MURSYID PERSPEKTIF PSIKOLOGI

Imam al-Ghazali mengungkapkan, tasawuf dan fikih merupakan “satu” hal yang sama. Hemat penulis, diibaratkan buah durian, jika tasawuf merupakan isi dari buah durian, maka fikih merupakan kulitnya. Sebagaimana al-Mun’in al-Hifny, titik temu antara tasawuf dan fikih adalah keduanya bertujuan menuju penghambaan dan ketakwaan.

Mengenai tasawuf dan fikih perlu dipahami. Pertama, tasawuf mempunyai penekanan yang lebih pada aktifitas batin, dan bentuk olah jiwa. Kedua, fiqih berkonsentrasi dalam isntimbat hukum-hukum lahir. Dengan demikian, tidak ada alasan untuk memisahkan keduanya. Sebagaimana para mursyid (guru tasawuf) yang menguasai berbagai disiplin ilmu agama, yakni akidah, syari’at, dan hikmah.

Tasawuf merupakan ilmu hikmah yang mengupas masalah hati (al-qalb). Tarekat sebagai jalan untuk pembersihan diri (tazkiyatun nafs). Musryid berperan sebagai pembimbing dalam mendekatkan diri kepada Ilahi Rabbi. Dalam tasawuf adanya seorang mursyid sudah menjadi keniscayaan. Namun, bagaimana peran seorang mursyid jika dilihat dari sudut pandang ilmu psikologi?

Sebelumnya, mari kita pahami terlebih dahulu mengenai salah satu cabang ilmu psikosufistik, yang akrab disebut dengan istilah psikologi sufi. Psikologi sufi merupakan aspek keilmuan yang spesifik dari psikologi islami. Robert Frager seorang ahli psikologi dari Harvard University, dalam bukunya Heart, Self, and Soul: The Sufi Psychology of Growth, Balance, and Harmony telah mengupas topik ini.

Pada tahun 1980, perjumpaan Frager dengan Syaikh Muzaffer Ozak seorang mursyid tarekat Halveti Jerrahi yang berasal dari Istanbul, Turki. Melalui khutbah keagamaannya banyak yang terinspirasi untaian cerita penuh makna dan hikmah dari Syaikh Muzaffer. Ceramahnya menghunjam di hatinya orang-orang alim dalam Islam. Pesan moralnya menyentuh hati kemanusiaan secara universal.

Dari sinilah, Frager tertarik dengan tasawuf dan melakukan simbiosisme antara ilmu psikologi dan tasawuf. Pada akhirnya ia menjadi pengikut tarekat Halveti Jerrahi dan menjadi murid Syaikh Muzaffer. Ketertarikannya dengan topik tersebut dibuktikan dengan mendirikan Transpersonal Psychology Institute. Namanya pun dikenal dengan sebutan Prof. Syaikh Ragip al-Jerrahi alias Robert Frager.

Baca Juga:  Umat Islam Hari Ini: Mengubur Epistemologi, Menyuburkan Provokasi

Psikologi merupakan cabang ilmu pengetahuan yang mengupas perilaku dan proses mental manusia melalui prosedur ilmiah. Pada 1879, Wilhelm Wundt mendirikan laboratorium Psikologi di Universitas Leipzig, Jerman. Berdirinya laboratorium tersebut sekaligus menjadi tanda berdirinya ilmu psikologi sebagai ilmu pengetahuan.

Ilmu psikologi menyakini bahwa hampir semua pengetahuan dapat disampaikan melalui narasi rasional berdasarkan mekanisme ilmiah. Sedangkan tasawuf memahami narasi-narasi tertulis bersifat terbatas dan kondisi perkembangan spiritual tertinggi ialah melampaui deskripsi rasional (meta-rasional).

Dengan demikian, munculnya psikologi sufi adalah sebagai alternatif untuk mengisi “kekosongan” yang ada dalam psikologi ataupun tasawuf. Agar tasawuf dapat dibumikan dengan narasi-narasi ilmiah, dan psikologi dapat menjangkau kondisi spiritual tertinggi dalam melihat permasalahan manusia. Untuk mencapai ini diperlukan pembimbing, dalam psikologi dapat disebut dengan “mentor”, jika dalam tasawuf dapat disebut dengan “mursyid”.

Secara psikologis, setiap manusia membutuhkan seorang mentor agar hidupnya ada yang memberi arahan, termasuk dalam urusan spiritualitas keagamaan. Peran mentor dapat membangkitkan kondisi “labil” dan menyumbang semangat dalam kondisi “stabil”. Dalam tasawuf, mentor dapat disebut dengan istilah mursyid (pembimbing), syaikh (guru), thabib al-ruh (dokter ruh), thabib al-nafs (dokter jiwa), walid as-sirr’ (orang tua mata hati).

Syaikh (guru) dalam pandangan al-Ghazali, seorang yang menyampaikan sesuatu kepada orang lain (murid) dengan melibatkan institusi, getaran hati dalam menyampaikan ilmu, yang berujung pada kondisi ikhlas antara pemberi dan penerima. Ilmu ditransformasikan dari hati ke hati. William James ketika mengupas mysticism, bahwa peran mentor sangat dibutuhkan manusia dalam menghadapi kehidupan. Lalu, apa peran mentor?

Hadirnya seorang mentor (mursyid) akan membantu apa yang menjadi problem dalam kehidupan manusia. Peran dan arahan mentor di sini bersifat lebih khusus, sebab seorang mentor dapat mengetahui potensi apa yang kita miliki. Sebagaimana dalam tasawuf, seorang guru sufi dapat memahami bagaimana kondisi batin muridnya, bahkan muridnya sendiri tidak mengetahui hal itu. Tentu, ini sudah melampui level rasionalitas, atau dapat dikatakan meta-rasional.

Baca Juga:  Impak Dosa terhadap Eksistensi dan Pengetahuan Manusia Menurut Suhrawardi Al-Maqtul

Syaikh Ibn ‘Atha’illah menggambarkan bagaimana model pendidikan ala mursyid. Sebagaimana yang diungkapkan, Gurumu bukan hanya kau dengar / Tetapi adalah orang yang kau ambil darinya. Gurumu bukan saja orang yang penjelasanya mengarah padamu / Tetapi, gurumu adalah yang isyaratnya mengalir kepadamu. Gurumu bukan hanya yang mengajakmu ke pintu / Akan tetapi, gurumu adalah orang yang mengangkat hijab antara dirimu dan Dia.

Gurumu bukan saja orang yang ucapanya tertuju kepadamu / Akan tetapi, gurumu adalah yang rohaninya membangkitkan semangatmu. Gurumu adalah orang yang membebaskanmu dari penjara nafsu, dan mengantarmu menemui Tuan Yang Maha Tinggi.

Dengan demikian, seorang mursyid memiliki peran sebagai mentor dalam kehidupan manusia. Seorang yang memiliki mentor, hidupnya akan terarahkan dan cerah-mencerahkan. Sebagaimana dalam khazanah Quantum Sufi Darul Afkar Instititute terdapat ungkapan, “Siapa yang tercerahkan ia akan tergilakan”. Tergilakan yang dimaksud adalah tersingkapnya hijab, sehingga menjadikan orang tersebut memiliki perilaku tidak normal dalam konteks positif.

0 Shares:
You May Also Like