Kehilangan Orang-Orang Dekat

Oleh: Haidar Bagir

Pengasuh Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak & Tasawuf

Selanjutnya, bagaimana menyikapi kehilangan keluarga atau kehilangan orang-orang terdekat, khususnya di dalam kondisi musibah seperti sekarang ini?

Dalam salah satu ayat Alquran, Allah telah menggambarkan hal ini dengan berfirman:

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَمْوَالِ وَالْاَنْفُسِ وَالثَّمَرٰتِ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ

 “Dan sungguh, Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit/sekadar ketakutan, kelaparan kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Baqarah [2]: 155)

Dalam ayat tersebut Allah menggunakan kata “min” untuk menunjukan makna “sedikit” atau “sekadar”. Artinya, musibah yang Allah timpakan itu bukan sesuatu yang terlalu berat, sehingga menyebabkan kita tidak bisa menanggungnya. Melainkan, sekadar—bahkan kadang diterjemahkan sedikit—ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan (makanan). Menarik memperhatikan bagaimana Allah menunjukkan, bahwa bala itu tidak besar dan bukan sesuatu yang tidak bisa kita tanggung.  Sebagaimana di ayat lain Allah firmankan:

لَا يُكَلِّفُ اللّٰهُ نَفْسًا اِلَّا وُسْعَهَا … رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا اِنْ نَّسِيْنَا اَوْ اَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا اِصْرًا كَمَا حَمَلْتَه عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِه وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا اَنْتَ مَوْلٰىنَا

Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya…. Tuhan Pemelihara kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami (beban) yang berat sebagaimana Engkau  bebankan kepada orang yang sebelum kami. Tuhan Pemelihara kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami (memikul)-nya. Maafkanlah kami; ampunilah kami; ramhatilah kami. Engkau-lah penolong kami...” (QS. Al-Baqarah [2]: 286)

Perhatikan, betapa Allah itu Maha Bijaksana dan Maha Kasih-sayang kepada kita.

Nah, dikatakan bahwa di antara cobaan yang datang kepada kita itu dapat berupa kekurangan jiwa. Dalam konteks ini ialah adanya jiwa-jiwa yang diambil oleh Allah. Tentunya, kalau itu dimaksudkan sebagai cobaan, maka bisa disimpulkan bahwa itu adalah jiwa orang-orang yang dekat dengan kita, jiwa dari keluarga kita.

Baca Juga:  Hulul dan Ittihad: Sebuah Catatan

Lalu, bagaimana jika ada keluarga terdekat kita yang harus meninggalkan kita? Pertama, seperti yang difirmankan oleh Allah dalam ayat di atas bahwa Allah meminta kepada Rasulullah supaya mengabarkan kepada orang-orang yang mendapatkan ujian itu, agar sabar dan menemukan kabar gembira di dalamnya. Karena, sebetulnya, banyak hikmah yang terkandung dalam ujian tersebut. (baca kembali: Corona: Kutukan atau Berkah?)

Kedua, sesungguhnya ketika keluarga atau orang-orang terdekat kita meninggalkan kita, maka bukan berarti hubungan kita dengan mereka telah terputus begitu saja. Allah mengatakan, bahwa orang-orang baik itu—khususnya orang-orang yang meninggal dunia dalam keadaan menyaksikan Allah sebagai Tuhan dan sebagai Rabb mereka—mereka itu tidak mati, mereka hidup di sisi Allah dalam keadaan mereka mendapat curahan rezeki.

وَلَا تَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ قُتِلُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ اَمْوَاتًا بَلْ اَحْيَاۤءٌ عِنْدَ رَبِّهِمْ يُرْزَقُوْنَ

Jangan sekali-kali engkau (siapapun engkau) mengira (bahwa) orang-orang yang gugur di jalan Allah adalah orang-orang mati; bahkan mereka itu hidup di sisi Tuhan Pemelihara mereka dengan dianugerahi rezeki”. (QS. Ali Imran [3]: 169)

Sekali lagi Allah menegaskan bahwa mereka—yang secara jasad telah tiada—pada hakikatnya masih hidup, bahkan lebih hidup lagi. Karena, ketika kita hidup di  dunia, ruh manusia terperangkap dalam jasad. Saat meninggal, maka perangkap jasad itu lepas dari ruh. Dan ruh pun hidup dengan cara yang lebih penuh dan lebih merdeka. Ya, mereka hidup, sehingga kita masih bisa berhubungan dengan mereka, walaupun tak lagi secara fisik, melainkan secara ruhani.

