa man sya’a fal’yu’min wa man sya’a fal’yakfur: Siapa yang mau, silakan untuk percaya dan kembali pada-Nya, siapa yang enggan, silakan untuk mengingkari cinta Tuhan yang benar-benar nyata.

Maka, masih mungkinkah kita kembali, dan akhirnya mencintai Tuhan kembali? Saya rasa, pertanyaan ini tak perlu diajukan. Tuhan selalu menanti kita untuk kembali kepada-Nya. Bahkan tatkala Anda sedang asyik menyeruput kopi, sambil mengetik di gawai Anda sebuah komentar untuk menghancurkan lawan bicara Anda yang tidak sependapat dengan Anda—Tuhan masih menanti, supaya hati ini akhirnya beralih dari segala “permainan” dan “senda-gurau”, menuju apa yang benar-benar hakiki dalam hidup.

Bal tu’tsiruna al-hayata al-dunya wa al-akhiratu khayrun wa abqa: Namun, kalian justru menggebu-gebu merebut kebenaran dan ketenaran di dunia, padahal akhirat itulah justru yang terbaik, dan paling kekal abadi, singgung Allah, dalam Al-Quran.

Semua pesan-pesan semacam ini yang ada dalam Al-Qur’an, adalah reminder, pengingat, dzikrun bagi kita, karena Tuhan tak tega melihat kita semakin terjerumus dan tenggelam dalam hiruk pikuk dunia yang kompetitif ini—dan akhirnya berakhir dalam kondisi mengenaskan; jauh dari Tuhan.

Mengapa Tuhan tak pernah berhenti memanggil kita? Apalagi, jika bukan karena cinta-Nya yang nyata pada Anda. Nabi bersabda, a wa lam akun ‘abdan syakuran: bukankah aku seharusnya menjadi hamba Allah yang banyak bersyukur? Allah berfirman: wa qalilun min ‘ibadiya al-syakur: sedikit sekali, hamba-hamba-Ku yang banyak bersyukur. Kita sangat kurang mensyukuri cinta dan kasih Tuhan atas diri kita—dan justru sibuk dengan dunia, persaingan, uang, dan ketenaran.

Baca Juga:  Derita itu Bahagia?

Penutup

Akhirul kalam, tak banyak dari kita yang masih ingat bahwa sebenarnya kita bisa muncul di dunia adalah sebab cinta Tuhan. Tak banyak dari kita yang ingat, bahwa pada mulanya tak ada sesuatu pun dalam realitas, kecuali Tuhan itu sendiri. Kemudian, Tuhan memutuskan untuk menciptakan kita semua semata-mata karena alasan cinta.

Kata Allah: Kuntu kanzan makhfiyyan, fa ahbabtu an u’rafa, fa khalaqtu al-khalqa li u’rafa: Aku adalah harta yang tersembunyi, Aku cinta jika Aku ditemukan oleh kalian, maka Kuciptakan kalian, supaya Aku bisa diketahui oleh kalian.

Allah berfirman lagi, lam tasa’niy ardhiy wa la sama’iy wa lakin wasa’aniy qalbu al-‘abdiy al-mu’min: Mustahil bumi-Ku dan langit-Ku bisa melingkupi Aku, akan tetapi, hanya hati hamba-Ku yang cinta dan percaya pada-Ku-lah yang bisa menerima dan melingkupi Aku.

Begitulah Allah kepada kita, Tuhan Yang Maha Kasih, Maha Sayang, dan Maha Cinta. Imam Al-Ghazali mengatakan dalam Jawahir Al-Qur’an, “Al-Fatihah adalah kunci yang membuka pintu hikmah kitab suci terakhir-Nya, dan kunci itu sendiri digerakkan oleh nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang (bismi Allahi al-Rahman al-Rahim)”.

Allah berfirman, qul’id’u Allaha aw’id’u al-Rahmana: Panggillah Ia itu Allah, atau Al-Rahman. Nama Al-Rahman adalah salah satu nama-Nya yang paling sering disebut dalam Al-Qur’an, dan Dia memulai kitab suci-Nya dengan nama yang melambangkan cinta dan kasih sayang.

Agama adalah cinta-Nya pada Anda. Nabi-Nya adalah bukti cinta-Nya pada kita. Dan akhirnya, ke mana-kah kita akan pergi, fa ayna tadzhabun? Apakah kita akan kembali pada Allah, pada Muhammad—atau justru kembali bersenda gurau, meributkan dunia, merebutkan kekuasaan, dan berlomba menjadi yang paling memukau di dunia?

Allahu a’lam, sampai bertemu di tulisan berikutnya.

0 Shares:
You May Also Like
Read More

Ayo Bertasawuf

Oleh: Darmawan Ketua Program Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf Apa itu tasawuf? Apakah tasawuf merupakan bagian dari…