Hijrah (12): ISIS Juga Hijrah? Nggak Blas!

Islamic States in Iraq and Suriah (ISIS) adalah sebuah organisasi ekstrem militan yang lahir di tengah berbagai ketidakstabilan (politik, sosial, dan ekonomi) di Timur Tengah. ISIS berisikan anggota kelompok yang berasal dari berbagai latar belakang yang umumnya disatukan pada sebuah cita-cita yaitu menegakkan khilafah Islam. Beragam faktor mulai dari kemiskinan, ketidakadilan sosial, serta kegagalan pemerintah (yang mengadopsi sistem Barat) dalam memajukan masyarakat Muslim telah menciptakan arus kekuatan baru dari mereka yang menginginkan perubahan mendasar yakni dengan mendirikan daulah islamiyah (kekuasaan Islam). Dan dikarenakan keinginan yang sangat kuat akan perubahan itu, tak jarang mereka menggunakan tindakan kekerasan yang sangat brutal.

Kebrutalan dan militansi para anggota ISIS semakin menjadi-jadi, sebab pemahaman dan tindakan radikal mereka dikait-kaitkan dengan ayat Al-Qur’an dan hadis Nabi yang dipahami secara tekstual. Seolah-olah kekejaman yang mereka lakukan merupakan misi Ilahi yang direstui Tuhan. Dengan kata lain, mereka telah memanfaatkan dan mengekploitasi sumber agama (secara keliru) untuk mendukung dan melegitimasi aksi-aksi terorisme yang mereka lakukan.

Hal ini sangat dimungkinkan, sebab agama, sebagaimana disebutkan oleh Lutheran Paul Tillich, merupakan the ultimate concern yang memiliki pengaruh sangat kuat dan mendalam bagi jiwa dan emosi manusia. Sumber-sumber keagamaan merupakan panduan hidup yang memiliki otoritas dalam menentukan sikap dan moral pemeluknya. Sebab, pada dasarnya manusia selalu terdorong untuk mengikuti dan menaati perintah agama (Tuhan).

Di sinilah posisi Al-Qur’an dan hadis (sebagai sumber keagamaan otoritatif) yang begitu sentral bagi umat Muslim, menjadi rentan dipelintir dan diselewengkan demi mewujudkan tujuan-tujuan politis kelompok tertentu. Bahkan tak jarang pemahaman (yang keliru) terhadap sumber agama menjadi penggerak bagi terciptanya monster-monster keji yang tak berperikemanusiaan. Orang-orang yang selalu siap melakukan apapun demi mewujudkan ambisi politiknya bahkan bila harus dengan melakukan pembunuhan manusia. Di sini, ISIS menjadi contoh konkret yang oleh M Najih Arromadoni dalam bukunya Daulah Islamiyah disebut sebagai pembuat bid’ah terbesar sepanjang sejarah keagamaan.

Dijelaskan dalam buku Daulah Islamiyah tersebut di atas, beberapa tema dalam Al-Qur’an dan hadis yang dijadikan (diselewengkan) oleh ISIS sebagai landasan mereka dalam menjalankan misi politiknya yakni ayat-ayat dan hadis tentang khilafah, jihad, hijrah, iman dan al-malahin (peperangan akhir zaman). Bermodalkan ayat-ayat dan hadis yang mereka kait-kaitkan itu, mereka berkesimpulan bahwa wajib hukumnya bagi setiap Muslim untuk mendirikan khilafah dengan melaksanakan jihad dan berhijrah. Tentunya konsep khilafah, jihad dan hijrah yang sesuai dengan pemahaman dan ideologi mereka. Tidak melaksanakan kewajiban tersebut—ataupun melaksanakan tetapi tidak sesuai dengan pemahaman ISIS—maka dianggap sebagai kafir yang halal darahnya untuk dibunuh di mana pun dan kapan pun.

