METODE SAINS LEBIH BAIK DARI AGAMA DAN FILSAFAT? NANTI DULU, KATA TUAN WITTGENSTEIN

Oleh: Haidar Bagir

Pengasuh Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf

Kalau ada yang bilang metodologi sains lebih baik daripada filsafat atau agama, dia harus tahu benar sains, juga filsafat dan agama. Kalau tidak, bagaimana bisa membandingkan dengan fair  dan bilang metodologi sains lebih baik dari yang lain? Apalagi kalau tidak benar-benar tahu tentang sains? Sebaiknya seseorang membatasi pada yang benar-benar diketahuinya saja.

Seperti saat Imam al-Ghazali sebagai agamawan (sufi) mengkritik pemikiran filsuf. Dia pelajari filsafat (peripatetik-diskursif), khususnya dalam Ibn Sina, dan menuliskan Maqashid al-Falasifah (Maksud-Maksud Kaum Filsuf) dengan sebegitu bagus dan fair, hingga sempat dikira orang sebagai karya Ibn Sina sendiri.

Sekarang ini, orang mengkritik agama padahal tidak banyak tahu tentang agama. Orang  suka lupa bahwa pemikiran-pemikiran yang berbeda memiliki apa yang oleh Wittgenstein disebut sebagai language game khas. Jangankan beda agama, intra-agama yang sama pun language game-nya bisa beda. Apalagi antar sains, filsafat dan agama. Lebih-lebih antara ateisme dan agama. Dan metodologi berjalin berkelindan dengan permainan bahasa ini. Bahkan seluruh aspek pemahaman tertentu, tak peduli itu agama, filsafat, atau sains, terkait erat dengan language game ini. Maka men-judge (metodologi) agama dan filsafat dengan language game yang lain sesungguhnya cuma menunjukkan kesempitan wawasan pelakunya.

Menurut penggagas language game ini, makna adalah hasil dari suatu permainan bahasa. Bahwa seseoang atau suatu kelompok mendapatkan makna dari bahasa yang dipakai dalam (konteks) kelompok yang di dalamnya bahasa itu digunakan, yakni merujuk kepada kehidupan dan komunitas yang di dalamnya mereka “dimainkan”.

Berbicara (dengan) bahasa adalah bagian dari suatu aktivitas, atau suatu bentuk kehidupan. Kompleks dan jauh lebih tak sesederhana apa yang disampaikan para ahli logika  tentang struktur bahasa. Sejalan ini, (bahasa agama—atau bahasa filsafat, atau kita harus mengatakan  bahasa dalam kelompok—mazhab-mazhab/aliran-aliran/kelompok-kelompok pemahaman yang berbeda-beda di dalam agama atau aliran filsafat yang sama) punya aturan-aturan (rule of the game)-nya sendiri. Rule of the game ini kadang malah tidak terstruktur sama sekali. Atau, setidaknya, strukturnya hanya dipahami oleh si pemakai bahasa yang berasal, atau sudah “tenggelam”, dalam (rule of the game) kehidupan dan komunitas itu. Dan dalam konteks ini, bahasa agama adalah yang paling khas. Tapi, juga aliran-aliran filsafat tertentu yang tidak terlalu bersifat diskursif-analitis. Sebagai akibatnya, orang tak bisa membuat asumsi asal-asalan yang menyamakan bahasa agama dengan bahasa matematis atau penegasan saintifik.

Baca Juga:  PERTAMA KALI TERJAGA TENTANG KESATUAN TRANSENDENTAL AGAMA-AGAMA (BAGIAN 3)

Untuk memahami bahasa agama, dan bahasa pemikiran-pemikiran yang tak mengikuti bahasa diskursif rasional atau saintifik, orang harus mempertimbangkan semua konteks sebuah pernyataan, yang amat kompleks, melewati sekadar konteks logis dan empirisnya belaka. Jadi, kalau pun ada perbedaan pandangan di antara suatu aliran dengan aliran lain, misal antara agama dan sains, seringkali masalahnya tidak terkait dengan urusan fakta (matter of fact). Persoalannya tidak selalu harus terkait dengan rasionalitas. Agama, sebagaimana aliran-aliran filsafat nondiskursif tertentu seringkali memang tak bersifat rasional, setidaknya dalam makna (se-“sederhana”) rasionalitas sebagaimana dipahami sains. “Kesederhanaan” rasionalitas saintifik ini yang sering menyebabkan orang menganggap (bahasa) agama sebagai tidak bisa dipertanggung-jawabkan—bagi orang-orang yang tidak memahaminya. Kelebihan sains memang adalah, juga rasionalisme “mentah”, adalah kesederhanaannya ini. Sayangnya, manusia modern sudah terlalu capek—dan terbiasa dengan cara hidup pragmatisme dan malas untuk memahami atau hidup dengan bahasa-bahasa yang kompleks Dan yang lebih parah dari itu adalah kemudian mereka mencemooh agama, dan filsafat.

Setelah ini saya akan menulis tentang epistemologi dan bahasa agama, in sya’ Allah

29 Shares:
You May Also Like