Kita Tumbuh Menjadi Umat yang Kurang Merenung

Saya tak perlu perbandingan kuantitatif untuk menilai dan menghargai bangsa saya dan tanah air tempat di mana saya lahir ini. Maksudnya, tak perlu dibanding-bandingkan dengan negeri lain. Tentu saja, catatan dan laporan data mengenai angka-angka yang menunjukkan kondisi sosial, politik, maupun ekonomi kita, yang dikeluarkan banyak lembaga, tetap penting sebagai acuan.

Namun, sebenarnya, betapa penghargaan kita atas nikmat Allah bernama Indonesia sudah sepatutnya selalu dirasakan dan ditunjukkan. Islam mengenalnya dengan nama tahaddutsbi al-ni’mah. Artinya, kita mengenang-ngenang (baik dengan hati maupun lisan) nikmat Allah kepada kita. Dan Indonesia adalah nikmat yang patut setiap anak bangsa ini syukuri.

Pemandangan sosial-empiris bangsa ini, yang masih tak bisa lepas dari problem-problem ketidak-adilan, tidak disiplin, tidak bersih, tidak tertib, tidak jujur, tidak kreatif, dan seterusnya, perlu dicermati bukan semata-mata akibat dari gagalnya sistem dan kebijakan politik, ekonomi dan pendidikan negara ini dalam skala makro; melainkan sebagai persoalan kemanusiaan, persoalan eksistensial, dan persoalan hati nurani.

Kita, sebagai individu, tampaknya kurang mampu menghayati arti hidup sebagai manusia, tujuannya, dan tugasnya di muka bumi. Kita kurang merenungi, betapa hidup dalam wujud manusia ini, bukan sebuah hal yang remeh.

Mengapa Tak Belajar dari Al-Farabi?

Saya adalah bagian dari umat Islam, elemen besar yang ikut menyusun komposisi demografis maupun ideologis bangsa Indonesia. Oleh karena itu, saya akan berbicara dalam kapasitas sebagai seorang Muslim, dan akan banyak menggunakan istilah dan rujukan dunia kesarjanaan Islam. Hal ini wajar saja toh.

Saya juga melihat di masyarakat tumbuh (biar pun sedikit-sedikit) rasa tidak suka terhadap Islam dan orang-orangnya. Sebabnya bisa banyak. Tapi justru lebih sering diakibatkan oleh emosi yang mendahului hati nurani. Kita gampang marah, lalu meluapkan amarah itu ke objek yang kita tak suka. Barangkali tulisan-tulisan kecil ini, tentu jika dibaca, bisa sedikit meredam rasa amarah. Bisa lebih membuat kita mengenal Islam dan umatnya, yang ternyata tidak semuanya seburuk yang Anda kira.

Status sebagai pemeluk agama dengan jumlah terbanyak di tanah air, semestinya dilihat oleh kita sebagai beban dan amanah. Artinya, sudah sedemikian rupa Allah memberi kesempatan pada kita hidup dan beranak-pinak di sini; seharusnya kita bukan sekadar numpang hidup, atau justru menjadi benalu yang bukannya memperindah, justru mencelakakan yang lain.

Dan akar dari problem belum mampunya umat Islam di Indonesia memaksimalkan potensi kemanusiaan dan potensi peradabannya adalah karena kita telah mencabut akar-akar inspirasi Islam dari kesadaran kita.

Apa sih maksudnya? Maksudnya, kita memang Muslim, namun tidak tumbuh sebagai manusia yang peduli pada hakikat kemanusiaan kita. Padahal Islam justru hadir untuk membalikkan kesadaran; dari yang materialistis, menjadi spiritualis; dari yang irasional, menjadi rasional; dari yang egois, menjadi berjiwa keadilan; dan seterusnya.

Baca Juga:  Ibadah Terbaik untuk Tuhan: Membahagiakan Orang-orang Yang Sedih

Abu Nasr Al-Farabi, salah satu ilmuwan penting dunia Islam, adalah juga salah satu orang yang hari ini warisannya tak kita gubris, dan tak kita peduli. Warisan apa itu? Pemikiran filsafat Al-Farabi—bersama juga filsafat Islam pada umumnya—tak cukup mendapat perhatian kita.

Apa pun sebabnya itu semua; sebenarnya tak bisa kita jadikan alasan dan pembenaran. Al-Farabi, adalah orang pertama di dunia Islam yang mengajarkan kita bahwa tujuan hidup ini adalah kebahagiaan. Tugas kita adalah berjalan menuju kebahagiaan itu. Caranya adalah dengan aktualisasi potensi rasional kita. Dan salah satu yang diwajibkan oleh akal kita adalah perlunya hidup sebagai manusia dalam bentuk masyarakat beradab. Kita perlu belajar mendahulukan orang lain, daripada keinginan diri sendiri.

