Dakwah Perlu Manfaatkan Fasilitas Teknologi

Oleh: Rustan

Guru MTsN 1 Polman, Sulawesi Barat

Banyak yang mengkhawatirkan dampak dari kemajuan zaman, yang semakin hari semakin deras dan tak terbendung. Mereka khawatir pelbagai fasilitas kehidupan yang digandrungi oleh generasi milenial saat ini akan berdampak buruk dalam kehidupan mereka, seperti pengaruh film, sinetron, media sosial, game, dan lain-lain. 

Kekhawatiran ini wajar, mengingat banyak fakta yang kita saksikan dan dengarkan, produk-produk kemajuan zaman tersebut telah merusak sendi-sendi kehidupan anak bangsa dan memutus pencapaian masa depan yang cerah terutama kerusakan pada moral. Faktanya, anak-anak jaman sekarang banyak terpengaruh dengan penampilan kurang etis akibat mencontoh gaya para pemain film  sinetron, dan pengguna media sosial misalnya, bertato, berpakaian seksi, menindik lidah, dan lain-lain yang dianggap sebuah karya seni. 

Tidak hanya penampilan fisik, adegan tidak baik, seperti goyangan erotis, hamil di luar nikah, aksi kekerasan, tutur kata yang kasar ikut mempengaruhi kehidupan anak jaman sekarang. Tentu saja gempuran-gempuran teknologi ini cukup meresahkan kita.

Tidak mungkin menafikan kemajuan tersebut, menghabiskan energi dan waktu untuk menghujat apa yang sudah menjadi ruang bagi umat manusia saat ini. Kita hanya perlu mengubah pola pikir, tidak hanya mengandalkan penolakan, argumen ekstrem, tetapi kita harus memikirkan cara yang lebih baik dan pas, berbuat untuk menandingi gempuran-gempuran itu.

Kalau film, medsos, dan game dianggap sebagai ancaman pengrusakan ajaran agama, maka lawan balik dengan memanfaatkan media-media tersebut. Isilah semuanya dengan nilai-nilai keislaman. Kalau kita tidak mengisinya, maka orang jahatlah yang menguasainya, dan kita tidak dapat membendung anak-anak jaman sekarang mempergunakan dan menikmati media-media tersebut, karena itulah ruang bagi mereka saat ini.

Jangan hanya bisa melawan dengan pandangan bahwa bioskop, tiktok, game itu tidak baik bahkan haram hanya karena manusia yang menyalahgunakannya. Seharusnya yang disalahkan dan diharamkan adalah perbuatannya yang negatif bukan ruang dan medianya. Jika banyak film hari ini yang mengandung konten-konten yang tidak baik atau menyudutkan Islam, maka menurut Husein Ja’far Al-Hadar, harusnya dilawan dengan membuat film untuk menandingi propaganda-propaganda mereka. 

Baca Juga:  Hijrah Milenial: Antara Hasrat dan Kebutuhan

K.H. Mostofa Bisri sapaan Gus Mus malah mempromosikan dakwah melalui film. Beliau bekerjasama dengan Dominic Kackson, salah seorang produser kenamaan Hollywood untuk memberikan pelatihan pembuatan film bagi santri-santrinya. Gus Mus menilai, kalau Sunan Kalijaga berdakwah pakai wayang, maka kini kalau bisa pakai film. Bagi ulama sekelas Gus Mus, apakah ada yang berani meragukan ilmu keagamaan beliau? 

Orang mengatakan tiktok itu tidak baik dan merusak. Orang menggunakannya untuk bergoyang, memamerkan bagian-bagian tubuh yang seksi. Jangan salahkan tiktok, salahkan orang yang menyalahgunakannya dan dirimu yang menikmati goyangan erotis pemain tiktok itu. Dan seharusnya kita menandinginya dengan konten-konten yang bermanfaat, diisi dengan pesan-pesan kebaikan misalnya, informasi dan lain sebagainya. Kalau tidak, konten negatif itulah yang menyesakinya.

Film dan media sosial yang dianggap sebagai sesuatu yang dapat merusak moral generasi saat ini adalah sesuatu yang tak terelakkan. Faktanya, Indonesia termasuk salah satu negara pengguna media sosial terbanyak di dunia setelah India, Amerika, dan Brazil. 

Generasi muda saat ini paling tidak menghabiskan waktu sekitar 8,5 jam sehari memegang gadget. Mereka gunakan untuk menonton film, youtube, main game, bermedsos, dan lain-lain. Tentu saja tontonan-tontonan itu dapat memengaruhi sikap dan perilaku mereka. Maka dari itu, tak ada pilihan kecuali mengisi semua platform itu dengan konten-konten yang baik dan bermanfaat untuk mengimbangi konten-konten negatif tersebut.

Begitu pula dengan game online yang banyak menyita waktu bagi anak-anak sekolahan dan kuliahan. Daripada terus mengeluhkan pengaruh game itu yang membuat anak malas belajar, lebih baik kita memikirkan untuk membuat game, yang memiliki muatan pendidikan. Dengan begitu, melalui game anak bisa belajar.

Baca Juga:  METODE SAINS LEBIH BAIK DARI AGAMA DAN FILSAFAT? NANTI DULU, KATA TUAN WITTGENSTEIN

Ya, gadget memang tak terelakkan. Kita kemudian mengandalkan orang tua sebagai defend (pertahanan) terbaik untuk membendung arus kemajuan alat teknologi itu, tapi nyatanya orang tua pada umumnya juga kewalahan melakukan pendampingan dan pengawasan terhadap anak-anak mereka. Selain tidak punya banyak waktu, anak juga lebih pandai mengotak-atik gadget daripada para orang tua.

Untuk itulah, tidak ada jalan selain memasuki ruang mereka, mengisinya dengan hal-hal positif. Tetapi kalau kita kaku, anti perubahan dan tidak bisa menerima hal baru atau gagasan dari luar, maka sangat sulit bagi kita melawan pengaruh media-media tersebut apalagi untuk berkembang. Ada adagium yang mengatakan bahwa, tidak ada yang abadi di bawah kolong langit ini, yang abadi adalah perubahan.

Kita tidak boleh menyempitkan agama (Islam) ini dengan pemikiran kita yang kerdil. Islam itu fleksibel sebagaimana dikenal, al-Islam shalihun likulli zaman wal makan. Islam itu selaras dengan setiap waktu dan tempat. Mari memanfaatkan fasilitas teknologi dengan sebaik-baiknya.

 

0 Shares:
You May Also Like