Diriwayatkan, ketika putra Rasulullah saw. dan Siti Khadijah yang bernama Ibrahim meninggal dunia, Siti Khadijah sebagai ibunya amat bersedih. Sehingga suatu hari ketika Rasulullah pulang ke rumahnya, Rasulullah mendapati Khadijah sedang menangis, karena rindu kepada Ibrahim yang baru meninggal dunia. Maka Rasulullah mengatakan; “Wahai istriku, Ibrahim sudah di surga. Kalau engkau ingin, aku bisa perdengarkan suara Ibrahim di surga”. Siti Khadijah dengan keimanan yang kuat kepada Allah dan Rasul-Nya—yang adalah suaminya itu—berkata; “Tidak, cukup bagiku Rasulullah”. Artinya Siti Khadijah percaya tentang hal itu. Jadi, sesungguhnya para syuhada, orang-orang baik itu—sebagaimana dalam contoh Ibrahim putra Rasulullah saw.—mereka semua masih hidup bahkan lebih hidup lagi. Jika demikian, tinggal bagaimana kita memelihara hubungan baik dengan orang-orang terdekat yang telah lebih dahulu meninggalkan kita.

Baca Juga:  Jadikan Allah sebagai Wakil

Dikatakan di dalam sebuah hadis Rasulullah saw.: “Ada tiga hal yang tidak putus jika seseorang itu meninggal dunia. Yaitu, (1) ilmu yang bermanfaat, (2) sedekah atau amal jariah—perbuatan baik untuk kepentingan masyarakat (umum) yang dilakukan tanpa pamrih, dan (3) Anak saleh yang mendoakan orang tuanya”. 

Saat disebut ilmu yang bermanfaat, maka jika kita ingin memelihara hubungan dengan orang yang sudah meninggal, tugas kita ialah menerapkan dan mengamalkan ilmu yang telah diajarkannya. Dengan mengamalkan dan menyebarkannya, maka kita sudah menjaga hubungan dengan orang yang sudah meninggal itu.

Apabila orang yang meninggal tersebut memiliki kegiatan sosial yang baik seperti membangun rumah yatim, atau kegiatan-kegiatan sosial lainnya untuk membantu orang, hendaknya kita teruskan agar amal jariah dari orang yang meninggal tersebut tidak berhenti. Sebaliknya, justru terus menerus berjalan dan mengalir. Misalnya, ayah saya meninggal dalam keadaan memiliki sanggar untuk membantu anak-anak duafa agar bisa belajar, sehingga mereka tidak tertinggal dari anak-anak yang lebih mampu dari mereka. Kami sekeluarga terus memelihara peninggalan ayah kami. Dengan begitu, kami memelihara hubungan dengan ayah kami yang sudah meninggal dunia.

Jadi, ada banyak jalan, termasuk juga dengan mendoakan orang yang sudah meninggal. Banyak dalil yang mengatakan bahwa, doa kita untuk orang yang meninggal itu akan membantu orang yang meninggal tersebut. Itu juga merupakan sarana untuk berhubungan dengan orang yang sudah meninggal. Setelah itu kita harus terus beramal baik sehingga Allah juga akan memberi pahala kepada mereka, karena kita adalah buah dari ayah dan ibu kita. Apalagi kalau amal itu kita niatkan untuk keluarga terdekat kita yang sudah meninggal, maka insya Allah itu juga akan menjaga hubungan kita dengan orang yang telah meninggal. Bukan semata kita telah berbuat baik kepada yang sudah meninggal, tapi setiap upaya untuk menjaga amal sosialnya atau amal baiknya, termasuk menyebarkan ilmu yang diajarkannya, kemudian beramal baik demi mereka. Tentu ini bukan saja memberikan manfaat bagi yang meninggal. Dengan cara itupun memori tentang orang yang meninggal itu tetap terpelihara di dalam diri kita.

Baca Juga:  Imam al-Qusyairi: Metodologi Sufi dalam Menentukan Bulan Ramadhan

Jika semua saran di atas itu kita lakukan, maka sesungguhnya kita hanya mengalami keteputusan hubungan fisik dengan orang yang telah meninggalkan kita. Hubungan psikologis, khususnya hubungan ruhani yang lebih kuat, akan terus terpelihara. Akhirnya, kehilangan orang-orang terdekat dengan kita itu mudah-mudahan tidak menjadi pukulan yang berat bagi kita. Sebaliknya, justru kita bisa bersabar dan bisa mengambil hikmahnya. Maka perasaan bahagia serta gembira karena tidak terputusnya hubungan kita dengan orang yang telah meninggal itu akan terus tercipta di dalam hati kita. Barangkali itulah tafsir terhadap potongan terakhir dari ayat Alquran di atas. Yakni, bahwa kehilangan orang terdekat, jika kita sikapi dengan baik, justru akan menjadi sumber kegembiaraan dan kebahagiaan bagi kita semua.

0 Shares:
You May Also Like
Read More

Menguak Alam Imajinal

Haidar Bagir Dewan Pembina Nuralwala Dalam khazanah spiritualitas Islam (sufisme, ‘irfan, isyraqiyah, atau hikmah), biasanya diterima adanya tiga…