Pada tanggal 4 Juli 2014, Abu Bakar Al-Baghdadi (khalifah ISIS saat itu) mengumumkan pada publik bahwa dirinya merupakan khalifah umat Islam yang wajib ditaati dan dibai’at oleh seluruh umat Islam di dunia. Identitas kenegaraan harus dilepaskan menuju suatu kepemimpinan khilafah global yang tunggal yakni daulah islamiyah (versi ISIS). Untuk itu, ISIS mewajibkan Muslim dari seluruh dunia untuk hijrah menuju tanah Syam (markas ISIS). Tak lupa mereka mengutip hadis untuk semakin memantapkan klaim hijrah mereka, hadisnya berbunyi “Akan ada hijrah setelah hijrah. Manusia terbaik di muka bumi adalah mereka yang tinggal di tempat hijrahnya Nabi Ibrahim (Syam), yang tersisa dari mereka di tempat selain Syam adalah seburuk-buruk manusia. Bumi akan memuntahkan mereka, Allah akan membenci mereka, dan api akan mengumpulkan mereka bersama kera dan babi”.

Berikut di antara beberapa hadis yang dijadikan oleh ISIS sebagai dalil untuk mewajibkan hijrah :

Baca Juga:  ANARKISME EPISTEMOLOGI PAUL K. FEYERABEND: KENAPA SAINS MALAH MENJADI AGAMA BARU?

Abdullah bercerita kepada kami, ayahku bercerita kepada saya, Hajjaj bercerita kepada kami, Laith bercerita kepada kami, ia berkata, Yazid Ibn Abi Habib bercerita kepada saya, dari Abi al-Khair bahwa Junadah ibn Abi Umayyah bercerita kepadanya, bahwa sekelompok lelaki dari sahabat Rasulullah saw. sebagian menyeru bahwa hijrah telah terhenti, lalu mereka berselisih dan mencari kejelasan kepada Rasulullah. Saya berkata, “Wahai Rasulullah, beberapa orang mengatakan bahwa hijrah telah terhenti?” Rasulullah menjawab, “hijrah tidak akan terhenti selama jihad masih berlaku” (Ahmad bin Hanbal, juz 4, 62, nomor indeks 23079).

…Hijrah tidak akan terputus selama musuh terus diperangi. (ibid., nomor indeks 21819)

…Setan juga berusaha menghalangi manusia yang hendak berhijrah, dengan berkata, “Apakah engkau akan berhijrah meninggalkan tanah airmu?” Perumpamaan orang yang berhijrah hanyalah seperti kuda yang ditambatkan. Orang tersebut tidak menghiraukannya dan tetap berhijrah…terhadap seseorang yang yang berbuat sebagaimana manusia tersebut, Allah mewajibkan diri-Nya untuk memasukkannya ke surga. Siapa saja dari mereka yang terbunuh, Allah telah mewajibkan diri-Nya untuk memasukkannya ke surga… (ibid., nomor indeks 15528)  

Berangkat dari pemahaman terhadap teks itulah ISIS merumuskan konsep hijrah ‘versi mereka’. Hijrah dalam pandangan ISIS dipahami sebagai perpindahan dari darul kufr (negeri kafir) ke darul Islam (negeri Islam); daerah yang sesungguhnya lebih tepat disebut sebagai wilayah taklukan ISIS yang diklaim secara sepihak oleh mereka sendiri sebagai darul Islam. Menurut mereka, hukum hijrah adalah fardu ain, yakni merupakan kewajiban setiap individu (Muslim/Muslimah) tanpa terkecuali yang hukumnya setara dengan kewajiban salat, zakat, puasa ataupun haji. Siapapun yang menolak berhijrah atau kembali ke darul kufr setelah hijrah, maka ia telah melakukan dosa besar yang akan mengantarkan pelakunya pada kemurtadan.

Tujuan hijrah sendiri—tentunya hijrah versi ISIS—yang paling utama yaitu untuk menambah kekuatan pasukan militer yang akan terjun dalam jihad melawan musuh-musuh ISIS, termasuk di dalamnya kelompok-kelompok Islam yang tidak mendukung mereka. Hal ini lagi-lagi mereka kaitkan dengan hadis Nabi tentang berita akan terpecahnya Islam ke dalam 73 golongan di mana hanya akan ada satu golongan yang akan dimasukkan ke surga. Tentu, bagi ISIS merekalah satu golongan yang akan masuk surga itu.

