BAGAI DAUN-DAUN KERING DITERBANGKAN ANGIN DI MAKKAH DAN MADINAH (4)

“Ini karunia Allah kepadamu. Syukuri saja. Dan jadikan fasilitas bagus dan lengkap yang sekarang kau nikmati ini sebagai modal untuk menyempurnakan ibadah hajimu”.

Tak terlalu meyakinkan kata-kata itu buat saya, tapi tak urung membantu juga untuk sedikit menenangkan hati saya yang risau.

Semua manasik haji di Makkah pun saya jalankan dengan lancar. Hingga waktunya kami berangkat ke Madinah untuk ziarah ke makam Nabi Muhammad saw. Lagi-lagi kami berangkat nyaris tanpa pengetahuan apa pun tentang situasi dan apa-apa yang akan kami lakukan di sana. Apalagi soal penginapan.

Tapi, seperti biasa saya nekat saja pergi ke terminal di Makkah untuk membeli tiket dan menumpang bus ke kota Nabi ini. Padahal waktu saya di Saudi tinggal sekitar dua hari lagi. Esok lusa saya sudah harus meninggalkan Jeddah untuk pulang ke Indonesia. Tak boleh ada yang salah dalam perjalanan, agar saya bisa kembali ke Makkah paling lambat esok pagi. Kami, sih, inginnya bisa pulang malam di hari yang sama. Tapi, tanpa pengetahuan dan prospek pemandu perjalanan di Madinah, apakah mungkin kami bisa pulang di hari yang sama? Mustahil. Maka amat mepet, memang, tapi tak ada pilihan lain kecuali kami tetap nekat ke Madinah. Karena, betapa sedih dan akan merasa tak beradabnya kami jika pergi haji tanpa berziarah kepada Rasulullah saw?

Selain uang sedikit, bekal kami hanya satu, nama dan alamat seorang pekerja Indonesia, yang bekerja di sebuah toko emas di Madinah, yang akan bisa mengantarkan kami ke Ust. Salim Aljufri. Ya, Ust. Salim sang Ketua Majelis Syura PKS dan mantan Menteri Sosial Republik Indonesia. Waktu itu beliau masih mahasiswa doktoral di King Saud University Madinah. Selain beliau dikenal sebagai orang yang baik hati, beliau dulu pernah bersekolah di sekolah yang sama dengan saya di kota Solo—yang ayah saya adalah Ketua Yayasannya—meski beliau 2-3 tahun lebih tua dari saya. Jadi, sedikit banyak kami saling mengenal. Paling tidak mengenal nama dan latar belakang keluarga kami. Saya sudah lupa siapa yang menyarankan kami untuk bertemu dengan Ust. Salim dan memberi kami alamat pekerja Indonesia itu—persisnya toko emas tempatnya bekerja. Seperti biasa, tak ada alamat detil toko emas itu, kecuali kilometer sekian, di sebelah apotik Y. Bagaimana kami bisa menemukannya?

Baca Juga:  Tradisi Filsafat Islam Pasca Mulla Sadra Periode Safawi

Alhasil, sampailah kami di terminal Madinah setelah perjalanan cukup panjang. Kami berdua—saya dan istri saya—turun dari bus, hanya untuk kebingungan menentukan kelanjutan perjalanan kami. Belum ada penginapan, sementara kami pun tak punya bayangan sama sekali di mana lokasi toko emas itu—apalagi soal—soal lain. Hanya saja, ketika bus memasuki Madinah, berdesir hati kami menampak salah satu menara Masjid Nabawi. Dan…dalam keadaan kebingungan, saya berkata kepada istri saya: “Mari kita ke Masjid Nabawi. Shalat dan ziarah..,” dan entah apalagi yang bisa kami lakukan di sana. Tapi, bagaimana caranya? Bahkan naik kendaraan umum pun kami belum pernah, karena diproteksi paman saya di Makkah itu, dan hanya boleh keluar rumah jika di antarnya.