Kebahagiaan dan Pengetahuan

Mungkin Anda akan mengira saya mengada-ada, karena saya mengatakan bahwa gara-gara kita tak peduli pada Al-Farabi (dan juga Ibn Sina, Ibn Miskawayh, dan filsuf Muslim lainnya), makanya kita mengalami krisis kemanusiaan. Silakan dikira seperti itu. Keyakinan ini sudah ada sejak lama pada diri saya. Anda pun jika rutin mempelajari kandungan filsafat Islam akan menarik kesimpulan serupa.

Di sini mungkin perlu saya ajukan dua sumber bacaan supaya Anda bisa memahami juga bahwa akibat filsafat Islam disisihkan di dunia Islam, maka kemunduran kualitas pemahaman umat ini akan dirinya sendiri, dan akan realitas sosial maupun natural menjadi terdistorsi, bahkan cenderung mengalami kesalahan.

Buku pertama adalah Islam without Extremes: A Muslim Case for Liberty (2011) karya Mustafa Akyol. Yang kedua, Islam, Authoritarianism, and Underdevelopment (2019) karya Ahmet Kuru. Kedua-duanya ilmuwan asal Turki, negara tempat saya mondok selama empat tahun.

Kita lanjutkan pembicaraan ke Al-Farabi. Tahukah Anda apa yang Anda cari dalam hidup yang cuma satu-satunya ini? Ada banyak debat tentang tema ini. Anda bisa jadi doktor dengan hanya menguasai satu tema ini saja. Namun begitu, bagi Al-Farabi, hidup ditujukan hanya kepada kebahagiaan. Kebahagiaan adalah tujuan tertinggi.

Kebahagiaan bagi pendiri mazhab Peripatetik Islam ini adalah keadaan jiwa yang lepas dan bebas yang dirasakan ketika manusia mampu mengaktualisasikan potensi rasionalnya. Mengapa harus potensi rasional? Sebab, itulah inti dari arti kita sebagai manusia.

Manusia itu bukan tukang makan, tukang foya-foya, atau tukang-tukang lainnya. Manusia itu artinya binatang yang berpikir. Spesies yang berpikir. Berpikir adalah unsur terpenting dari jiwa manusia. Itulah yang membedakan manusia dari hewan lainnya. Itulah amanah terbesar yang Tuhan titipkan pada kita.

Baca Juga:  Mengukuhkan Nilai Kemanusiaan: Respon terhadap Terorisme

Itu artinya, jalan menuju dan mewujudkan kebahagiaan adalah dengan pengetahuan. Ilmu dan pengetahuan menjadi syarat wajib bagi lahirnya kebahagiaan bagi manusia. Dan, Al-Farabi menjelaskan pada kita tentang apa saja pengetahuan yang perlu kita dapatkan demi menjadi bahagia. Dalam kitabnya, Tahshil al-Sa’adah, Al-Farabi sering menukar-nukar menyebut kebahagiaan (al-sa’adah) dan kesempurnaan (al-kamal). Karena, memang baginya kebahagiaan itu adalah kesempurnaan. Tentu saja kesempurnaan kita sebagai manusia.

Ada empat pengetahuan yang perlu kita kuasai. Dalam kitab ini, Al-Farabi juga menukar-nukar penyebutan pengetahuan (‘ilm) dan keutamaan (fadhilah). Karena memang, baginya pengetahuan adalah hal paling utama dalam hidup manusia ini. Pengetahuan pertama yang kita perlukan adalah pengetahuan teoretis (al-ulum al-nazhariyyah). Kedua, pengetahuan praktis (al-ulum al-khuluqiyyah). Ketiga, pengetahuan deliberatif (al-ulum al-fikriyyah). Dan terakhir, pengetahuan seni pekerjaan (al-shana’ah al-amaliyyah).

Teori Artinya Merenung

Tulisan ini berangkat dengan tema bahwa kita selama ini tumbuh menjadi umat yang kurang merenung. Itu semua karena saya yakin bahwa akibat kurangnya perenungan, refleksi, dan kontemplasi oleh individu-individu Muslim, makanya kita ikut mengalami krisis kemanusiaan. Betapa lama kita menunggu lahir dan hadirnya Muslim yang sadar akan kemanusiaan, sadar akan pentingnya menjadi beradab, sadar akan pentingnya peradaban. Dan hal itu karena perenungan tak pernah jadi agenda rutin hidup kita.

Al-Farabi menekankan pentingnya perenungan dan refleksi bagi tercapainya kebahagiaan. Pengetahuan pertama yang wajib kita punya adalah pengetahuan teoretis, dan teori dalam bahasa aslinya, Yunani, artinya perenungan, kontemplasi, dan penglihatan. Artinya, dengan pengetahuan ini kita jadi merenung akan sesuatu.

