Jalan Tasawuf

Semakin hari kita semakin dihadapkan pada tantangan hidup yang semakin kompleks. Kita tidak hanya dituntut memenuhi kesiapan berkompetisi secara sehat dalam ragam profesi, akan tetapi juga kesiapan hidup berdampingan dengan beragam identitas manusia yang berbeda secara budaya, suku, ras sampai perbedaan agama dan keyakinan. Kita tidak dapat mengelak bahwa saat ini perkembangan dan kecanggihan teknologi komunikasi, transportasi dan informasi telah membuka akses yang seluas luasnya pada perjumpaan dengan beragam identitas manusia, sementara itu pada sisi yang lain kita juga diperhadapkan pada warisan teologi sektarian dari sekolompok orang yang merasa bahwa hanya kelompoknya yang mendapatkan petunjuk Ilahi.

Cukup ironi memang, sebab fakta keragaman sosial ini seringkali tidak berbanding lurus dengan cara kita menyikapinya, sebagian umat masih cenderung eksklusif, menutup diri dengan orang lain sehingga cenderung arogan menganggap diri, kelompok, suku, agama dan keyakinannya yang paling benar dan berhak tumbuh, berkembang menguasai bumi.

Pada era kemajuan teknologi yang semakin pesat kita saksikan manusia semakin sulit hidup berdampingan, semakin sulit bernafas bersama di bawa langit yang sama. Di samping itu penolakan terhadap keragaman banyak hadir dalam ruang dan bahasa keagamaan, di mana tafsir terhadap ayat ayat yang seharus inklusif (terbuka) dibawa pada ruang eksklusivisme (tertutup/menutup diri). Padahal Allah swt. sudah menegaskan bahwa manusia diciptakan dalam keragaman agar bisa saling kenal mengenal (li ta’arafu) (Baca: QS. Al-Ĥujurāt [49] :13).

Apa yang dimaksud li ta’arafu? Dr. Haidar Bagir memaknai li ta’arafu dengan,  agar kamu saling belajar kearifan. Syarat utama agar kita bisa menghargai keragaman adalah memahami orang lain, sementara dalam memahami itu butuh proses belajar, karena itu, setiap orang setidaknya mencoba saling belajar kearifan (kearifan lokal) satu sama lain dengan cara mengenali kebiasaan, budaya ataupun keagamaannya, sehingga terbangun sikap keterbukaan untuk menerima kelompok lain. Li ta’arafu menjadi perantara untuk saling membantu.

Baca Juga:  Tanpa Estetika, Agama Cuma Wacana

Cukup memprihatinkan ketika cara pandang keberagamaan yang eksklusif yang biasanya terlihat dengan kaca mata fikih—hitam putih, halal haram dan salah benar—ikut menyeret mereka yang mengaku penempuh jalan kesufian (pelaku sufisme) pada laju arus yang sama, yakni budaya saling menyalahkan.

Spiritualitas yang out put-nya semestinya adalah moral akhlak setelah menyerap ruh Ilahiah, kini bergeser pada budaya populer, budaya komoditas, gaya hidup konsumerisme dan permainan citra menyeret jalan spiritualitas pada gaya hidup semata bukan penguatan pada nilai Ilahiah untuk menjaga nilai-nilai kemanusiaan, bahkan terjerembab pada budaya perebutan jam’ah semata.

Spiritualitas tidak lagi menumpu pada upaya pendalaman, penyerapan nilai-nilai ketuhanan untuk selanjutnya kita bumikan dalam ruang akhlakul karimah, akan tetapi cenderung mentok pada ritual semata dan tak memiliki akses keluar seperti tumbuhnya kepekaan sosial.

Tidak hanya itu spiritualitas yang biasanya tampil dengan nilai-nilai kebaikan universal, kebaikan yang tak memandang merek, justru tersandera pada sikap eksklusifitas, terkungkung pada egoisme bahwa kebaikan hanya untuk kolompok atau yang seidentitas dengannya.

Tuhan pun hanya dipandang sebagai bahan komoditi untuk memuluskan keinginan duniawi, Tuhan akhirnya tak lagi bisa ditemukan di tempat lain kecuali pada bangunan yang kita sebut masjid semata.

Nilai-nilai kebaikan universal hanya lantang terdengar di mimbar-mimbar khutbah, disampaikan dengan penuh semangat mengajak pada cinta universal, cinta yang tampil dengan wajah dan kebaikan seperti matahari yang menyinari manusia tanpa pandang bulu.

Akan tetapi di tengah intesitas seruan itu kita justru mendapati fakta sosialnya bahwa cinta manusia tidak seuniversal itu, manusia cenderung mengembangkan ekspresi cintanya pada orang lain yang punya kesamaan nilai, kedekatan identitas, bahkan kedekatan ciri-ciri fisik.

Baca Juga:  Karena Syahwat, Manusia Lebih Baik daripada Malaikat?

Kita pun tidak jarang memukan manusia saling sikut berebut jabatan, dengan cara yang kotor dan saling menjatuhkan dibumbui dengan bahasa Agama, kesamaan suku, ras dan budaya. Manusia tidak lagi melihat pada kemampuan secara profesional akan tetapi lebih banyak dipengaruhi oleh dorongan takanan karena kedekatan identitas.

Akhirnya, agama yang semestinya melahirkan empati sosial, terhadap orang  yang hidupnya sedang kurang beruntung justru datang membunuh belas kasih terhadap sesama yang sedang menderita.

Teringat apa yang pernah dipesankan Gus Dur, “Tidak penting apa agama dan sukumu, kalau kamu bisa melakukan sesuatu yang baik untuk semua manusia, maka orang tidak pernah tanya apa agamamu”.

Kebaikan seperti inilah yang semestinya terus kita rawat dalam ruang kemajemukan yang semakin plural. Sebab agama tak pernah memandang dan membedakan derita kemanusian untuk kita pilih dalam membantunya. Seperti kata Muslim Abdurrahman “Kemanusiaan itu satu, seperti juga lapar. Tidak ada lapar secara Islam. Tidak ada lapar secara Kristen”.

Dalam Hadis Qudsi Allah swt. berfirman, “Carilah Aku (Allah) di antara orang orang yang hancur hatinya, bantulah mereka, ringankan deritanya”.

Di manapun kita menemukan perut yang lapar di sanalah semestinya kita sebagai manusia hadir untuk memberi cinta, tak ada lagi sekat pemisah saya Islam, kamu Kristen. Demikianlah sesungguhnya Agama Cinta, kebaikannya universal tak memandang identitas yang melekat.

Seperti kata Imam Ja’far Shadiq, “Apalagi agama itu kalau bukan cinta? Sejalan dengan ini ialah sabda Nabi, “Cinta adalah asas (agama)-ku”. Inilah ajaran dan inti dari jalan tasawuf.

0 Shares:
You May Also Like