Konsep Kematian Menurut Ibnu Sina dan Mulla Sadra

Dalam diskursus wacana teologi keislaman, ada empat hal yang sudah digariskan sejak masa kandungan oleh Tuhan: rezeki, amal (baik dan buruk), nasib (mulia dan celaka) dan umur (ajal). Dari keempat wacana ini, hampir semua kalangan ulama, teolog, filsuf, sufi, dan para intelektual berselisih pandangan, apakah rezeki, amal, nasib dan ajal atau kematian bisa diubah atau tidak?

Hal yang sudah pasti dari keempat wacana ini, kematian mungkin adalah kata yang tak ingin kita dengar. Komaruddin Hidayat dalam Psikologi Kematian (2016), menarasikan seharusnya ketika berbicara tentang kematian ada rasa kesenangan karena jiwa akan kembali ke rumah yang suci, bertemu dengan Dzat Yang Suci, ibarat orang pergi keluar kota, kembali ke rumah berkumpul dengan sanak keluarga.

Para ulama, teolog, filsuf, agamawan, sufi, dan para intelektual hampir semuanya berselisih pendapat dan pandangan tentang agama, alam, manusia, mazhab, bahkan tentang tuhan ada dan tidak. Namun, ketika memasuki prihal kematian semuanya setuju, bahwa setiap makhluk yang hidup pasti akan mati. Kematian tak mengenal waktu, kapan pun, di manapun. Kematian juga tak ada kaitannya dengan status, kaya dan miskin, sehat dan sakit, muda dan tua.

Terlepas itu semua, konsep kematian dalam diskursus kajian filsafat Islam paripatetik dan isyraqi (illuminasi), atau ‘irfani (Gnosis, Sufisme atau Tasawuf), sangat menarik dan unik. Misalnya, konsep kematian dalam pandangan Ibnu Sina (980-1037 M) dan Mulla Sadra (1572-1640).

Dalam perspektif filsuf Muslim paripatetik seperti Ibnu Sina, kematian dibagi ke dalam tiga katagori: kematian atas iktiyar sendiri, kematian alamiah dan kematian karena kecelakaan. Ibnu Sina sebagai salah satu filsuf Muslim paripatetik memiliki konsep yang sangat unik dan menarik tentang konsep kematian alamiah.

Baca Juga:  Mencintai Makhluk, Dicintai Khalik (Bagian 2)

Dalam pandangan Ibnu Sina, kematian ada kaitannya dengan konsep jiwa yang diwacanakan. Baginya, kematian itu terjadi karena jiwa sudah tak betah lagi dengan keadaan badan yang sudah tidak layak lagi untuk ditempati. Dalam konteks ini bukan berarti Ibnu Sina atheis yang tak percaya adanya Tuhan.

Ibnu Sina menganalogikan jiwa yang ada dalam tubuh manusia seperti seorang yang memiliki rumah. Jiwa merupakan pemilik rumah, sementara rumah adalah badannya. Sebuah rumah yang sudah rusak tentu sang pemilik rumah tak betah menempatinya, ia akan segera meninggalkan rumah yang sudah rusak tersebut. Sama halnya dengan jiwa, ketika melihat badan sudah tua renta, tak mampu lagi, maka jiwa yang bersifat alamiah tersebut akan segara meninggalkan badan.

Bagi Ibn Sina jiwa dan badan memiliki keterkaitan hubungan yang sangat erat dan saling bekerjasama secara terus-menerus selama badan masih ada. Jiwa tak akan pernah sampai pada kulminasi spiritual, tanpa adanya fasilitas dari badan. Oleh karenanya, jiwa bisa menjadi sumber hidup, potensi pengatur bagi badan. Layaknya seperti seorang supir bus, mobil, motor, dan pilot pesawat begitu memasuki kemudi ia akan menjadi pengerak, potensi dan pengatur bagi bus, mobil, motor, dan pilot pesawat.