Ayat-ayat dan hadis tentang peperangan akhir zaman juga memiliki posisi yang tak kalah pentingnya dalam doktrin ISIS. Hadis-hadis yang mengisyaratkan kebangkitan khilafah Islam yang akan kembali berjaya dan memerangi kaum kafir di akhir zaman menjadi salah satu motivasi besar bagi anggota militan ISIS untuk terus berjuang memerangi kebatilan. Mereka merasa berada di pihak kebenaran yang bertugas untuk menumpas kekuatan-kekuatan jahat sekutu iblis seperti negeri salibis, rezim taghut, tentara dan polisi murtad, milisi Syiah dan aliran-aliran menyimpang lainnya. Bagi mereka, daulah islamiyah yang mereka perjuangkan merupakan aktualisasi dari janji-janji Ilahi yang termaktub dalam Al-Qur’an dan hadis, bahkan tak jarang mereka mengklaim bahwa mereka telah mengembalikan Islam yang murni sebagaimana di zaman Rasulullah. Hal inilah yang menarik perhatian sebagian besar simpatisan ISIS dari seluruh dunia untuk bergabung dengan ISIS berjuang melawan kaum kafir di muka bumi dengan membunuh dan menebar teror.

Baca Juga:  Laku Syukur, Memikat Cinta Tuhan Yang Maha Syakur

Propaganda-propaganda ISIS tentang kembalinya Islam yang murni layaknya zaman Nabi, tegaknya syariat Islam secara kaffah, serta iming-iming surga telah menyedot simpati dari banyak orang, terutama bagi mereka yang bukan warga Iraq dan Suriah. Maka, berbondong-bondonglah orang hijrah. Hal ini bersesuaian dengan data yang dirilis oleh CIA yang menyebutkan bahwa sebagian besar militer ISIS justru didominasi oleh orang-orang asing yang bukan warga Iraq dan Suriah. Sebuah fakta yang cukup menggelitik. Kira-kira kenapa ya, warga asli sana justru sedikit sekali yang simpati sama ISIS?

Kita akan semakin tergelitik bila mencermati bagaimana mereka menjalankan aksi-aksinya yang kadangkala tidak proporsional. Tak jarang mereka sangat keras dalam suatu hal, akan tetapi dalam hal lain yang lebih krusial mereka seolah acuh tak acuh. Semisal mereka sangat keras dalam menerapkan aturan bahwa perempuan mesti menutupi seluruh tubuhnya termasuk menutup wajah dengan niqab, laki-laki wajib memanjangkan jenggot, memakai celana atau jubah cingkrang dsb. Mereka akan menghukum siapa saja yang melanggar aturan itu dengan hukuman yang keras. Namun di sisi lain, mereka seolah tak ada masalah dengan pembunuhan-pembunuhan nyawa manusia yang mereka lakukan. Pertanyaannya, apakah bagi ISIS kesalahan membunuh nyawa manusia itu lebih ringan dari kesalahan tidak berjenggot?  Tidak, mereka justru tidak menganggap membunuh itu sebagai suatu kesalahan.

Dalam hal pendanaan, mereka mengandalkan penjarahan bank dan penjualan minyak yang mereka bajak dari perusahaan setempat. Mereka menjual minyak pada mafia internasional. Di samping itu, harta rampasan perang, ataupun harta yang mereka rampas dari penduduk sipil juga menjadi tambahan dana. Dari hasil penjarahan bank, rampasan perang dan pembajakan tersebut, mereka mendapatkan dana ratusan juta dolar untuk membiayai keperluan misi mereka. Hal yang perlu kita garis bawahi adalah kenyataan bahwa mereka adalah kelompok yang mengaku membawa misi Ilahi dan ingin membangkitkan kembali kemuliaan Islam, akan tetapi untuk mewujudkannya seringkali mereka menggunakan cara-cara yang tidak Islami. Kita patut heran, bagaimana mungkin kemuliaan Islam dicapai dengan cara-cara yang bertentangan dengan nilai-nilai keislaman itu sendiri?

