Menyoal Islamofobia

Oleh: Cusdiawan

Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Padjadjaran

Samuel Paty, seorang guru sejarah dibunuh di Conflans-Sainte-Honorine. Penyebab pembunuhan tersebut, karena sebelumnya Samuel Paty membuka diskusi soal karikatur Nabi Muhammad saw. Kasus pembunuhan ini dapat kembali membuka luka lama dan bahkan memperdalamnya, yakni soal isu Islamofobia.

Mengutip Robertus Robert dan Hendrik Boli Tobi dalam buku Pengantar Sosiologi Kewarganegaraan (2017), Islamofobia adalah istilah untuk menggambarkan ketakutan, kebencian, atau prasangka tentang Islam dan Muslim. Islamofobia mencakup perilaku diskriminatif sistematis kepada seseoang/sekelompok orang hanya karena dia/mereka Muslim. Perilaku tersebut mencakup serangan fisik, tuturan lisan dan tulisan yang bertujuan melecehkan atau menyebabkan kebencian.

Pasca peristiwa 11 September, pada Mei 2002 Pusat Pemantauan Rasisme dan Xenofobia Uni Eropa (EUMC) melansir studi komprehensif mengenai Islamofobia di 15 negara anggota Uni Eropa. Studi tersebut memperlihatkan komunitas Muslim di Eropa mengalami diskriminasi seperti pelecehan verbal hingga serangan fisik secara reguler.

Mengutip Robertus Robert dan Hendrik Boli Tobi (2017), survei di Prancis, menunjukkan bahwa 68 persen orang Prancis meyakini kaum Muslim tidak berintegrasi dengan baik dalam masyarakat. Sebanyak 61% menyalahkan kegagalan integrasi pada ketidakmauan kaum Muslim untuk berintegrasi. Sebanyak 42% orang Prancis berkeyakinan kaum Muslim sebagai ancaman terhadap identitas Prancis.

Partai Front Nasional di Prancis bentukan Jean Marie Le Pen pun dikenal memainkan narasi rasisme dan Islamofobia. Le Pen pernah mengkritik banyaknya pemain “non kulit putih” dalam tim sepakbola nasional Prancis. Komentar-komentarnya mengenai kaum Muslim Prancis pun membuatnya pernah didenda dua kali oleh pengadilan tinggi Prancis dan dikecam oleh Mahkamah HAM Eropa.

Itulah sebabnya mengapa di awal tulisan ini saya mengemukakan bahwa Islamofobia dapat membuka luka lama dan bahkan memperdalamnya, karena memang isu tersebut bukanlah isu baru di Barat secara umumnya ataupun di Prancis secara khususnya.

Baca Juga:  Belajar Pluralisme dari Al-Qur'an

Terbunuhnya guru sejarah di Prancis ini, tentu perlu menjadi keprihatinan kita bersama. Di satu sisi, kita perlu mengutuki aksi pembunuhan tersebut, tetapi di sisi lain, kita perlu mengkhawatirkan adanya pembunuhan tersebut dapat mengakibatkan menguatnya sentimen terhadap kaum Muslim.

Bila kita cermati, isu Islamofobia ini sangat berkaitan juga dengan salah satunya soal isu radikalisme. Akan tetapi bukan sebuah sikap yang fair atau adil juga jika pembunuhan tersebut maupun tindakan radikalisme secara umumnya dijadikan sebagai dalil untuk menguatkan sentimen terhadap Muslim dan menguatkan Islamofobia. Perlu kita pahami bersama, bahwa ekspresi keislaman amatlah kompleks, begitu beragam, dan karena itu tidak dapat dihomogenkan.

Artinya, bila saya tarik ke konteks yang lebih luas, radikalisme, termasuk dengan apa yang disebut dalam kajian Ilmu Politik sebagai ‘Islamisme’ tersebut tidak dapat dikatakan merepresentasikan Islam sama sekali. Saya melihat Islamofobia maupun sikap curiga terhadap kaum Muslim ini muncul karena ketidakpahaman dari mereka (sebagian masyarakat Barat) yang menstigma Islam secara umumnya terhadap kompleksitas ekspresi keislaman, dan mirisnya, hal ini dilakukan juga oleh beberapa ilmuwan sosial atau politik.

Dalam kajian Ilmu Politik misalnya, ada beberapa ilmuwan, seperti Huntington dan sebagainya, sebagaimana yang terangkum dalam disertasi Saeful Mujani di Ohio State University yang berjudul Religious Democratic: Democratic Culture and Muslim Political Participation in Post-Soeharto (2003), yang menyebut bahwa Islam tidak compatible dengan demokrasi.

Salah satu penyebab munculnya kesimpulan tersebut, karena para ilmuwan tersebut gagal menangkap kompleksitas Islam dan menganggap bahwa ‘Islamisme’ merepresentasikan ekspresi keislaman. Rasa curiga terhadap Islam tersebut didasarkan pada ketidakpahaman mereka terhadap kompleksitas Islam. Mereka tidak memahami bahwa yang mereka pahami sebagai “Islam radikal” sesungguhnya tidak merepresentasikan ekspresi keislaman sama sekali.

Baca Juga:  Menghamba Secara Jasmani dan Rohani: Menuju Ihsan

Saya pribadi, mengkhawatirkan kasus pembunuhan ini dan bila kita melihat respon beberapa negara Muslim, dapat semakin menghadirkan “ketegangan”, dan yang saya khawatirkan, tesis Huntington tentang clash of civilizations akan semakin mendapatkan tempatnya. Selain itu, saya rasa melakukan dukungan terhadap penghinaan simbol agama tertentu sebagai bagian dari kebebasan berkespresi bukanlah hal yang dibenarkan. Kasus pembunuhan guru sejarah ini dan “ketegangan” yang ditimbulkan setelahnya, harusnya menjadi pembelajaran untuk lebih menghormati kepercayaan atau ekspresi kebudayaan orang lain.

Seharusnya, yang dilakukan oleh pemerintah Prancis, kembali mengutip Robertus Robert dan Hendrik Boli Tobi (2017), yakni memperdalam multikulturalisme yang mengedepankan penghormatan terhadap keberagamaan sekaligus mendorong pertemuan antar budaya agar saling mengenal dan berpartisipasi dalam masyarakat.

Saya berpandangan, untuk “meredakan ketegangan” tersebut dan mengurangi kemungkinan menguatnya Islamofobia, cendikiawan Muslim Indonesia harus bekerja lebih ekstra untuk semakin mengenalkan Islam yang ramah, termasuk ke dunia Barat. Ketegangan tentu tidak kita harapkan, terlebih lagi di situasi pandemi, di mana sangat dibutuhkan suatu “solidaritas global”.

Secara umumnya, saya rasa upaya dialog antar agama pun perlu untuk semakin digalakkan, sebagai upaya untuk membuat situasi lebih teduh. Dalam Global Responsibility: In Search of a New World Ethic yang ditulis oleh Hans Kung (1991), dikatakan “No survival without a world ethic. No world peace without peace between the religions. No. peace between the religions without dialogue between the religions”. Bahkan, bagi saya, bukan hanya dialog antar-agama, dialog dengan orang non-agama pun perlu dilakukan.

0 Shares:
You May Also Like