Lebih lanjut, dalam pandangan Ibnu Sina, jiwa merupakan sumber penghidupan bagi tubuh, yang bisa mengatur dan mengelola segala potensi yang ada dalam tubuh. Dengan demikian, ketiadaan jiwa, berarti juga ketiadaan tubuh pula. Demikian hal sebaliknya, jika tubuh tak ada maka jiwa pun tak ada, oleh karenanya, keberadaan jiwa dan badan tak bisa dilepas sama lainnya. Pada konteks ini Ibnu Sina sangat jelas sependapat dengan Aristoteles (384-322 SM) tentang jiwa, di mana jiwa dipandang sebagai substansi dan bentuk yang erat kaitannya dengan badan.

Baca Juga:  Kontroversi di Sekitar Keilmuan Tasawuf

Ibnu Sina menyarankan, jika seseorang ingin memiliki umur panjang di dunia, sebaiknya merawat badan secara sebaik-baiknya, memperbanyak olahraga, makan makanan bernutrisi, istirahat cukup, agar badan tetap terlihat menyenangkan bagi jiwa sehingga dengan demikian kematian bisa dihindari. Sebaliknya, jika ingin mempercepat kematian, maka hiduplah dengan cara  tidak sehat, banyak berpikir negatif, biarkan badan depresi dan stres menyelimuti dalam keseharian hingga tubuh menjadi tak sehat, bugar, cepat tua, sakit-sakitan. Dengan begitu, jiwa segera meninggalkan badan yang sudah tak layak ditempati jiwa.

Sementara, dalam pandangan Mulla Sadra pemikirannya sangat kontras dengan pemikiran Ibnu Sina. Menurut Sadra, terkait kematian, bukan tubuh yang membuat jiwa tak betah berada berlama-lama dalam badan, melainkan karena jiwa sendiri mengalami penyempurnaan dan kepincut sama alam lain. Jiwa meronta-ronta rindu dengan suatu yang lebih suci dan secara alamiah, jiwa meninggalkan tubuh dengan sendirinya.

Konsep kematian Sadra ini, erat kaitannya dengan konsep jiwa, di mana jiwa termasuk bagian dari katagori anatomi rohani tubuh manusia, selama masih hidup jiwa akan melekat dan manjadi pengerak dan pusat kekuatan badan manusia berada pada jiwa. Oleh karena itu, Sadra memiliki istilah “kulluhu al-quwwaa” bahwa jiwa kekuatan terpenting dalam membangun tubuh, akal dan hati. Dari sini, sudah jelas kedudukan dan posisi jiwa sebagai bagian dari anatomi tubuh manusia.

Bagi Sadra, segala bentuk kegiatan jiwa, erat kaitannya dengan kondisi fisik tubuh dan sebaliknya gerakan tubuh dipengaruhi keadaan jiwa. Pada tingkat kearifan spiritualitas manusia, mulai dari kesehatan, kebersihan hingga kesucian sekalipun sangat berpengaruh besar bagi jiwa. Dalam karyanya, Al-Hikmah al-Muta’aliyah fii al-Asfar al-Arba’ah (1981) Mulla Sadra menarasikan jiwa dengan berbagai kategori yaitu: jiwa rendah (al-nafs al-nabatiyah), jiwa menengah (al-nafs al-hayawaniyah) dan jiwa tertinggi (al-nafs al-nathiqiyah).

Baca Juga:  Tasawuf sebagai Jawaban dari Keresahan Alam Pikir Milenial

Perbedaan sudut pandang dari kedua pemikiran antara Ibnu Sina dan Sadra di atas, bahwa fondasi dasar yang di bangun dari filsafatnya juga berbada. Avieccena membangun pemikirannya dari seorang ahli saintis (dokter) yang lebih banyak memusatkan perhatiannya pada fisiologi. Sementara Sadra membangun filsafatnya dari disiplin ilmu ‘irfani (Gnosis, Sufisme atau Tasawuf), atau eksistensialisme di mana lebih mengutamakan jiwa dibandingkan badan. Pada akhirnya, memang yang sangat pasti dan harus diakui bahwa kematian itu tetap di tangan Tuhan.

3 Shares:
You May Also Like