Hijrah (10) : Kata Nabi, “Jangan Menakut-Nakuti”

Saat itu, hari penerimaan raport. Aku dan teman-teman sedang duduk di bawah pohon menanti wali kelas datang untuk membagikan raport. Kami sedang asik-asiknya menebak-nebak siapa yang akan jadi rangking kelas semester ini. Tiba-tiba, salah-satu teman menepuk bahuku lantas menunjuk ke arah gerbang sekolah. Sontak, kami semua langsung memalingkan pandangan ke arah gerbang. Kami melihat dua orang masuk gerbang dengan grasah-grusuh. Mereka bukan siswa. Tampaknya mereka adalah wali murid.

Mula-mula mereka berjalan ke arah kantor guru lalu, mengobrol dengan beberapa orang staf, kemudian mereka berjalan ke arah kami. Semakin dekat, aku semakin merasa mengenal mereka. Hingga dalam jarak yang cukup jelas, aku akhirnya sadar ternyata mereka berdua adalah ayah dan abang iparku. Mengetahui itu, aku pun segera menghampiri mereka. .

“Ada apa?” Aku bertanya pada ayahku.

“Loh kok kamu ada di sini?” Ayahku balik bertanya.

“Lah, kan aku emang sekolahnya di sini. Mestinya aku yang tanya, kenapa ayah dan abang ada di sini?”

“Tadi ayah dapat telepon dari polisi, katanya kamu diamankan karena menjadi kurir narkoba!”

“Astaghfirullaaaahhh, itu kan cuma penipuan!”

***

Kejadian itu terjadi sekitar 2 tahun yang lalu di mana ayahku—yang baru saja membeli hp—mendapat telepon dari nomor tidak dikenal. Seseorang dalam telepon itu—yang mengaku sebagai polisi—memberitahu ayahku bahwa aku telah ditangkap oleh polisi karena terlibat dalam pengedaran narkoba. Tentu, berita itu membuat seisi rumah geger. Ibuku bahkan hampir-hampir pingsan. Beberapa tetangga juga ikut-ikutan heboh. Suasana makin chaos saat polisi memperdengarkan suara tangis seorang bocah yang diasosiasikan sebagai ‘aku’. Saking paniknya, bagaikan terhipnotis, ayahku memberitahukan namaku pada penipu itu tanpa sadar. Setelah mengetahui namaku, si penipu makin leluasa mengaduk-aduk emosi ayahku dengan ancaman dan ketakutan.

Hingga puncaknya, penipu itu menawarkan solusi agar masalah diselesaikan dengan cara ‘kekeluargaan’. Yup, ayahku diminta membayarkan sejumlah uang yang harus ditransfer melalui rekening bank. Sukur alhamdulillah, saat itu ayahku sedang tidak mempunyai uang, sehingga ia tidak bisa langsung membayar uang tebusan itu. Karena tak ada uang itulah ayahku mendapatkan kembali kewarasannya. Beberapa saat kemudian, ayah dan abangku pergi menemuiku di sekolah dan mendapati aku baik-baik saja. Malah mereka dapat menyaksikan aku menerima raport dengan nilai terbaik di kelas. Sepulangnya, aku masih tak habis pikir dan berulang kali bertanya pada seisi rumah “kok kalian bisa percaya sama penipuan seperti itu?”.

Baca Juga:  Ayo Bertasawuf

Belakangan, aku mengetahui bahwa cara yang digunakan penipu tersebut, oleh para ahli disebut sebagai ‘pendekatan rasa takut’ atau fear appeals. Strategi pendekatan rasa takut memang lumrah digunakan untuk membujuk target agar mengikuti rekomendasi dari subjek yang menakut-nakuti.

