Apakah Agama Sumber Kejahatan?

Oleh: Achmad Fadel

Mahasiswa STFI Sadra Jakarta

Bayangkan, bersama John Lennon, sebuah dunia tanpa agama. Bayangkan tak ada pengebom bunuh diri; tidak ada 9/11; tidak ada 7/7; tidak ada Perang Salib; tidak ada pembunuhan terhadap orang-orang murtad; tidak ada Gunpowder Plot; tidak ada pemisahan India; tidak ada perang Israel/Palestina; tidak ada pembantaian Serbia, Kroasia, atau Muslim; tidak ada penyiksaan terhadap orang-orang Yahudi sebagai para pembunuh Kristus….

Kalimat itu dikutip dari Pendahuluan God Delusion. Buku yang intinya membahas penolakan argumen desain ilahi melalui teori evolusi, sambil membumbui di sepanjang lembarannya kalimat-kalimat kebencian terhadap agama, bahwa agama sebagai penyebab kejahatan. Melalui fakta-fakta kejahatan yang melibatkan agama, ia menyimpulkan agama penyebab semua kejahatan. Tanpa penelusuran sebab kejadian setiap peristiwa yang terjadi. Penyimpulan itu memiliki kekeliruan karena: menyamakan antara oknum beragama dan esensi agama itu sendiri; dan menggeneralisasi fakta-fakta yang hanya mewakili sebagian.

Perbedaan antara Ajaran dan Penganut Ajaran

Pertama, dia menyamakan antara perbuatan oknum penganut agama dan konsep agama yang dianut. Adanya ‘penganut’ Islam yang menjadi teroris, melakukan bom bunuh diri dst. Hal itu tidak lantas meniscayakan ajaran Islam yang memerintahkan mereka melakukan itu. Karena masih banyak penganut agama yang berperilaku bertentangan dengan ajaran agama itu sendiri. Di sini menunjukkan perbedaan jelas antara perilaku penganut dan ajaran agama.

Mungkin ada yang mempertanyakan, tapi pelaku kejahatan melakukannya karena justifikasi dari kitab suci, bukankah itu disebabkan oleh kitab suci, yang merupakan ajaran agama itu sendiri?

Pertanyaan itu jelas tak bisa membedakan antara kitab suci dengan ‘penafsiran’ kitab suci. Penafsiran kitab suci bisa dikonstruksi semaunya dengan mencomot teks-teks yang bisa memenuhi kepentingan terselubung penganut agama. Mereka menjustifikasi kejahatan dengan ‘penafsiran’ atas kitab suci, bukan atas kitab suci an sich.

Kejahatan yang melibatkan agama adalah fakta yang memang tidak bisa dielakkan. Akan tetapi, kejahatan itu kembali pada oknum agama tersebut, selama tidak terbukti agama an sich yang memerintah pada kejahatan. Sebenarnya, Agama di situ tidak lebih sebagai instrumen untuk mencapai kepentingan, bukan sebagai tujuan yang hendak dicapai, karena substansi agama adalah kebaikan. Perbedaan timbul pada tindakan beragama, kalau agama dipahami sebagai sumber hikmah dan kebaikan—yang sebenarnya substansi agama dan dalil-dalil pasti (qath’i) agama, maka mustahil melahirkan penafsiran-penafsiran untuk menjustifikasi kejahatan.

Baca Juga:  Pengantar Mendalami Mukalaf

Kenyataan lain Agama sebagai Sumber Kebaikan

Kekeliruan kedua adalah generalisasi dengan contoh-contoh peristiwa kejahatan yang diambil dalam sejarah dan menyimpulkan bahwa agama sebagai penyebabnya. Generalisasi merupakan sesat pikir yang jamak terjadi. Kenyataan bahwa sebagian ‘penganut’ agama melakukan kejahatan, tidak menjadikan semua penganut agama sebagai penyebab kejahatan. Generalisasi mudah menjadi keliru ketika kenyataan yang berlawanan lebih banyak terjadi.

Kalau dipertimbangkan lebih jauh, kenyataannya banyak penganut agama yang menjadi penyebab kebaikan dan mengurai konflik dalam masyarakat. Misalnya, Gerakan Ahimsa (Non-Violence) oleh Mahatma Gandhi; Perjanjian Nabi Muhammad saw. dengan umat Nasrani hingga akhir zaman, yang isinya: “Saya berjanji melindungi pihak mereka, dan membela mereka, gereja dan tempat-tempat ibadah mereka serta tempat-tempat pemukiman para rahib dan pendeta-pendeta mereka, demikian juga tempat-tempat suci yang mereka kunjungi….” Perjanjian ini menunjukkan pengakuan keberagamaan Nasrani; Dalai Lama seorang Buddhis Tibet mendesak untuk melindungi umat Muslim; Sikh memiliki ritual khusus, disumpah untuk membela hak agama lain, dan masih banyak peristiwa-perisitiwa lain.

Hal itu menunjukkan oknum agama tidak lebih sedikit melakukan kebaikan dibanding kejahatan. Namun, secara logis, semua generalisasi tidak lain sekadar induksi tidak-lengkap yang sama sekali tidak menjamin  kepastian. Banyak kelemahan baik dari sisi pengambilan sampel-sampel maupun penentuan variabel/faktor penting kejadiannya.

Akhirnya, Pada hakikatnya setiap agama berisi etika universal yang menganjurkan pada kebaikan. Karena itu, tidak ada satupun kejahatan yang dilakukan untuk tujuan agama, melainkan kejahatan dilakukan menggunakan nama agama, dua hal yang berbeda. Selama agama berposisi sebagai instrumen, ia akan menjadi alat memenuhi tujuan. Sedangkan hakikat agama adalah tujuan mencapai kesempurnaan melalui jalan-jalan kebaikan, mana mungkin menyebabkan kejahatan!

Baca Juga:  PERTAMA KALI TERJAGA TENTANG KESATUAN TRANSENDENTAL AGAMA-AGAMA
61 Shares:
You May Also Like