Sufisme Gus Dur Memancar Kepada Sesama

Kehidupan Gus Dur memancarkan spektrum yang luas kepada publik. Bahkan sangat luas. Jangkauan pemikirannya menggapai berbagai macam isu. Mulai dari isu sosial, politik, kebudayaan, kemanusiaan, kebangsaan, Nahdlatul Ulama, fiqh, tasawuf, sampai sepak bola dan film. Pergaulannya menembus sekat-sekat agama, kelompok, ras, suku, dan beragam latar belakang lainnya. Tindakannya selalu meninggalkan catatan yang dinamis, penuh makna, penuh teka-teki sehingga dibutuhkan perenungan mendalam untuk memahaminya.

Membicarakan Gus Dur tidak ada habisnya. Karena kedalaman dan keluasannya, Gus Dur memiliki banyak versi. Tergantung dengan konteks, misal sejarah, hubungan, dan alat-alat analisis lainnya yang digunakan orang untuk memahaminya. Hal tersebut merupakan reduksi dari hal ihwal keseluruhan Gus Dur.

Mengapa Gus Dur bisa begitu luas? Hal tersebutlah yang membuat penasaran penulis. Sehingga penulis berikhtiar untuk mempelajari, mencari jawabannya. Hingga sampailah pada titik ini. Penulis mencoba untuk menguraikan jawabannya.

Gus Dur memancarkan spektrum yang sangat luas kepada masyarakat karena fondasi spiritualitasnya yang sangat kuat. K.H. Husein Muhammad menyebutnya sebagai seorang sufi. Karena hari-hari Gus Dur dihabiskan untuk mengabdi kepada kemanusiaan. Gus Dur memandang manusia di manapun dilahirkan, dengan identitas apapun, adalah ciptaan Tuhan yang harus dimuliakan.

Lalu, siapakah sufi itu? Menurut Sa’di Shirazi, seorang penyair, pemikir, dan sufi besar asal Persia, seorang sufi/bijakbestari adalah dia yang mengabdi kepada dunia manusia, bukan yang memilih menepi dalam sepi dan berdiam diri di atas sajadah. Untuk pengabdian itu dia harus berbekal ilmu pengetahuan. Dia mememinta semua manusia dan para pejabat Negara agar mengenakan etika Darwisy.

Pengabdi kepada Tuhan

Adalah pelayanan kepada manusia

Bukan hanya dan semata memutar biji tasbih

Menggelar sajadah dan menyandang kain sorban

Baca Juga:  Falsafah Politik Al-Farabi; al-Madȋnah al-Fâdhilah Kerangka Etis Dasar sebuah Negara

Duduklah kau di atas singgasana kekuasaan

Dengan etika yang bersih

Jadilah kau seorang Darwisy.

Kata Sa’di lagi.           

Dalam Buku Ajaran-Ajaran Gus Dur Syarah 9 Nilai Utama Gus Dur, seorang santri Gus Dur Kyai Nur Kholik Ridwan menulis

Rabbi, Dikau yang menghendaki

Sang guru ada dan pergi

Dalam keduanya ada inspirasi

Engkau tunjukkan bukan ujug-ujug jadi.

Proses dinamika bersama kami

Hampir-hampir para murid lalai

Ada yang sejati sebagai fondasi

Terbius oleh kecanggihannya dalam “aksi”.

Sejati, tradisilah yang mendasari

Dinamisasi Aswaja untuk zaman kini

Melampaui HAM, gender, demokrasi.

Porosnya sejenis olah hati

Yang terlahir darinya semacam pancaran dzauqi

Mewujud karena maqamnya telah tinggi

Kaukehendaki menjadi guru luhur budi

Mendidik, bahkan ketika sudah “mati”.

Dari puisi tersebut terlihat bahwa Gus Dur adalah seorang guru sufi. Pemikiran dan tindakannya tetap berpijak pada tradisi Aswaja. Meski harus bergulat dengan wacana-wacana kebangsaan, HAM, gender, politik, ekonomi, dan yang lainnya, beliau tetaplah seorang santri yang mempunyai cita rasa spiritual yang mendalam. Yang beliau peroleh dari ber-mujahadah (berjuang dengan kesungguhan) dengan tirakat.

Inilah yang dinamakan suluk. Dan Gus Dur adalah seorang salik (pejalan ke hadirat Tuhan). Masyhur diceritakan oleh sahabat-sahabat beliau bahwa Gus Dur melanggengkan dzikir dengan sering berdzikir secara sirr dan membaca salawat kepada Kanjeng Nabi Muhammad saw. Beliau juga gemar berziarah ke makam para wali dengan mengharap keberkahan para wali tersebut dilimpahkan Allah kepadanya.

Buah dari laku hati Gus Dur kemudian termanifestasi ke dalam laku sosial beliau. Gus Dur memancarkan Cahaya Tuhan. Beliau menebarkan Rahmat-Nya kepada sesama, siapa saja, tidak terbatas kepada komunitas tertentu. Beliau membela siapa saja yang ditindas, dilemahkan, dan disubordinasi, tanpa terkecuali. Beliau kesatria yang menegakkan keadilan, karena seperti kata beliau, “Perdamaian tanpa keadilan adalah ilusi”. Beliau yang menjaga kebhinekaan negeri ini. Melalui lakunya, Gus Dur mengajarkan cinta kasih sesuai dengan ajaran Tuhan yang beliau saksikan dan imani, ajaran cinta kasih. Dia memberikan Cinta Kasih-Nya kepada siapa saja tanpa terkecuali.

Baca Juga:  Mencintai Makhluk, Dicintai Khalik (Bagian 2)
0 Shares:
You May Also Like
Read More

Menuju Manusia Rohani

Kita tahu, kebiasaan mengurangi makan atau lapar, di kalangan sufi bukanlah sesuatu yang baru atau cerita-cerita dongeng. Kebiasaan…