Tak hanya dalam penipuan, fear appeals juga kerap digunakan dalam iklan-iklan kesehatan dan lalu-lintas. Misalnya, kita akan menemukan gambar paru-paru yang menghitam serta tulisan ‘merokok membunuhmu’ di bagian depan kotak rokok. Atau dalam seminar (penyuluhan) kita diperlihatkan korban-korban laka-lantas yang kepalanya terbentur aspal hingga menyebabkan kematian. Dalam hal ini, pendekatan rasa takut digunakan dengan tujuan mempersuasi masyarakat agar tidak merokok serta menggunakan helm saat berkendara.

Menakut-nakuti menjadi cara yang efektif untuk menyampaikan pesan dalam iklan serta propaganda karena menyentuh aspek emosi dari seseorang. Pada dasarnya, rasa takut adalah hal yang manusiawi. Sebab, siapa sih manusia (normal) yang ingin hidupnya terancam bahaya atau tertimpa bencana? Rasa takut inilah yang secara otomatis membuat manusia mencari-cari solusi dari setiap masalah yang berpotensi mendatangkan bahaya dalam hidupnya. Dari sini, rasa takut bisa dijadikan sebagai alat untuk mengubah sikap dan perilaku seseorang.

Hal ini sejalan dengan penjelasan Irfan Amalee dalam bukunya Islam Itu Ramah Bukan Marah yang menyatakan bahwa di dalam otak manusia dan hewan terdapat bagian yang disebut sebagai otak reptilia. Bagian otak ini memiliki fungsi untuk merespon peringatan bahaya. Begitu merasa terancam, otak ini akan aktif memberi perintah pada anggota tubuh kita secara refleks. Ini juga sering kita saksikan terjadi pada hewan, coba saja kita ganggu induk ayam, lalu lihat respon yang diberikannya. Hanya ada dua kemungkinan yang akan terjadi, induk ayam tersebut akan melawan (fight), atau sebaliknya dia akan lari (flight).

Baca Juga:  Agama Hijau

Pikiran ataupun tindakan yang muncul dari otak reptilia sepenuhnya irrasional. Lihatlah ayahku yang gelagapan karena rasa takut berlebihan membuatnya lupa untuk berpikir jernih. Bayangkan, jika ayahku sedang punya uang, bisa-bisa dia langsung mentransfer uang yang diminta tanpa pikir panjang. Dari sini, kita bisa menyimpulkan bahwa setiap keputusan yang muncul dari respon otak reptilia adalah tidak rasional dan berpeluang besar mengantarkan kita pada kerugian bahkan kehancuran.

Padahal, ada bagian dalam otak kita yang disebut neo-cortex. Bagian inilah yang memiliki tugas mencerna informasi secara rasional.  Tindakan yang muncul dari keputusan neo-cortex inilah yang lebih bisa kita sebut sebagai tindakan manusiawi atau dalam istilah etika disebut actus humanus. Sebab, ketika manusia bertindak, mereka adalah tuan (pemilik) dari setiap pergerakan yang dilakukannya. Sedangkan hewan, setiap tindakan dan gerakannya hanyalah serangkaian aktivitas yang didorong oleh insting dan naluri kehewanannya saja (otak reptilia).

Ketimbang hewan yang setiap perbuatannya hanya dipicu oleh insting dan rangsangan semata, manusia bertindak dengan rangkaian proses yang jauh lebih rumit. Actus humanus (tindakan manusiawi) memiliki rangkaian proses sebelum terealisasi dalam tindakan nyata. Sebelum memberikan reaksi, ‘manusia’ terlebih dahulu akan merefleksi setiap informasi yang datang dari luar dirinya, berbarengan dengan refleksi itu, manusia juga mengevaluasi berbagai kemungkinan konsekuensi dari setiap tindakan yang akan ia lakukan. Jadi, suatu tindakan akan disebut manusiawi jika melalui rangkaian proses refleksi-aksi-dan evaluasi tersebut. Rangkaian proses inilah yang akan terjadi bila kita menggunakan otak neo-cortex.

