Hijrah Milenial: Antara Hasrat dan Kebutuhan

Fenomena keagamaan masyarakat Indonesia khususnya kaum remaja menjadi perbincangan hangat untuk saat ini. Munculnya berbagai seminar hijrah di kalangan masyarakat, terlebih di kalangan remaja mengindikasikan bahwa ada sisi spiritualitas yang hilang dalam diri masyarakat. Gerakan tersebut oleh kalangan remaja dianggap sebagai solusi utama di tengah arus modernitas yang dianggap sangat materialistis.

Konsep hijrah yang ideal tersebut, realitanya tidak sama sekali menampakkan makna serta spirit hijrah yang sesungguhnya. Justru kaum milenial terjebak pada simbol-simbol keagamaan semata. Sehingga, hijrah tidak lagi menjadi sebuah kebutuhan, melainkan hanya sebatas sebuah hasrat, di mana hijrah tidak benar-benar hadir secara utuh dalam diri kaum milenial.

Di tengah krisis identitas yang melanda manusia-manusia modern, Islam dalam konteks keagamaan Indonesia tampak jelas memperlihatkan semangat keagamaan yang sangat luar biasa. Khususnya kaum milenial, mereka meluapkan cara keagamaan dengan melabeli cara berpakaian dengan label syar’i. Bagi mereka, label ini sangat perlu guna ingin menunjukkan eksistensi mereka dalam menjalankan syariat agama. Bagi kelompok hijrah milenial, agama dipahami secara eksklusif, agama hanya dipahami secara sempit dalam interpretasi kelompok mereka sendiri. Agama tidak lagi dijadikan sebagai spirit kebersamaan.

Spirit keagamaan yang condong ke arah purifikasi tersebut, disinyalir salah satu penyebabnya yaitu munculnya seorang agen di mana dia membawa transmisi keagamaan dari Timur Tengah ke Indonesia. Selain itu, konsep dakwah mereka mudah diterima oleh kalangan remaja dikarenakan konten yang mereka sampaikan kebanyakan seputar pernikahan, cara berpakaian, di lain itu mereka para pendakwah menambahkan sedikit motivasi yang dibungkus dengan agama. Sehingga oleh kaum milenial dianggap sebagai sebuah oase bagi hidup mereka yang kering akan ruh keagamaan.

Baca Juga:  Hijrah (3) : Hijrah dari Masyarakat Jahiliyah

Selanjutnya, di tengah realitas modern pemahaman hijrah sendiri bergeser, bukan lagi apa yang selama ini dipahami dalam konsep kenabian, bahwa Nabi Muhammad saw. melakukan perpindahan dari Makkah ke Madinah dikarenakan tekanan suku Quraisy yang tidak setuju akan misi dakwah Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Tetapi, konsep hijrah hari ini hanya dipahami serta dibatasi hanya pada cara berubahnya berpakaian yang awalnya dianggap tidak syar’i ke yang lebih syar’i.

Sedangkan oleh kaum laki-laki cirinya adalah ditumbuhkannya jenggot, memakai celana di atas mata kaki (atau biasanya disebut dengan istilah isbal). Fenomena-fenomena tersebut muncul biasanya disebabkan oleh konsumsi mereka atas para pendakwah yang lebih melihat ajaran agama sebagaimana teks semata. Para pelaku hijrah jarang sekali melihat aspek lain dari ajaran agama Islam, misal saja tentang kompleksitas pemahaman akan Al-Qur’an yang dibuktikan dengan munculnya beragam tafsir Al-Qur’an.

Selain itu, pemahaman agama Islam tidak hanya seputar Al-Qur’an dan as-Sunnah semata, namun juga berkaitan dengan epistem keilmuan lain semisal kajian fikih, tasawuf, teologi, dan tentunya masih banyak khazanah-khazanah keilmuan Islam lainnya. Harusnya ajaran agama Islam harus dipahami secara menyeluruh, dalam artian terdapat banyak perbedaan pemahaman dalam Islam yang itu diperbolehkan dan bahkan dianjurkan. Hal tersebut mengindikasikan bahwa belajar agama Islam tidak untuk menegasikan pemahaman yang berbeda dengan pemahaman yang lain. Justru perbedaan tersebut sebagai rahmat yang diberikan Allah kepada seluruh hamban-Nya.

0 Shares:
You May Also Like