Agama dan Kebudayaan Indonesia dalam Tinjauan Clittford Geertz

Oleh: Cusdiawan

Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Politik Universitas Padjadjaran

Clittford Geertz adalah seorang antropolog asal Amerika, yang namanya dikenal luas, bukan hanya dalam ranah antropologi, tapi dalam kajian ilmu-ilmu sosial secara umum. Clittford Geertz sendiri dilahirkan di San Fransisco, California pada 1929. Geertz meraih gelar B.A di bidang filsafat dari Antioch College, kemudian melanjutkan studinya pada bidang Antropologi di Universitas Harvard.

Sebagaimana catatan Daniel L. Pals dalam buku Seven Theories of Religion (2012:329), pada tahun kedua di Harvard, Geertz bersama isterinya berangkat ke pulau Jawa dan menetap selama dua tahun, Geertz mempelajari masyarakat yang terdiri dari berbagai suku bangsa dan agama di sebuah kota kecil di pulau Jawa. Sekembalinya ke Harvard, Geertz berhasil meraih gelar doktor di bidang antropologi dari Departement of Social Relation pada tahun 1956.

Setelah itu, Geertz kembali ke Indonesia, dan memilih Bali sebagai lokasi risetnya. Bagi saya, tentu ini sangat menarik. Bila Jawa sebelumnya dipilih sebagai lokasi risetnya, mayoritas penduduknya beragama Islam, maka Bali yang dipilih sebagai lokasi riset berikutnya ini memiliki agama tersendiri yang terdiri dari berbagai kepercayaan dan ritual, yang diderivasikan dari agama Hindu.

Sebagai catatan, Clittford Geertz menganggap agama sebagai salah satu elemen terpenting untuk memahami aktivitas kebudayaan. Misi utama Geertz adalah etnografi, yaitu memberikan deskripsi rinci dan sistematis dari masyarakat Timur ini dan mengungkapkan bagaimana keragaman aspek kehidupan masyarakatnya bisa melebur menjadi sebuah kebudayaan yang utuh. Singkat cerita, penelitiannya di Indonesia ini jelas sangat memengaruhi karir Geertz sebagai seorang ilmuwan dan turut melambungkan namanya di jagat akademik.

Dalam karyanya The Interpretation of Cultures: Selected Essays (1974) yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia Kebudayaan dan Agama, Geertz memahami konsep kebudayaan sebagai suatu pola makna-makna yang diteruskan secara historis yang terwujud dalam simbol-simbol, suatu sistem konsep-konsep yang diwariskan yang terungkap dalam bentuk-bentuk simbolis yang dengannya manusia berkomunikasi, melestarikan, dan memperkembangkan pengetahuan mereka tentang kehidupan dan sikap-sikap terhadap kehidupan (1992:3).

Baca Juga:  Belajar Cinta Kepada Rabi'ah al-'Adawiyah

Sementara itu, agama dipahami sebagai sebuah sistem “simbol-simbol” yang berlaku untuk menetapkan suasana hati dan motivasi-motivasi yang kuat, yang meresapi dan yang tahan lama dalam diri manusia dengan merumuskan konsep-konsep mengenai suatu tatanan umum eksistensi dan membungkus konsep-konsep ini dengan secamacam pancaran faktualitas, sehingga suasana hati dan motivasi-motivasi itu tampak khas realistis (Geertz,1992: 5).

Bila saya sederhanakan, maka kehidupan agama dianggap salah satu elemen terpenting dalam aktivitas kebudayaan, karena fakta mental di dalam orang-orang beragama, turut memengaruhi pembentukan fakta sosial atau perilaku sosial dan bahkan artefak. Adapun pertanyaan yang dijawab dalam artikel ini, yakni bagaimana pandangan Geertz tentang praktik keagamaan di Indonesia (dalam hal ini Jawa dan Bali) dalam membentuk sebuah sistem kebudayaan?

Dalam karya monumentalnya, yakni The Religion of Java (1960) yang sudah diterjemahkan menjadi Agama Jawa: Abangan, Santri dan Priyai dalam Kebudayaan Jawa (2014), Geertz mengemukakan bahwa orang Jawa lebih dari 90 % adalah Muslim. Akan tetapi, studi lapangan yang ditemukan oleh Geertz menunjukkan adanya kompleksitas di dalam kehidupan beragama di Jawa.

