BETEMU AL-GHAZALI DI BASEMENT SEBUAH TOKO BUKU DI HARVARD SQUARE (BAGIAN 4)

Saya mengenal Imam Al-Ghazali sejak sebelum mahasiswa. Seingat saya, pertama kali saya membaca buku Sang Hujjatul Islam adalah saat melihat-lihat buku-buku di perpustakaan ayah saya. Saya ingat pula bahwa saya pernah belajar menerjemahkan buku bahasa Arab dengan ayah saya, dengan memanfaatkan buku ringkas Ayyuhal Walad karya Al-Ghazali sebagai buku yang saya terjemahkan. Saat mahasiswa saya membaca buku Keajaiban Hati yang merupakan salah satu bab paling banyak dibaca orang dari buku masterpiece Imam Al-Ghazali, Ihya’u ‘Ulumiddin.

Lalu, saya menjadi makin tertarik membaca Imam Al-Ghazali setelah menelaah buku The Concept of Man in Islam in the Writings of al-Ghazali, karya Ali Issa Othman. Buku biografis Imam Al-Ghazali, Al-Munqidz min al-Dhalal juga saya baca waktu mahasiswa. Saya pun, ketika memulai Penerbit Mizan, menerjemahkan buku Kimiya’i Sa’adat karya pemikir Islam ini juga. Lalu, belakangan, tentu Misykat al-Anwar, dan Bidayatul Hidayah. Masih ada beberapa Risalah Al-Ghazali yang saya baca, di samping juga bagian-bagian lain dari Kitab Ihya’ di waktu-waktu yang lebih belakangan.

Ketika kuliah di Harvard, saya tentu banyak membaca karya-karya para pemikir Muslim, tapi rasanya karya Al-Ghazali tidak termasuk. Karena keperluan spesialisasi, saya lebih banyak membaca buku-buku filsafat Islam karya Al-Farabi, Ibn Sina, sedikit Ibn Rusyd, dan Mulla Sadra juga. Sampai saat saya mencari buku yang direkomendasikan dokter saya dari RS Universitas Harvard itu.

Buku itu berjudul Relaxation Response, karya Herbert Benson. Benson adalah seorang dokter terkemuka dari Harvard Medical School, pendiri sebuah lembaga yang terkenal di dunia bernama Body Mind Institute. Sesuai namanya, lembaga ini berusaha mengintegrasikan pendekatan badan dan pikiran dalam pengobatan berbagai penyakit, seperti kecemasan, tekanan darah tinggi, penyakit jantung, insomnia, dan sebagainya. Begitu popularnya buku ini, berkat terbukti efektifnya metoda yang dia perkenalkan, sehingga edisi Inggrisnya saja terjual sebanyak 6 juta eksemplar. Belum lagi terjemahannya ke dalam berbagai bahasa lainnya.

Baca Juga:  Siapa Itu Mukallaf?

Dan, saya beruntung menemukan buku bekasnya di toko yang saya kunjungi itu. Harganya? Hanya 1 US Dollar! Maka, tak menunggu sampai pulang ke rumah, buku itu saya baca sambil menikmati kopi panas dan Almond Croiscant di Cafe Au Bon Pain, di musim dingin, di pusat Harvard Square. Ternyata inti buku tersebut adalah tentang efektivitas mantra-mantra atau formula-formula yang dibaca berulang-ulang dalam melawan kecemasan, insomnia, dan khususnya menurunkan tekanan darah tinggi.

Dr. Benson melakukan penelitian, bukan hanya atas mantra-mantra agama Hindu dan Budha, melainkan juga formula-formula semacam sheep counting (menghitung domba) untuk membantu kita tertidur. Maka saya pun penasaran, mungkinkah Benson yang tidak diketahui memiliki asosiasi dengan agama atau spiritualitas tertentu—bahkan di buku pertamanya ini dia seolah seperti tak melihat ada perbedaan dalam hal peran sifat keagamaan mantra-mantra yang dibaca dalam membantu melawan berbagai penyakit dan gangguan kesehatan tersebut—ada mengaitkan teorinya dengan Islam? Sudah tentu itu hanyalah dorongan rasa penasaran yang tak sampai membuat saya berharap banyak. Dari mana seorang dokter AS sekular seperti Benson akan menoleh ke Islam? Sedang terkait Hinduisme, kita tahu bahwa sudah puluhan tahun orang Barat menoleh ke agama ini, paling-paling juga ke Budhisme, jika bicara tentang spiritualitas. Tapi, Benson ternyata telah mengejutkan saya. Di tengah saya membaca secara skimming buku tersebut, at some point Benson merujuk pada tradisi berzikir dalam Islam. Dan dia merujuk kepada Al-Ghazali, bahkan mengutip secara lumayan panjang tentang penting dan manfaat zikir dari Ihya’ Ulumiddin.

