SASTRA DAN SUFISME

Haidar Bagir

Dewan Pembina Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf

Dalam sufisme, puisi lebih sering lahir dari kecintaan (’isyq) yang meluap-luap kepada Tuhan. Cinta platonik. Akibatnya, di Turki, puisi-puisi seperti ini disebut kesusastraan ’asyiq (pencinta). Dalam kesusastraan sufi-Arab, cinta platonik seperti ini disebut sebagai cinta ’Udzri. Ia merujuk kepada sebuah suku Arab bernama Banu ’Udzrah di Wadi al-Qura, Hijaz Utara.

Dikisahkan bahwa pada di suatu masa, di tempat itu ada 30 anak muda yang berada di tepi kematian akibat cinta platonik yang tak terpuaskan. Melakukan perzinaan yang dikutuk tak terpikirkan oleh mereka karena dipercayai Islam telah memurnikan jiwa-jiwa mereka. Jadilah ia perlambang ketulusan cinta kepada Sang Ma’syuq (Pencinta), Tuhan. Puisi-puisi yang bermuatan cinta ’Udzri ini menonjol pada Rabi’ah al-’Adawiyah, tetapi juga pada ’Aisyah, putra Imam Ja’far al-Shadiq.

Yang terakhir ini barangkali ada hubungannya dengan kenyataan bahwa ungkapan-ungkapan cinta seperti ini banyak datang dari kakeknya, ’Ali bin Abi Thalib, sahabat Nabi Muhammad SAW yang dipercayai sebagai guru banyak sufi awal. Pada penyair sufi laki-laki hal ini termanifestasikan dalam puisi-puisi Ibn ’Arabi, Rumi, Hafiz, Sa’di, Shabistari, Sana’i, Jami’, dan banyak lagi. Yang berikut ini adalah salah satu contoh dari ’Ath-thar.

Termangsa cahaya kehadiran Simurgh

Ku sadar jadinya

Tak lagi tahu apakah aku Kau atau Kau aku

Ku t’lah sirna ke dalam-Mu

Maka pupus jugalah kebergandaan….

Nah, selanjutnya saya duga kita akan terkejut ketika mendapati bahwa di antara puisi religius yang lebih “liar” justru keluar dari seseorang yang dianggap seprofan Ayatullah Khomeini. Inilah sekadar cuplikan ungkapan-ungkapan puitik sang pemimpin besar Revolusi Islam di tanah Persia:

Baca Juga:  Dampak Perbuatan Buruk

Wahai kudamba hari itu

Saat piala (anggur) pengocok jiwa

Kuterima dari tangan-lembutnya

Dan, dalam lupa dua dunia

Terantai di helai-helai rambutnya

Wahai kudamba hari itu

Saat kepalaku di tapak-kakinya

Ciuminya hingga hidup usai saja

Dan jadilah aku hingga kiamat tiba

Mabuk dari gelasnya.

(Dari Wasiat Sufi Ayatullah Khomeini, karya Yamani, Mizan, bandung, 2001)

Khomeini, betapa pun enigmatic-nya pribadi ini bagi banyak orang, sesungguhnya hanyalah berada dalam garis tradisi para sufi-penyair Persia pendahulunya. Bahkan, meski juga “murid” dari Shadra, sang filosof hikmah yang tak kurang rasional, ia adalah pengikut mazhab Akbarian (Ibn ’Arabi) yang cukup setia.

Steven Katz, dengan tulisannya yang berjudul “Language, Epistemology, and Mysticism” (dalam buku yang disuntingnya sendiri, Mysticism and Philosophical Analysis, New York 1978) boleh saja menyatakan, “Adanya koneksi kausal yang amat jelas antara yang bersifat keagamaan dan pengalaman atas struktur sosial dan sifat pengalaman-aktualnya”, yang berarti bahwa ungkapan pengalaman keagamaan banyak dibentuk oleh bahasa (yang telah diterima sebagai suatu kesepakatan sosial).

Akan tetapi, hal ini dipersoalkan oleh Carl W Ernst, seorang peneliti sufisme, yang antara lain menulis tentang ujaran-ujaran ekskatik dalam aliran ini. Tanpa membantah kemungkinan adanya pengaruh bahasa seperti ini, ia menyepakati pendapat para sufi sendiri yang menyatakan bahwa sumber-utama bahasa mereka justru bersumber dari pengalaman religius, dan bukan sebaliknya.