Maka saya putuskan kami mulai melangkahkan kaki dengan patokan menara Masjid Nabawi tersebut. Karena berpatokan menara tersebut, seperti layaknya sebuah kapal berlayar berpatokan mercusuar, kami tak berani mengikuti jalan-jalan besar. Takut tersesat. Kami praktis berjalan menyusuri garis lurus dari terminal bus ke menara masjid tersebut. Akibatnya, kami harus mengambil jalan gang-gang kecil yang kira-kira berada di garis lurus menuju menara masjid tersebut. Demikianlah kami terus berjalan. Agak gontai akibat kekhawatiran pengembara yang tak tahu jalan, dan sesungguhnya juga tak punya cukup keberanian—apalagi biaya.

Mata kami terus menatap menara masjid di depan dan menjadikannya panduan. Kami sama sekali tak tahu di area mana kami berada, apalagi di kilometer berapa, lebih-lebih posisi gang yang kami susuri itu. Di tengah perjalanan, seperti ada yang menggerakkan—percayalah, saya tak sedang melebih-lebihkan atau mendramatisasi—kepala saya at some point menengok begitu saja ke kiri. Ndilalah!!! Saya dapati persis di depan mata saya, di tengah gang kecil yang sedang saya lewati, nama toko emas tempat pekerja Indonesia itu bekerja. Ya, nama toko emas itu!

Baca Juga:  Sains Penting, Tapi Jangan lupakan Spiritualitas

Masih takjub, saya masuk dan bertanya dengan menyebut nama pekerja Indonesia tersebut. Hampir-hampir tanpa jeda, saya mendengar seseorang menjawab: “Saya!”. Laki-laki muda asal Indonesia itu amat ramah. Dia minta agar kami menunggu sebentar sampai dia selesai melayani penjualnya. Benarlah, begitu selesai, dia mengajak kami ke luar toko, menuju mobilnya, dan mengantarkan kami ke Ustad Salim.

Huffff…, betapa kekhawatiran kami, seperti tumpukan pasir kering ditiup angin kencang. Tak lama kami sampai ke rumah Ust. Salim. Lagi-lagi kami disambut dengab ramah. Hari masih cukup sore waktu itu. Setelah berbincang-bincang sambil minum teh, Ust. Salim yang mengetahui bahwa waktu kami sangat singkat, segera mengeluarkan mobilnya dan mengantar kami berziarah ke Masjid Nabawi.

Tidak lama, tapi cukup untuk kami memberikan uluk-salam dan penghormatan kami kepada Sang Nabi Belas Kasih, idola dan buah bibir kami bahkan sejak kami kecil, serta berdoa di samping makam beliau. Manusia istimewa yang biografinya kami kenal bahkan jauh lebih lengkap, sampai ke bentuk fisik dan gerak-geriknya, dibanding pengenalan kami akan riwayat ayah-ibu kami. Yang syafaatnya selalu kami dambakan. Yang, kalau kami boleh ge-er, mungkin selama ini menolong kami dalam segenap keterbatasan kami merantau di Jaziarah ini (termasuk dalam masalah besar yang masih akan kami hadapi tak lama setelah ini). Ada ketakjuban, haru, dan harapan yang kami tautkan di tempat ziarah suci ini.

Seingat saya kami sempat diajak Ust. Salim mengunjungi 1-2 tempat lagi, sebelum beliau mengantar kami kembali ke terminal bus Madinah. Malam sudah cukup larut ketika kami sampai di sana. Saya sempat berpikir bahwa perjalanan pulang kami akan berjalan mulus-mulus saja seperti keberangkatan kami. Memang hal besar apa yang bisa terjadi dalam perjalanan naik bus antar kota seperti ini? Tapi, ternyata saya salah besar. Malam itu, di terminal bus Madinah, ada suatu masalah yang hampir-hampir menimbulkan kekacauan besar terhadap sisa perjalanan haji kami dan rencana kepulangan kami ke Indonesia… (bersambung)

Baca Juga:  Kritik Filsafat Ibn Rusyd terhadap Kelompok Lahiriah
4 Shares:
You May Also Like