Hijrah (11): Tak Kenal Maka Tak Sayang

Dalam kehidupan, manusia terbiasa memberikan penilaian terhadap sesuatu, semisal buku itu biru, Amerika itu negara maju, orang itu jelek, artikel ini bagus dan sebagainya. Intinya, manusia senantiasa menghukumi sesuatu dengan nilai-nilai atau sifat-sifat tertentu yang dalam ilmu logika dikenal dengan istilah tashdiq (justification).  Namun, tak jarang penilaiannya itu hanya didasarkan pada apa yang dia rasakan atau pikirkan tentang sesuatu itu. Saya tidak bermaksud untuk menyatakan bahwa penilaian yang berasal dari perasaan dan pikiran itu keliru, tapi kita akan mendapat sedikit masalah jika hanya bertumpu pada dua intrumen tersebut.

Suatu kali dalam fase kehidupanku, aku pernah merasa sangat benci kepada seseorang. Alasannya sederhana, “Ya, karena benci melihat tingkah lakunya yang ‘menurutku’ caper”. Dalam pandanganku, apapun yang dilakukannya jadi serba aneh dan memuakkan. Pokoknya, aku membencinya dari lubuk hati yang terdalam. Tetapi kemudian, aku mengalami suatu hal yang membuatku sedikit merenung tentang bagaimana seharusnya kita menilai seseorang.

Entah kenapa pagi itu, aku dan seseorang yang kubenci itu datang ke sekolah di waktu yang bersamaan. Sangat pagi. Saat itu hanya ada aku dan dia di dalam kelas. Aku sama sekali tak pernah berniat menyapa ataupun mengajaknya mengobrol. Maksudku, bagaimana bisa aku melakukan itu pada orang yang sangat kubenci?

Aku tak pernah menyangka dia yang menyapaku duluan. Dia mengeluarkan sebuah kotak berisi kue dan menyodorkannya padaku. Dia tersenyum saat memberikannya. Aku merasakan ada aura baik keluar dari dirinya. Dan itu meruntuhkan segala persepsiku tentang dia. Semua khayalanku tentang betapa menjijikkannya tingkah lakunya berubah. Pagi itu, kami mengobrol.

Awalnya, aku merasa aneh pada diriku sendiri. Selama ini aku membayangkan dia sebagai orang yang buruk. Aku merasa itulah dia. Dia tak lebih dari seorang yang suka pamer dan cari perhatian. Bagiku, itulah kebenarannya.

Tapi, pagi itu, untuk pertama kalinya aku berinteraksi dengannya. Melihat tatapannya, memerhatikan sikapnya dan bagaimana dia bertanya dengan antusias padaku. Aku merasakan ada yang aneh.

“Itu bukan dia!”

“Dia menipumu!”

“Dia hanya berpura-pura baik!”

Pikiranku menjerit menentang kenyataan bahwa pria ini, orang yang kubenci ini adalah orang yang berbeda dari yang kubayangkan. Kenyataannya, dia orang yang cukup baik. Tapi, pikiran dan perasaanku seakan tak mau terima.

Baca Juga:  Tanpa Estetika, Agama Cuma Wacana

Dari situ, aku mendapatkan sebuah pelajaran berharga bahwa ‘kadang, manusia bisa sangat membenci kebenaran karena mengganggu khayalannya’. Dalam kisahku di atas, faktanya adalah temanku itu merupakan orang yang baik, tapi dalam khayalanku, persepsiku, imajinasiku, dia adalah orang yang buruk dan memuakkan. Sehingga bahkan setelah mengetahui faktanya, aku masih merasa aneh dan tak terima. Titik permasalahannya adalah aku terlalu banyak memberikan penilaian pada seseorang tanpa mengenalnya terlebih dahulu. Itulah kesalahanku. Aku terlalu mengandalkan prasangka dan pikiran-pikiranku untuk menilai seseorang.

Ini persis merupakan masalah yang banyak sekali menghinggapi manusia. Bahkan bagi kaum terpelajar sekalipun. Kita terlalu banyak mengandalkan pikiran-pikiran, pemahaman-pemahaman dan teori-teori kita tentang sesuatu. Tapi, kita kehilangan satu bagian penting untuk mendapatkan pemahaman yang utuh yaitu pengalaman nyata.