Geertz, sebagaimana yang diungkapkan oleh Taufik Abdullah dalam kata pengantar buku Agama Jawa tersebut, lebih dulu melihat adanya tiga lingkungan sosial, yang sekaligus memantulkan tempat dan gaya hidup yang tampak berbeda-beda, yaitu wilayah pedesaan, pasar dan kantor pemerintahan.

Geertz tidak hanya melihat adanya tiga corak tekanan utama dalam gaya dan tata kehidupan (petani, pedagang dan pegawai), tetapi juga sistem perilaku sosial dan bahkan individu yang berbeda-beda. Geertz melihat dan mencatat sistem simbol yang diwujudkan dalam pola perilaku yang memancarkan keragaman dari nuansa keagamaan.

Geertz sendiri kemudian membagi ke dalam tiga kategori, kategori pertama disebutnya sebagai abangan, yang masih kental dengan praktik animisme, kelompok sosial tersebut memantulkan suasana dan tata kehidupaan pedesaan.

Baca Juga:  Menghamba Secara Jasmani dan Rohani: Menuju Ihsan

Kategori selanjutnya, disebut Geertz dengan kelompok santri, kelompok yang digolongkan taat menjalankan syariat Islam, Geertz juga mengidentifikasi kelompok sosial santri ini sebagai kelompok yang menguasi pasar.

Kategori ketiga disebut Geertz sebagai kelompok priyai. Kelompok Priyai ini masih kental dengan nuansa Hinduistis. Mereka yang memiliki status sosial tradisional lebih tinggi ini, diidentifikasi Geertz dekat dengan praktik dan ajaran kebatinan. Golongan ini, bukan hanya penikmat dan pemelihara kesenian Jawa, tatapi mereka juga melibatkan diri dalam suasana seni populer kekotaan, yang memantulkan suasana Indonesia modern.

Lalu, bagaimana dengan pengamatan Geertz di Bali? Sebagaimana ungkapan Daniel L. Pals (2012:345), Geertz berpandangan bahwa penyatuan simbolis antara pandangan hidup dengan etos akan terlihat dalam ritual. Bagi Geertz, contoh yang paling baik tentang penyatuan tersebut, bisa ditemukan dalam salah satu upacara masyarakat Indonesia (Bali).

Geertz yang mengamati Bali pada 1964 ini, dengan menggunakan paradigma Weberian, melihat Bali berada dalam proses sebagai “konversi internal”, transformasi kontinyu dari tata cara peribadatan tradisional menuju sosok agama rasional.

Sebagai penutup, saya rasa Geertz terpesona dengan keunikan dan ekspresi keberagamaan di Indonesia, di mana dalam praktiknya, kental dengan akulturasi, penuh dengan kompleksitas dan hal-hal lainnya.

Daftar Pustaka

Geertz, Clifford. (1992). Kebudayaan dan Agama. (Terj. Budi Hardiman). Yogyakarta Kanisius.

Geertz, Clifford. (2014). Agama Jawa: Abangan, Santri, Priyai dalam Kebudayaan Jawa. (Terj.Aswab Muhasin dan Bur Rasuanto). Depok: Komunitas Bambu.

Pals, Daniel. L. (2012). Seven Thories of Religion. (Terj. Inyiak Ridwan Munzir). Yogyakarta: IRCiSoD.


Nuralwala.id Portal ini, dan berbagai akun media sosial Nuralwala lainnya, berada di bawah naungan Yayasan Nuralwala--sebuah yayasan Islam yang sepenuhnya bersifat non-profit. Untuk kelangsungan program-programnya, saat ini Nuralwala mengandalkan donasi perorangan yang amat terbatas. Jika Anda ingin berkontribusi dalam kelangsungan dan pengembangan kegiatan yayasan ini, Nuralwala menerima infak terbaik Anda dengan donasi ke:


BANK BRI SYARIAH : 1013807759 An. Azam Bahtiar
Baca Juga:  Syirik