PASCAL WAGER

Oleh: Faqry Fakhry

Muhib di jalan menuju Mahbub

Dikutip dalam Ihya’ Ulumiddin bahwa suatu kali Imam ‘Ali Zaynal ‘Abidin pernah berdebat dengan seorang Ateis tentang keberadaan Tuhan. Perdebatan berlangsung bertele-tele tanpa ujung hingga akhirnya Imam Ali berkata: “Jika kau benar bahwa Tuhan tak ada, aku dan kau takkan rugi apa-apa. Tapi jika ternyata Tuhan ada, aku akan beruntung dan kau akan merugi”.

Argumentasi Imam Ali Zaynal Abidin itu belakangan dikenal sebagai ‘Pertaruhan Pascal’: sebuah tabel buatan Blaise Pascal—meski dalam bentuk yang lebih “vulgar” ketimbang argumentasi Imam ‘Ali. Dalam Pertaruhan Pascal itu ditunjukkan bahwa ada dua kemungkinan bagi seseorg yang percaya pada Tuhan. Yakni tak rugi apa-apa jika Tuhan ternyata tak ada dan masuk surga jika Tuhan ada. Sedangkan bagi yang tak percaya pada Tuhan, tak akan ada kerugian pada dia jika Tuhan tiada, dan dia akan masuk neraka jika Tuhan ada.

Tentu saja logika seperti ini tak begitu saja diterima oleh kaum Ateis. Mereka bilang ada beberapa cacat logika di dalamnya.

Pertama, Pascal tak merinci, Tuhan mana yang harus kita percaya. Karena menurut kaum agamawan sendiri, keyakinan akan Tuhan itu amat beragam. Lalu, lebih sering agamawan dari satu kelompok menyesatkan keyakinan ketuhanan kelompok lainnya. Dan jumlah kelompok ini luar biasa banyak. Jadi, sekadar percaya kepada Tuhan dengan pemahaman tertentu tak lantas menjamin keselamatan orang-orang beragama.

Kedua, kepercayaan bukanlah sesuatu yang bisa dibelok-belok-kan secara fleksibel. Jika kepercayaan itu fleksibel dan bisa berubah-ubah, maka namanya bukan lagi kepercayaan, melainkan perhitungan untung rugi. Maka, menuntut kaum Ateis agar mempertimbangkan kepercayaan kepada Tuhan adalah tidak logis.

Baca Juga:  Ilmu Mantik di Dunia Islam (1) : Sebuah Pengantar

Ketiga, beragama tak jarang membawa konsekuensi negatif bagi si penganut maupun manusia lain. Agama tak jarang justru menjadi kekuatan perusak. Dengan fanatisme, ekstremisme, kebencian, sikap anti sains, dsb.

Maka saya pun punya catatan terhadap Pertaruhan Pascal ini. Bagi saya, Tuhan takkan memasukkan ke neraka bagi orang-orang Ateis yang memang dengan tulus meyakini bahwa Tuhan tiada, apalagi jika ternyata mereka adalah orang-orang yang baik sebagai manusia. Tapi, tetap saja mereka akan merugi. Kenapa? Mereka akan kehilangan banyak fungsi keberagamaan, termasuk kedamaian, ketenteraman dan kebahagiaan yang dapat dinikmati orang beragama (lihat tulisan saya, “Nikmat Islam”, dan “Syirik”). Tapi ini sangat tergantung kepada bagaimana cara keberagamaan itu. Jika keberagamaan berarti kita lebih mudah membenci orang yang berbeda dengan kita, jangan-jangan kita justru meyakinkan kaum Ateis bahwa beragama itu merugikan.

Pertaruhan Pascal hanya benar dengan beberapa catatan.

Pertama, bahwa agama harus dipahami sebagai sumber cinta kasih dan budi pekerti mulia. Juga sumber kemerdekaan, yakni dari libatan hawa nafsu yang merusak, maupun ketundukan kepada manusia lalim yang justru merupakan antithesis keberagamaan yang berlandaskan cinta kasih dan perilaku mulia itu. Lebih dari itu keberagamaan haruslah toleran, bahkan inklusif, terhadap berbagai keyakinan keagamaan yang ada. Baik intra maupun antargama.

Kedua, bahwa pengertian “masuk neraka” itu bermakna berlakunya konsekuensi atas cara hidup tak beragama dalam makna ketiadaan cinta kasih dan budi pekerti mulia itu. Kalau tidak, jangan-jangan kaum Ateis justru akan berkata, keberagamaan justru sejak di dunia sudah menjadi sumber terciptanya “neraka”. Dan bahwa ketakberagamaan justru adalah alternatif yang lebih baik. Betapa banyaknya orang yang dikenal sebagai Ateis telah memberikan manfaat amat besar kepada sesama dalam kontribusi mereka kepada kemanusiaan? Betapa tak sedikit kejahatan dilakukan orang—tentu kita tak bisa menyebut mereka sebagai benar mewakili keberagamaan yang sesungguhnya—dengan dalih agama? Ya, tak terbantahkan bahwa keberagamaan—yang sesat—telah melahirkan begitu banyak keburukan, sehingga menjadi Ateis yang ikhlas tetap lebih baik dibanding penganut agama yang buruk. Dan Tuhan Yang Maha Pengasih bisa diduga akan lebih berpihak kepada kaum Ateis yang baik, di akhirat nanti, ketimbang pengikut agama yang penuh kepalsuan.

Baca Juga:  Pesan dan Perumpamaan dalam Hidup

Kesimpulannya, mari jadi pengikut agama yang baik, yang penuh kasih dan budi pekerti mulia, yang merdeka dari ketundukan kepada hawa nafsu atau penguasa lalim, yang menghormati dan mengapresiasi berbagai keyakinan keberagamaan, agar Pertaruhan Pascal—atau, lebih tepatnya, argumentasi Imam ‘Ali Zaynal’ Abidin—itu bisa makes sense bagi manusia. Tanpa itu, benar para pengkritiknya, Pertaruhan Pascal punya banyak cacat logika.

0 Shares:
You May Also Like