Nah, apa yang menjadi isi dari pengetahuan teoretis ini? Isinya, menurut Al-Farabi, setidaknya ada dua. Pertama pengetahuan tentang prinsip-prinsip utama eksistensi. Kedua, ilmu matematika, ilmu alam, ilmu metafisika, dan ilmu peradaban. Jangan bingung dulu. Inilah komposisi bahan-bahan yang kita perlukan supaya perenungan dan refleksi kita menjadi benar. Dan hanya refleksi yang benar yang bisa membawa kita pada kebahagiaan.

Pengetahuan tentang prinsip-prinsip utama dalam hidup itu, seperti ini penjelasannya: Segala yang eksis dalam alam semesta selalu mempunyai sebab bagi kejadiannya. Bukan hanya sebab bagi eksistensi; biasanya ia juga adalah prinsip inti, atau bahasa kita sekarang, hakikat dari wujud tertentu. Contoh sederhananya adalah, manusia. Anda, sebagai manusia, muncul bukan begitu saja. Ada penyebab wujudnya. Dan ada inti hakikatnya.

Bukan hanya manusia, setiap benda di alam ini punya penyebab, pemberi bentuk, dan tujuan hidup. Itulah mengapa ada proses evolusi dalam penciptaan. Penciptaan adalah proses bertahap (evolutif) di mana satu materi menyebabkan materi lainnya menjadi ada. Dari perenungan akan sebab dan prinsip ini, kita memahami adanya Tuhan sebagai sebab yang mencipta. Begitu pula kita jadi paham, bahwa Tuhan adalah awal sekaligus akhir yang kita tuju.

Baca Juga:  Inilah Daftar Kitab yang Harus Dipelajari Menurut Imam Al-Haddad

Lalu, apa inti hakikat dari kemanusiaan Anda? Menurut Al-Farabi, jika kita merenungkan manusia, kita tak mungkin menyimpulkan bahwa manusia itu sama saja dengan binatang lainnya. Tidak mungkin keutamaan kita ada pada kemampuan makan, bikin anak, atau membunuh. Hal-hal itu adalah ciri khas binatang. Tapi kita, manusia, lebih daripada itu. Jika direnungkan, maka kita tak bisa menolak kesimpulan bahwa jiwa (al-nafs) adalah hakikat kita. Dan jiwa ini tentu punya sifat. Sifatnya adalah rasionalitas. Artinya, jiwa yang rasional.

Apa Gunanya Merenung?

Karena inti dari kemanusiaan adalah jiwa rasionalnya, maka kebahagiaan manusia juga terdapat dalam jiwa rasional tersebut. Jiwa rasional itu juga yang bisa mengenali Tuhan sebagai kekasih yang paling dirindukannya.

Silakan Anda tak peduli pada upaya merenungkan prinsip-prinsip yang Al-Farabi tawarkan ini. Tapi, saya cuma mengingatkan, bahwa jika Anda mengacuhkan hakikat Anda sebagai jiwa rasional, maka selamat menjadi binatang seperti binatang lainnya. Anda pun hidup untuk makan, bikin anak, mengejar kekayaan, bersaing untuk popularitas, dan seterusnya.

Hari ini, inilah yang terjadi. Tak ada lagi agenda yang isinya merenungkan secara mendalam hakikat dan tujuan kehidupan. Hilang sudah spirit dari hidup yang diilhami oleh Islam. Tanpa sadar, kita menjadi sangat materialistis, hedonis, dan gemar bersaing, yang ujung-ujungnya saling menjatuhkan demi keuntungan sendiri-sendiri.

Coba renungkan prinsip satu lagi dari Al-Farabi berikut ini. Bahwa manusia tak akan mampu mengaktualisasikan potensi jiwa rasional tanpa ia menggunakan kehendak bebasnya (al-iradah) untuk beramal dan berinteraksi secara santun, baik, jujur, adil, dan saleh kepada orang-orang lain.

Bagi Al-Farabi, bukti bahwa kita manusia yang baik adalah pengetahuan kita yang lengkap. Ingat, ada empat ranah pengetahuan yang wajib kita kuasai. Dan, bukti bahwa pengetahuan kita sudah lengkap adalah amal dan aktivitas sosial kita yang juga baik, seimbang, dan harmonis. Itu juga menjadi alasan mengapa manusia disebut zoon politicon, atau binatang sosial, binatang yang mampu bernegara. Bahkan hidup bernegara bergantung pada perenungan.

Hari ini kita mengalami krisis harmonisme, krisis keadilan, dan krisis kesantunan. Sebabnya bisa banyak. Tapi, tolong, jangan lupakan akar dari masalah ini. Akarnya adalah karena kita mengubur jiwa rasional itu, dan mengubur segala potensinya.

23 Shares:
You May Also Like