Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan: Ruang Bagi Kemerdekaan Spiritual dalam Bertasawuf

Manusia sebagai salah satu makhluk dari sekian banyaknya makhluk ciptaan Tuhan, diperintahkan untuk mengenal dan memikirkan sesuatu (Tuhan) secara filosofis. Maka hendaklah ia harus memiliki akal, pikiran dan jasmani yang sehat. Pikiran-pikiran yang kosong dapat mendatangkan dosa bagi dirinya, dosa yang pada akhirnya hanya akan mencelakakannya sebagai makhluk yang ber-Tuhan. Filsafat dan tasawuf merupakan dua disiplin ilmu yang memiliki kesamaan. Sebagaimana disebutkan oleh Miswari dalam bukunya yang berjudul Filsafat Terakhir, disebutkan bahwa kedua disiplin tersebut memiliki ruang konsentrasi untuk mengkaji Tuhan. Filsafat berangkat dari akal, dan tasawuf (sufisme) dengan cara melihat kehadiran-Nya.

Seorang sarjana mistisme Islam yang bernama Schimmel, mengatakan bahwa sufisme adalah belajar bagaimana untuk diam “Sufism is silence”. Tarekat (Madzhab Sufistik) merupakan suatu produk pemikiran dan sebuah doktrin mistik, tentunya menyediakan suatu metode spiritual tertentu bagi yang ingin menghendaki menuju ma’rifatullah.  M. Rohman Ziadi (Tarekat dan Politik: Studi Living Sufism Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan) dalam penelitiannya menyebutkan bahwa dalam tradisi sufistik, terdapat sebuah konsep yang sangat kental yang selanjutnya disebut dengan nama zuhud. Zuhud, ialah suatu kekosongan hati dalam suatu laku spiritual (pencarian dan penyikapan) yang membatasi keinginannya untuk memperoleh ataupun tenggelam dalam lumpur-lumpur duniawi.

Dengan melihat sedikit penjelasan yang telah dipaparkan di atas, maka dapat dikatakan bahwa dalam tarekat Hizib Nahdlatul Wathan sebagai sebuah tarekat, memiliki karakteristiknya tersendiri dalam menuntun dan mengajak jamaahnya dalam betarikat. Sebab, tarekat Hizib Nahdlatul Wathan selain mengajak jamaahnya untuk bertarekat (bertasawuf), juga terlihat sangat aktif dalam konteks gerakan sosial dan politik. Hal demikian dapat kita lihat dalam syair yang ditulis oleh TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid dalam Wasiat Renungan Masa Pengalaman Baru;

Agama bukan sekedar ibadah puasa, sembahyang di atas sajadah. Tapi Agama mencakup akidah, mencakup syariah mencakup hukumah.

Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan dalam sejarah kemunculannya tentunya memiliki faktor-faktor yang melatar belakanginya, sebagaimana telah sedikit penulis singgung dalam tulisan sebelumnya yang berjudul Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan dan Pembaharuan Islam di Pulau Lombok disebutkan bahwa tarekat Hizib Nahdlatul Wathan merupakan sebuah senjata perjuangan TGKH. Muhammad Zainuddin Abdul Madjid untuk menegagkan ajaran Islam di pulau Lombok, masyarakat pulau Lombok yang pada saat itu masih belum sempurna menerima ajaran Agama Islam. Oleh sebab itulah, kehadiran tarekat Hizib merupakan sebuah langkah atau pergerakan pembaharuan Islam di Pulau Lombok.

Baca Juga:  Ketika Tuhan Menurunkan Martabat-Nya

Selain dengan hal itu, terdapat juga faktor-faktor lain yang menjadi latar belakang lahirnya tarekat Hizib Nahdlatul Wathan; Pertama, sebagai model penghayatan batin keagamaan, guna untuk mencapai kedekatan kepada Allah. Agar tercipta dan tercapainya suatu kedamaian dan ketenangan bathin untuk pengamalnya. Kedua, sebagai solusi dan alternatif dalam bertarekat di era modern.

Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan dalam prakteknya, ialah sebuah tarekat yang menyediakan kemerdekaan spiritual bagi pelakunya. Merdeka untuk ikut serta atau tidak dalam kegiatan Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan (zikir kelompok), selain itu pelaku Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan juga merdeka untuk mengamalkan amalan secara rutin ataupun insidental, tanpa harus kehilangan manfaat spiritual yang terkandung dalam amalan-amalan Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan, (Abdul Aziz, “Memeluk Tradisi di Alam Modern; Studi Tentang Kelompok Hizib Nahdlatul Wathan di Lombok”).

Dengan berpijak pada pendapat Abdul Aziz di atas, maka penulis menarik sebuah kesimpulan; Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan ialah sebuah tarekat yang memberikan sebuah ruang kebebasan, yang dalam hal ini penulis bahasakan sebagai suatu ruang kemerdekaan spiritual bagi penganut tarekat tersebut, yang penulis lihat sebagai sebuah karakteristuk atau ciri khas tersendiri dan menjadi keistimewaan dalam Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan. Sebab, Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan tidak menekankan kepada penganutnya untuk melakukan ‘uzlah (mengasingkan diri) dari hiruk pikuk kehidupan duniawi. Selain akan hal tersebut, sebagaimana pernah penulis singgung dalam tulisan-tulisan sebelumnya, dikatakan bahwa Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan ialah sebuah tarekat yang menekankan pada pentingnya syari’at.

4 Shares:
You May Also Like