MENGKAJI PSIKOLOGI DALAM PEMIKIRAN IBN MISKAWAIH

Ibn Miskawaih adalah cendekiawan Muslim yang lahir di Iran pada tahun 330 H/932 M dan meninggal tahun 421 H/1030 M. Ia hidup pada masa pemerintahan Dinasti Buwaihiyyah ‘Adhul al-Daulah. Ibn Miskawaih salah satu ilmuan yang multi disiplin ilmu, mulai ilmu filsafat, kimia, kedokteran, sejarah, etika, logika, sastra, dan agama. Selain itu, Ibn Miskawaih juga dikenal sebagai “Bapak Etika Islam” (Baca: Muhyidin Azmi di Nuralwala edisi 14 Januari 2021).

Secara garis besar, pemikiran Ibn Miskawaih dapat dikategorikan menjadi tiga bagian, yakni konsep teologis (ketuhanan), konsep antropologis (manusia) dan konsep akhlak/perilaku. Maka, tulisan ini akan fokus mengakaji pemikiran Ibn Miskawaih mengenai konsep manusia dalam kajian ilmu psikologi. Plato dalam K. Bertens (1983) Sari Sejarah Filsafat Barat, mengatakan, bahwa manusia terdiri dari badan (body) dan jiwa (psyche) yang saling berhubungan namun keduanya berbeda secara subtansial.

Pada tahun 1800-an terdapat bidang keilmuan yang mengkaji manusia melalui metode ilmiah, yakni ilmu psikologi. Tahun 1879, Wilhelm Wundt mendirikan Laboratorium Psikologi pertama di Universitas Leipzig, Jerman. Berdirinya laboratorium tersebut sekaligus menjadi tanda bahwa kajian metode ilmiah dalam memahami manusia telah ditemukan dan dimulai. Secara historis, psikologi merupakan cabang dari filsafat, seiring perkembangannya akhirnya psikologi menjadi ilmu yang mandiri.

Pada dasarnya, psikologi berasal dari dua kata, psyche yang berarti jiwa dan logos yang berarti ilmu pengetahuan. Oleh karena itu, psikologi sering disebut dengan istilah ilmu jiwa. Ruang lingkup pembahasan ilmu psikologi di antaranya, mempelajari tentang perilaku manusia dan proses mental (kejiwaan) manusia. Sebagaimana dalam karyanya Tahzib al-Akhlaq, Ibn Miskawaih membahas tentang jiwa, kebahagiaan, keadilan, cinta, kesehatan jiwa, penyakit jiwa dan cara penyembuhannya.

Baca Juga:  Al-Qur'an sebagai Guru Spiritual Manusia

Mengenai jiwa, Ibn Miskawaih menyebut jiwa sebagai subtansi material manusia yang bersifat independent serta memiliki power sendiri yang berbeda dengan jasad (tubuh). Dengan demikian, jiwa bukan badan, dan bukan pula bagian dari badan, namun keduanya memiliki hubungan yang tidak dapat dipisahkan. Sebab, jiwa tanpa badan bagaikan roh halus, sedangkan badan tanpa jiwa bagaikan mayat.

Komponen manusia terdiri dari badan dan jiwa. Jika badan dan jiwa merupakan dua hal yang berbeda yang tidak dapat dipisahkan, lantas bagaimana hubungan antar keduanya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Ibn Miskawaih menawarkan sebuah teori yang bernama psikosomatik.

Dalam teori psikomatik, kondisi jiwa akan mempengaruhi keadaan tubuh (badan), seperti kondisi stress, cemas, takut, depresi dan permasalahan psikis (jiwa) lainnya akan mengakibatkan terganggunya organ-organ tubuh dan mengalami sakit perut, sakit kepala, nyeri otot, sesak nafas dan lain-lain. Contoh lain, ketika seseorang sedang mengalami kondisi panik dan cemas maka kesadarannya akan terganggu, sehingga menjadikan aktifitas fisiknya tidak optimal.

Begitu juga sebaliknya, bahwa gangguan pada badan akan mempengaruhi kondisi jiwa. Misalnya, seseorang badannya sakit seperti panas, kepala pusing, akan menyebabkan kondisi jiwa terganggu serta kemampuan berpikir pun akan berkurang. Sebagaimana yang dikutip Bakri (2019), Ibn Miskawaih dalam Tahdzib al-Akhlaq mengatakan:

“Kita harus mengetahui bahwa salah satu dari keduanya (jiwa dan badan) bergantung pada yang lain, berubah karena yang satu berubah, sehat karena ia sehat dan sakit karena lainnya sakit. Hal ini dapat kita saksikan langsung dari aktivitas keduanya. Kita dapat melihat bahwa orang yang sakit tubuhnya apalagi jika penyebab adalah salah satu dari organ tubuh yang mulia yaitu otak dan hati orang itu akan berubah akalnya dan sakit jiwanya. Kita juga dapat melihat orang yang sakit jiwanya mudah emosi, mabuk cinta, maupun hawa nafsunya yang bergolak akan membuat badannya berubah sehingga ia gemetar, pucat, kurus dan perubahan-perubahan lalu yang bisa kita pantau secara inderawi.

 

Berdasarkan apa yang dikatakan Ibn Miskawai, maka hubungan jiwa dengan badan bersifat interaktif dan saling mempengaruhi. Pemahaman semacam ini juga dapat ditemukan dalam ilmu psikologi, yakni kondisi kejiwaan atau proses mental manusia dapat diidentifikasi melalui perilakunya. Bahkan pengamatan tersebut dilakukan dengan prodesur ilmiah.

Baca Juga:  Menghamba Secara Jasmani dan Rohani: Menuju Ihsan

Dengan demikan, meskipun jiwa dan badan mempunyai perbedaan secara subtansi, namun hubungan di antara keduanya begitu erat. Jiwa yang merupakan wujud immateri yang terikat oleh badan. Perilaku manusia merupakan hasil dari interaksi antara badan dan jiwa. Maka, kita sebagai manusia sudah seharusnya menjaga dan merawat badan dan jiwa secara seimbang. Jika badan butuh makan, maka jiwa pun juga membutuhkannya. Sebagaimana Imam al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulumiddin, makanan bagi jiwa salah satunya adalah ilmu.

2 Shares:
You May Also Like
Read More

Manusia, Akal dan Kemuliaan

“Tuhan telah memuliakan manusia dalam bentuk terbaik di antara semua makhluk lainnya”, Begitu firman Allah dalam kitab suci-Nya.…