Inti dari kutipan tersebut menunjukkan betapa pentingnya zikir dalam membina spiritualitas dan kesejahteraan mental kita. Saya sendiri sejak muda sudah diajar orang tua saya tentang berbagai zikir dan wirid, yang dibaca secara khusus sebelum tidur—di samping berbagai wirid lainnya. Termasuk Ratib dan Wird al-Lathif susunan Habib Abdullah al-Haddad, dll. Sebelum tidur pun, apalagi kalau susah mendatangkan kantuk, biasanya saya membaca SubhanalLah, Alhamdulillah, dan Allah Akbar masing-masing 33 kali. (Ada juga yang mendahulukan Allah Akbar, dan khusus untuk bacaan ini jumlah pengulangannya adalah 34 kali, agar secara keseluruhan seluruh bacaan yang diulang berjumlah seratus kali). Saya sendiri sejak dulu membiasakan diri untuk membaca wirid ini. Tapi, setelah membaca buku Herbert Benson ini, keyakinan saya akan kekuatan zikir dan wirid makin kuat. Dan, memang, dalam buku keduanya menyusul buku pertama itu— berjudul Beyond Relaxation Response—Dr. Benson mengungkap hasil   penelitiannya bahwa formula-formula yang dibaca dengan dasar keyakinan keagamaan memiliki dampak lebih besar bagi penyembuhan masalah-masalah kesehatan tersebut. Sebetulnya, sejak dulu, khusus di setiap saat saya mengalami kesulitan tidur, atau merasakan adanya kenaikan dalam tekanan darah, atau pun terserang kecemasan, saya selalu membaca wirid-wirid ini. Di samping itu, shalawat Nabi tentu adalah favorit saya. Hal ini dianjurkan juga oleh Al-Ghazali dalam bab Dzikir di kitab Ihya’ yang dikutip Dr. Benson itu juga. Dalam hal ini saya tak membatasi jumlahnya. Atau, kalau mau tetap memakai jumlah tertentu, kadang saya baca shalawat ini sebanyak seratus kali. Dan hampir-hampir saya tak pernah gagal untuk jatuh tertidur—seringkali sebelum sejumlah pengulangan yang saya rencanakan, selesai saya baca—atau menjadi tenang kembali setelah mengalami kecemasan. Bahkan, dalam beberapa kali saya menjalani operasi pemasangan ring di pembuluh jantung saya, saya selalu mengulang-ulang membaca shalawat Nabi. Hasilnya, bukan saja saya merasa tenang sepanjang operasi—yang kadang mengambil waktu tak kurang dari sejam, dalam keadaan saya mengikuti seluruh proses operasi dengan mata kepala saya—bahkan saya merasakan ketenangan yang amat menyenangkan. Boleh percaya, boleh tidak, saya merasa Nabi saw. berada di sisi saya dalam masa-masa kritis tersebut.

Baca Juga:  Teladan Komunikasi dari Kisah Nabi Ibrahim

Allaahumma shalli ‘alaa Muhammad wa aali Muhammad. Sebagaimana disebutkan juga oleh Al-Ghazali, istighfar yang dibaca berulang kali bersama shalawat dan wirid-wirid lainnya juga merupakan formula zikir yang paling menentukan. Saya pun tak pernah kecuali mengombinasikan wirid-wirid dan bacaan shalawat tersebut dengan bacaan istighfar.

Siang itu, di Harvard Square, saya bertemu Al-Ghazali sekali lagi. Bukan di kuliah pemikiran Islam di Universitas Harvard, apalagi melalui perantaraan seorang Ustadz atau Kiai, tak juga di pertemuaan-pertemuan sufi, atau di pusat-pusat keagamaan Timur. Saya bertemu sang Imam lewat wasilah seorang dokter di Universitas di AS, melalui tulisan seorang dokter yang lain, di basement sebuah toko buku, di Harvard Square.

Dan di saat-saat saya menulis kisah ini, saya sedang berupaya mendalami psikoterapi sufistik. Dan pandangan Imam Al-Ghazali tentang zikir, dan juga tafsirannya tentang ajaran Al-Qur’an mengenai jiwa, merupakan salah satu rujukan penting saya.

Have a good night sleep. Jangan lupa membaca wirid-wirid, shalawat, dan istighfar sebelum tidur. Semoga Allah kuatkan kita semua dalam segala daya upaya kita menjalani kehidupan di muka bumi-Nya ini (habis).

0 Shares:
You May Also Like