Tentang Neraka

Haidar Bagir

Pembina Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf

Di antara salah satu masalah yang perlu dijelaskan berkaitan dengan sifat dominan Kasih Sayang Allah adalah mengenai neraka dan siksaan amat berat, kekal abadi selama-lamanya, yang mungkin dialami manusia. Betapapun besar kejahatan yang telah dilakukan orang, sulit dipahami bahwa Allah Yang Didominasi oleh sifat Maha Pengasih dan Penyayang akan bertindak demikian. Bahkan kita manusia tidak akan bertindak se-“kejam” itu. Lalu, apakah hal seperti ini mungkin bagi Allah?

Ada beberapa hal yang perlu dijelaskan untuk menjawab pertanyaan ini. Pertama, bahwa sifat utama Allah adalah “Maha Pengasih” dan “Maha Penyayang”. Bahwa, di atas segalanya, Dia “Maha Pengampun.” Kasih Sayang-Nya terlalu besar, sehingga tak bisa sama sekali dibandingkan dengan kasih sayang manusia. Allah sendiri mengajarkan agar manusia mengutamakan pengampunan.

Dan balasan (atas) suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa (lagi seimbang), maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik , maka pahalanya atas (jaminan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang zalim.” (QS Al-Syûrâ [42]: 40)

Lalu, kalau kepada manusia Allah mengajarkan akhlak mengutamakan pengampunan, apalagi Dia? Dengan kata lain, jika nantinya Allah mengampuni manusia dan tidak melakukan janji-Nya untuk menghukum manusia, maka itu justru berakar pada akhlak-Nya, pada syari‘ah-Nya—yang menurutnya, memaaf­kan lebih utama.

“Jika Engkau menyiksa mereka, sesungguhnya mereka adalah hamba-hamba-Mu, dan jika Engkau mengampuni mereka, sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. (QS Al-Mâ’idah.” [5]: 118-119)

Lebih jauh dari itu, Allah Swt. menjanjikan pengampunan atas semua dosa.

“Wahai hamba-hamba-Ku yang telah menzalimi diri­nya. Jangan berputus asa atas rahmat Tuhanmu. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa.” (QS Al-Zumar [39]: 53).

Juga, firman-Nya yang lain:

“Dan ada (pula) orang-orang lain yang ditangguhkan sampai ada keputusan Allah; adakalanya Allah akan mengazab mereka dan adakalanya Allah akan menerima tobat mereka. Dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (QS Al-Taubah [9]: 106).

Baca Juga:  Meniti Jalan Hidup Nabi: Syarat Mereguk Cinta Ilahi

Di tempat lain dalam Al-Quran Allah juga ber­firman:

Dan (ingatlah) hari di waktu Allah menghimpunkan mereka semuanya (dan Allah berfirman): “Hai golongan jin, sesungguhnya kamu telah banyak menyesatkan manusia.” Lalu berkatalah kawan-kawan mereka dari golongan manusia, “Ya Tuhan kami, sesungguhnya sebagian daripada kami telah dapat kesenangan dari sebagian (yang lain) dan kami telah sampai kepada waktu yang telah Engkau tentukan bagi kami.” Allah berfirman, “Neraka itulah tempat diam kamu, sedang kamu kekal di dalamnya, kecuali kalau Allah menghendaki (yang lain).” Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui. (QS Al-An‘âm [6]: 128)

Sejalan dengan ayat di atas, dalam hadis juga disebutkan, “Siapa yang dijanjikan Allah akan mendapatkan pahala karena suatu perbuatan, maka itu pasti terlaksana. Dan siapa yang diancam Allah dengan siksa karena suatu perbuatan, maka Allah akan memilih apakah akan melaksanakan ancaman-Nya atau tidak.

Lalu, bagaimana menjelaskan penegasan Allah bahwa sebagian orang akan menghuni neraka secara “kekal selama-lamanya” (khâlidîna fî hâ abadâ)?

Dan siapa saja yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya baginyalah Neraka Jahanam, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.” (QS Al-Jinn [72]: 23)

Menurut Ibn ‘Arabi, dilihat dari kata ganti “-hâ” (“-nya”) yang digunakan dalam ungkapan (khâlidîna fî hâ abadâ), yang bergender feminin, dapat disimpulkan bahwa sifat tersebut merujuk kepada neraka (yang memang dalam bahasa Arab merupakan kata benda feminin), bukan siksaan (yang sebagai sebuah kata bersifat maskulin). Dengan kata lain, ungkapan di atas hanya akan menunjukkan bahwa neraka akan kekal, tapi tidak azabnya. Lebih jauh mengenai hal ini, Ibn ‘Arabi memperbandingkan dua ayat Al-Quran yang berurutan dan memiliki redaksi yang mirip:

Baca Juga:  ISRA' MI'RAJ REVISITED

“Adapun orang-orang yang celaka, maka (tempatnya) di dalam neraka, di dalamnya mereka mengeluarkan dan menarik napas (dengan merintih). Mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain). Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki. Adapun orang-orang yang berbahagia, maka tempatnya ada di dalam surga, mereka kekal di dalamnya selama ada langit dan bumi, kecuali jika Tuhanmu menghendaki (yang lain), sebagai karunia yang tiada putus-putusnya.” (QS Hûd [11]: 106-108)

Dengan ditambahkannya, “… sebagai karunia yang tiada putus-putusnya”, khusus untuk surga, hal ini menunjukkan bahwa keabadian adalah merupakan sifat khusus surga, sedangkan siksa neraka tidak abadi.

Kenyataannya, bahkan kata “abada” tak bisa dipahami sebagai suatu masa yang tak ada batasnya. Dalam penggunaannya di ayat lain —misal dalam surat al-Mumtahanah [60]: 4)— Allah Swt. sendiri menggunakan kata itu sebagai jangka waktu yang ada batasnya.

Hal ini diperkuat dengan ayat lain yang nyata-nyata menyebut jangka waktu kediaman penghuni neraka dengan “ahqaba” (QS an-Naba’ [78]: 23). Yakni masa yang panjang tapi memiliki batas waktu.

Di akhirat kelak, menurut Ibn ‘Arabi, pada saatnya semua manusia akan bebas dari siksaan, bahkan merasakan kenikmatan, meski sesungguhnya kenikmatan itu sama sekali tak bisa dibandingkan dengan yang dialami para penghuni surga. Dalam konteks ini, Ibn ‘Arabi mengungkapkan pandangannya dalam beberapa bait syair berikut ini:

Meski mereka masuk neraka, sungguh mereka

Merasakan kenikmatan di sana; Suatu nikmat,

Yang berbeda dari nikmat di surga, meski hakikatnya sama

Perbedaan antar kedua nikmat itu pada Tajallî

Disebut ‘adzab (siksa), berasal dari kata ‘udzubah (rasa manis yang menyegarkan)

Baca Juga:  Tasawuf dan Kemerdekaan

Baginya, ia (‘adzab) itu seperti kulit luar/sisik, dan kulit itu melindungi.

Akhirnya, sebuah pertanyaan: Kenapa Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang menciptakan siksa (meski hanya terjadi di dunia dan barzakh)? Kasih Sayang Allah Yang Tak Terbatas berarti bahwa Allah hanya menciptakan hal-hal yang baik bagi manusia. Dalam kaitan ini, Allah hanya menciptakan kenikmatan. “Apa pun yang baik terjadi pada kamu adalah dari Allah dan apa saja bencana yang menimpa kamu adalah dari dirimu sendiri.” (QS Al-Nisâ’ [4]: 79).

Dalam kaitan ini, sesungguhnya perlu dipahami (apa yang dipersepsi sebagai) neraka, pada dirinya (aslinya) ia adalah sumber kenikmatan layaknya surga. Manusia sendirilah, yang dibangkitkan di akhirat dalam keadaan jiwanya sakit akibat perbuatan-perbuatan buruknya sendiri, yang kemudian mempersepsi apa yang sifat aslinya adalah kenikmatan, sebagai siksaan atau kesengsaraan.  Contohnya: Bagi orang yang tubuhnya bertemperamen dingin, hawa panas terasa menghangatkan dan nikmat. Sementara bagi orang yang memiliki temperamen panas, hawa panas akan menyiksa. Beginilah kenikmatan terasa sebagai siksa bagi orang-orang yang jiwanya sakit.

Kenyataannya, Allah sendirilah yang menyebut neraka Jahannam sebagai sejatinya karunia/nikmat. Inilah neraka Jahannam yang didustakan oleh orang-orang berdosa.

“Mereka (para pendurhaka) berkeliling di antaranya; (yakni antara neraka) dan air yang mendidih yang memuncak panasnya. Maka, karunia/nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?” (QS Ar-Rahman [55]: 44-45)

Ya, neraka dan siksanya adalah cara Allah membuka jalan bagi hamba-hambanya agar bisa diperbaiki ketika mereka tak cukup memperbaiki dirinya dengan amal-amal saleh si dunia. Maka, Allah pun menjadikan neraka dan siksanya sebagai sarana untuk memperbaiki mereka secara paksa. Agar dengan siksa itu manusia bisa dibebaskan dari dosa-dosanya, dibersihkan hatinya, agar akhirnya benar-benar dapat merasakan kebaikan Allah dalam bentuk neraka itu sebagai kenikmatan atau rasa manis yang menyegarkan.

(Nuralwala/DA)

0 Shares:
You May Also Like