Lihatlah bagaimana orang-orang yang saling menyesatkan dan membenci itu. Orang-orang yang kesehariannya menebar fitnah. Orang-orang yang terjebak dalam ketakutannya pada orang lain, kelompok lain, mazhab lain, agama lain, negara lain dan lain-lain. Mereka adalah orang yang kebanyakan makan teori tapi kurang pengalaman.

Kalau kita bertanya pada mereka “Apa alasanmu takut pada orang-orang dari kelompok itu? mereka akan menjawab “Ya, karena mereka kelompok sesat. Mereka pasti orang jahat!”

Tanyakan lagi, “Darimana kamu tau mereka orang jahat?”

“Dari buku-buku yang kubaca. Mereka itu memang busuk! Ustadz-ustadz juga bilang begitu, kok.”

Inilah realitas yang sering kita jumpai di tengah masyarakat. Kita melihat bagaimana orang-orang yang bahkan belum mengenal satu sama lain sudah saling membenci, dan menempelkan sifat-sifat buruk pada yang lain. Namun, tak pernah mencoba untuk saling mengenal atau minimal memberikan benefit of the doubt bahwa ada kemungkinan ‘mereka’ (orang lain) itu baik.

Bahwa dalam setiap kelompok, mazhab, ataupun agama terdapat orang yang berperilaku jahat, aku setuju. Tapi untuk mengatakan keseluruhan dari suatu kelompok, mazhab, atau agama tertentu sebagai buruk dan jahat, inilah permasalahannya. Aku sangat yakin orang baik tersebar di setiap penjuru bumi tak peduli apa agamanya, sukunya, ataupun mazhabnya. Mereka (orang-orang baik) ada dalam setiap lapisan masyarakat. Maka, bagiku mengatakan bahwa suatu suku, mazhab, atau agama tertentu sebagai jahat dan buruk adalah kenaifan yang luar biasa. Kenaifan yang lahir dari pemahaman dan pikiran-pikiran tanpa pengalaman.

Baca Juga:  Menilik Filsafat Cinta Jean Paul Sartre

Lihatlah para mantan kombatan ISIS asal Indonesia yang minta dipulangkan dari Suriah itu. Kenapa mereka minta dipulangkan? Padahal dulunya mereka sendiri yang memutuskan bergabung dengan ISIS untuk berjihad di jalan Allah! Mereka pula yang sering teriak-teriak pemerintah kafir dan taghut. Mereka juga yang dikit-dikit pingin hijrah, setelah hijrah (ke markas ISIS) kok minta dipulangkan? Mintanya sama pemerintah yang dulunya mereka cap sebagai pemerintah taghut dan kafir lagi! Aku yakin yang mengubah mereka adalah pengalaman, bahwa ternyata ISIS tak seperti yang mereka bayangkan.

Dalam sebuah seminar, aku mendengarkan langsung kesaksian dari seorang mantan anggota ISIS yang berhasil kembali ke Indonesia. Dalam kesaksiannya, dia menjelaskan kenapa orang bisa sampai memutuskan untuk hijrah (bergabung dengan ISIS). Biasanya, orang-orang yang bergabung dengan ISIS(atau kelompok yang sejenis) adalah orang yang mempunyai gairah yang sangat kuat untuk belajar agama. Semangat belajar yang tinggi itu diaktualkan dengan mengikuti kajian-kajian keagamaan. Bisa juga belajar otodidak dengan membaca buku-buku, artikel ataupun video di internet. Dari situlah biasanya mereka akan bersentuhan dengan ajaran-ajaran atau pemahaman-pemahaman yang cenderung keras dan ekstrem.