Qusyairi, salah seorang penulis buku standar tentang tasawuf, dalam salah satu perbincangannya tentang terminologi sufi menunjukkan bahwa keadaan-keadaan mistikal bukanlah merupakan hasil dari upaya, melainkan barakah (grace) dari Tuhan. “Kata-kata (yang dipakai oleh para sufi) itu,” kata Ruzbihan Baqli, seorang sufi penyusun kamus terminologi sufisme, “mengikat rumus dari khazanah-khazanah kesubtilan-kesubtilan amar Ilahi.” (Di tempat lain Ruzbihan mendefinisikan rumus ini sebagai makna yang tersembunyi di bawah kalam-lahiriah). “(Kata-kata itu bersumber dari) tempat pemberhentian rahasia-rahasia keadaan-keadaan mistikal (ahwal), permakluman amar-amar itu, kerinduan-kerinduan ma’rifat, dan pancaran cahaya penyibakan (kasyf)… yang diungkap dari penyibakan manifestasi kekekalan, kalam yang abadi, tindakan-tindakan unik (ketuhanan), dan realitas-realitas manifestasi sifat-sifat-Nya.”

Baca Juga:  Agama, Cinta Tuhan, dan Nestapa Manusia Modern

Orang-orang yang telah mereguk “minuman-minuman rohani” dalam kesubtilan yang unik dan memesonakan dari dunia yang tersembunyi, pun menjadi master-master atas keadaan sesaat (waqt) mereka, dan mereka pun mengungkapkan isyarat-isyarat kemanisan melalui kata-kata. Dalam pernyataan Ibn ’Arabi, kata (harf) adalah “ungkapan yang dengannya Tuhan berkomunikasi denganmu.”

Dengan kata lain, bukan hanya para sufi seperti menyangkal bahwa ilham datang dari alam imajinal—jika ia dipercayai sebagai berada di bawah tingkat alam rasional, seperti yang dipahami para filosof—mereka boleh jadi tak percaya pada keperluan untuk membatasinya dengan daya rasional.

Satu-satunya pembatasan bagi para sufi muncul oleh keperluan mempertimbangkan konteks pengajaran ilham-ilham itu kepada para murid sufisme yang belum mencapai suatu tingkat yang memampukan mereka untuk mencerap ilham-ilham itu dalam segenap ke-“penuh”-annya. Itu sebabnya para sufi terkadang terpaksa menyederhanakan, di waktu lain menyembunyikan (meng-encrypt), ilham-ilham yang mereka peroleh dari pengalaman-mistikal mereka lewat bahasa-bahasa yang sesuai.

Meskipun demikian, sufisme pun bukannya tidak mengenal latihan-latihan dalam hal perolehan ilham-ilham mistikalnya. Selain untuk memastikan bahwa ilham-ilham itu otentik, sekaligus meningkatkan daya spiritual, boleh jadi juga latihan-latihan ini diperlukan untuk mempersiapkan wadah yang cukup bagi terpaan ilham yang datang agar tidak meluap-luap ke sana kemari dan melahirkan ungkapan-ungkapan ekskatik yang kontroversial.

Dengan cara inilah para sufi menjalankan fungsinya sebagai guru bagi para murid-baru sufisme, yang harus merancang bahan-bahan yang sesuai dengan tingkat kemampuan mereka. Latihan ini mengambil bentuk ketaatan kepada aturan perjalanan spiritual (suluk), termasuk pembagiannya ke dalam stasiun-stasiun (maqamat) dan keadaan-keadaan (ahwal).

(Nuralwala/DA)

27 Shares:
You May Also Like
Read More

Makna Pluralisme yang Sebenarnya

Pluralisme agama pada dasarnya merupakan sebuah realitas dalam kehidupan dunia. Al-Qur’an mengakui secara tegas adanya pluralisme dalam berbagai…
Read More

Menjadi Majnun di Hadapan Tuhan

Suatu hari, Majnun mendengar bahwa Laila sedang membagi-bagikan makanan untuk para penduduk. Begitu mendapat informasi demikian, Majnun dengan…