Baca Juga:  ILMU MANTIK DI DUNIA ISLAM (3): AL-KINDI

Apakah karena tujuannya adalah kebaikan, maka lantas boleh dicapai dengan jalan keburukan? Apa merampok dan mencuri itu tidak berdosa bagi ISIS? Mereka juga mengaku sedang berperang melawan kekuatan jahat dan kafir, tetapi kadangkala mereka bekerjasama dengan penjahat dan orang kafir seperti ketika menjual minyak pada mafia yang jelas-jelas merupakan penjahat. Kita juga perlu bertanya dari mana mereka membeli senjata?

Tidak konsistennya ISIS dalam banyak hal ini, menjelaskan pada kita bahwa tujuan mereka yang sesungguhnya bukanlah membela agama. Mereka sesungguhnya hanyalah membela hawa nafsu mereka untuk berkuasa. Ayat dan hadis yang mereka gembar-gemborkan tidak lain hanyalah bungkus yang mereka gunakan untuk menyembunyikan tujuan-tujuan politik dan ekonomi mereka. Sehingga seolah mereka sedang benar-benar membela kepentingan agama. Ketika ada orang-orang yang menentang perbuatan mereka, maka dengan semena-mena mereka menuding bahwa orang tersebut telah menentang agama.

Pemahaman-pemahaman ekstrem mereka sebenarnya tidak berasal dari pemahaman terhadap agama, melainkan kesalahpaman terhadap teks agama. ISIS hanya berpaku pada teks-teks (Al-Qur’an dan hadis) tertentu yang sesuai dengan ideologi mereka saja, sembari mengabaikan teks-teks lain yang boleh jadi menjelaskan hal yang sebaliknya. Yang lebih penting, ISIS mengabaikan konteks sejarah dan budaya di mana suatu ayat dan hadis diturunkan. Kecenderungan tekstualis inilah yang menyebabkan terjadinya ketidakutuhan dalam pemahaman. Pada titik ini, agama sangat mungkin dijadikan legitimasi bagi berbagai tindak kekerasan dan teror. Padahal, agama bila dipahami secara utuh, ia tidak lain adalah ajaran cinta kasih.

Mengikuti jejak pergerakan ISIS serta segala kontroversinya, tentu menjadi pelajaran yang sangat penting bagi kita.  Meskipun ISIS sekarang telah porak poranda, ajaran-ajaran bernuansa kekerasan masih tetap eksis. Bukan mustahil akan lahir ISIS-ISIS baru yang jauh lebih ganas dan brutal. Apalagi ISIS dalam majalah Dabiq (majalah resminya) menyatakan bahwa hijrah tidak lagi mesti pindah tempat, di manapun seseorang tinggal selama ia menebar teror dan permusuhan terhadap kafir, maka tetap disebut hijrah.

Jika kita tarik lebih jauh, sesungguhnya politisasi terhadap teks agama bisa dilakukan oleh siapapun dan kelompok manapun (tak hanya ISIS). Kata ‘hijrah’ meskipun memiliki makna yang sangat agung, di tangan orang/kelompok yang tidak bertanggung jawab, terbukti bisa berubah menjadi alat politik yang  menggerakkan manusia menuju jurang ekstremisme. Hijrah adalah wacana agama yang sudah pasti baik tujuannya. Akan tetapi, wacana agama juga bisa menjadi berbahaya ketika berkolaborasi dengan kepentingan politik semisal yang dilakukan ISIS.  Oleh karena itu, kita mesti jeli membedakan antara urusan agama yang sakral dengan urusan politik yang profan. Mencampuradukkan keduanya bisa sangat fatal dan berbahaya. Maka, sudah menjadi tugas kita bersama untuk melawan wacana-wacana agama penuh kekerasan tersebut dengan menarasikan ulang wacana-wacana agama ke arah yang lebih membangun dan penuh cinta. Wallahu a’lam.

*Referensi : M. Najih Arromadoni, Daulah Islamiyah dalam Al-Qur’an dan Hadis (Pustaka Harakatuna, 2018)

2 Shares:
You May Also Like