Terorisme selalu muncul dari pemahaman-pemahaman yang ekstrem dan radikal. Lihatlah pelaku dari aksi-aksi pengeboman yang mengatasnamakan jihad di jalan Allah. Mereka adalah orang-orang yang memiliki keyakinan sekuat baja bahwa semua orang yang tidak sepaham dengan mereka halal darahnya. Mereka juga sangat yakin bahwa kematian mereka (dalam aksi terorisme) adalah syahid yang akan diganjar oleh Allah dengan kenikmatan berupa surga tertinggi lengkap dengan berpuluh-puluh bidadari.

Cobalah ketik di YouTube nama-nama seperti Imam Samudera, Amrozi, dsb. Mereka adalah aktor di balik beragam peristiwa terorisme di tanah air. Lihatlah ketika mereka dijatuhi hukuman atas perbuatan keji yang mereka lakukan. Tak tampak sedikitpun penyesalan di wajah mereka. Justru mereka terlihat riang gembira bahkan masih sempat meneriakkan takbir. Bagi mereka, semua korban dari aksi teror mereka merupakan ladang pahala. Dari sini, muncul pertanyaan, kira-kira apa yang membuat mereka demikian tega membunuh dan menyakiti manusia? Jawabannya adalah pemahaman. Lalu, apa yang luput dari mereka? Jawabannya, pengalaman.

Baca Juga:  POTRET SUFISME SEBAGAI PSIKOTERAPI

Pemahaman bisa saja mengatakan bahwa kita takkan mungkin bisa hidup bersama orang-orang yang berbeda keyakinan dengan kita. Tapi pengalaman membuktikan bahwa orang-orang yang berbeda (baik suku, ras, agama) bisa hidup berdampingan dengan damai. Bagi mereka yang hanya mengandalkan pemahaman (yang radikal), hidup ini tak ubahnya lapangan tempur antara dua kekuatan besar; hitam vs putih, malaikat vs iblis, Avengers vs Thanos. Mereka merasa punya kewajiban untuk memerangi kekuatan jahat itu tak peduli bagaimanapun caranya bahkan jika harus dengan membunuh dan meneror.

Wajar, T.S Eliot—seorang sastrawan terkemuka asal Amerika—menyebut orang yang demikian itu sebagai manusia-manusia palsu (The Hollow Man), yakni orang yang tidak memiliki imajinasi, sehingga kesulitan memahami keluasan. Kemudian mengisi kekosongan imajinasi itu dengan hal-hal yang kaku dan tidak berperasaan. Tidak ada toleransi, keringanan, ataupun sedikit kompromi. Yang ada, hanyalah hitam dan putih, benar dan salah, di sini dan di sana, kami dan mereka, aku dan kamu. Orang-orang yang tak pernah bisa membayangkan pencampuran dan pembauran. Sehingga ketika mereka mengatakan bahwa “Kamilah yang benar!”, itu juga berarti selainnya adalah salah. Watak seperti itulah yang membuat mereka bersikap tertutup (eksklusif) terhadap kelompok yang berbeda.

Padahal, kita melihat kenyataan sejarah bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk hidup bersama. Madinah Nabi penduduknya merupakan orang-orang dari berbagai suku bangsa dan agama. Selanjutnya, ketika Islam masuk ke Eropa, umat Muslim membentuk hubungan erat dengan penduduk setempat yang jelas-jelas berbeda suku, bangsa, bahasa dan agama. Tercatat dalam sejarah terjadi hubungan guru dan murid antara ulama Muslim dan muridnya yang non-Muslim atau sebaliknya. Ini membuktikan bahwa perbedaan tidak selalu harus berujung pada permusuhan apalagi peperangan. Justru sebaliknya, perbedaan bisa dijadikan ajang untuk berkolaborasi dalam hal kebaikan. Inilah pentingnya pengalaman di samping pemahaman.

Terakhir, untuk menyambut tahun baru 2021, marilah kita mulai untuk memperbanyak pengalaman dengan mengenal sebanyak-banyaknya orang. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an bahwa sesungguhnya perbedaan ini Allah ciptakan tidak lain agar kita saling mengenal, yang dengan itu akan tumbuh rasa kasih sayang. Semoga kita mampu menghayati betapa indahnya warna-warni perbedaan dalam kehidupan ini.

 

2 Shares:
You May Also Like