Namun sayangnya, kita menyaksikan betapa kita lebih sering menggunakan otak reptilia daripada neo-cortex kita. Hal inilah yang membuat kita mudah dihasut oleh isu-isu yang belum tentu benar. Ketika mendapatkan berita yang menakut-nakuti, otak reptilia kita bertindak lebih cepat dari otak neo-cortex kita. Sehingga respon yang muncul tak sempat dipikirkan secara matang. Persis seperti induk ayam, kita akan memutuskan antara dua kemungkinan tindakan,  melawan (fight) atau lari (flight).

Berapa banyak kita menyaksikan berita, tulisan, ataupun ceramah yang berisi pesan-pesan penuh ketakutan. Seolah Islam sedang dikepung oleh bahaya dari berbagai penjuru. Seolah segala yang datang dari luar Islam pasti berbahaya dan menyesatkan. Seolah kalau bukan ‘kelompokku’, bukan ‘mazhabku’, bukan ‘golonganku’, maka wajib diwaspadai karena mereka pasti punya agenda terselubung untuk membengkokkan ‘akidahku’ dari jalan yang lurus.

Baca Juga:  Cerita Sufi: Menyimpan Surga Ala Bisyr bin Harits

Pesan-pesan yang dibungkus dengan ketakutan seperti ini sebenarnya membuat kita terbiasa menggunakan otak reptilia yang membuat pertimbangan rasional terabaikan. Sehingga kita menjadi orang yang reaksioner, mudah tersinggung, gampang marah dan serba curiga. Hasilnya, kita sibuk menghadapi ketakutan-ketakutan akan ancaman yang belum tentu nyata.

Maka tak heran, bila kita banyak menemukan orang-orang yang sangat serius mengkampanyekan keharaman meniup terompet, mengucapkan selamat natal, mengadakan ulang tahun dan sebagainya karena dianggap sebagai upaya kaum kafir untuk merusak kemurnian Islam. Umat dicekoki dengan beragam konspirasi menakutkan tentang rencana elit global yang ingin menghancurkan Islam mulai dari konspirasi upin-ipin hingga segitiga illuminati. Ketakutan demi ketakutan ditambah kurangnya pengetahuan itu pada akhirnya melahirkan kebencian.

Di bawah pengaruh ketakutan sekaligus kebencian inilah kita menjadi rentan dan sangat mudah dikendalikan oleh pihak-pihak yang memiliki kepentingan. Dengan kata lain, bisa saja kita ditipu dengan modus ketakutan demi keuntungan mereka. Dengan ketakutan, kita digiring untuk membenci, mencurigai, serta menghakimi orang lain sebagai kafir, sesat, pembuat bid’ah dan sebagainya. Sebaliknya, kita diminta untuk setia mendukung mereka sebagai bentuk kesetiaan pada agama ‘Islam yang sesungguhnya’, yang belum tercampur bid’ah. Dalam tahap lanjutan, tak jarang sikap yang demikian mengantarkan seseorang menuju jurang ekstremisme bahkan terosisme.

Padahal, umat Islam seharusnya adalah umat yang berpikir. Afala ta’qilun, afala tatafakkarun, afala yatadabbarun, demikian firman Allah berulangkali dalam Al-Qur’an. Mengapa kamu tidak berpikir? Mengapa kamu tidak menggunakan akalmu? Mengapa hanya menggunakan otak reptilia, padahal dianugerahi neo-cortex? Mengapa tak berpikir substansial? Mengapa terlalu sibuk dengan kulit-kulit luaran? Mengapa kita memperlakukan umat layaknya binatang? Mengapa kita menjadi umat yang penakut lagi suka menakut-nakuti?

Dari sini, menjadi jelas alasan kenapa Nabi dalam salah satu hadisnya bersabda “…Berilah mereka kabar gembira, dan janganlah menakut-nakuti”.

11 Shares:
You May Also Like
Read More

TUHAN DAN IMAJINASI

Apa itu imajinasi? Menurut Merriam-Webster Dictionary imajinasi adalah sebuah kemampuan manusia untuk membuat gambaran mental tentang sesuatu yang…