Welas Asih (Compassion) Inti Semua Agama Dunia

Yuval Noah Harari dalam salah satu ceramahnya meragukan peran agama bagi masa depan manusia. Keraguannya itu karena: Pertama, tokoh-tokoh agama tidak bisa atau salah memahami permasalahan dan tantangan zaman ini. Kedua, permasalahan pertama tadi menghantarkan kepada tidak tepatnya jawaban atau solusi para agamawan bagi pelbagai permasalahan masa kini. Bagi Yuval belum ada jawaban yang pasti bagi tantangan disrupsi masa depan. Dalam batas tertentu, kesimpulan Harari itu ada benarnya. Misalnya dalam laporan World Happiness Index mencatunkan Top Ten negara paling bahagia adalah yang tidak lagi memandang penting agama. Negara-negara tersebut lebih memilih lembaga-lembaga sekuler untuk mememuhi kebutuhan mereka akan pemerintahan yang bersih, jaminan sosial, kesejahteraan dan kebebasan individual.

Di sisi lain, perilaku beragama juga terlibat dalam tindak radikalisme, baik Islam, Budha, Kristen dan agama-agama lainnya. Radikalisme ini ditenggarai karena adanya sikap truth claim yang menuntun kepada sikap untuk saling menegasikan eksistensi agama lain, bahkan sikap takfiri kepada antar-sesama golongan di dalam agama itu sendiri. Tentu saja, sikap seperti ini meruntuhkan misi utama dari setiap agama untuk mewujudkan perdamaian dunia. Keadaan ini membuat banyak orang menyimpulkan bahwa agama memang merupakah masalah bagi kemanusiaan.

Bagi Karen Armstrong—pakar sejarah agama—pernyataan bahwa agama adalah masalah kemanusiaan adalah tidak tepat. Karena faktanya masalah utamanya adalah kerakusan manusia, ambisi politik dan hal-hal sekuler yang dibungkus dengan baju agama. Bagi Armstrong, agama memiliki pengaruh vital dalam sejarah manusia yang hanya bisa disaingi oleh Transformasi Besar Barat, yang menciptakan modernitas ilmiah dan revolusi teknologi. Agama-agama meskipun secara lahir memiliki perbedaan tetapi sebenarnya diikat secara batin oleh Aturan Emas (the golden rule) yang merupakan kunci agama untuk bisa memberikan kontribusi positif bagi manusia sepanjang masa.

Armstrong menyatakan untuk memahami peran transformatif agama dalam sejarah manusia, kita harus menengok jauh ke zaman Aksial sekitar tahun 900-200 SM. Ini adalah fase sejarah penting yang menjadi sumbu (pivot) pengalaman spiritual umat manusia, menjadi sumber lahir bagi semua agama besar dunia. Fase ini dianggap penting karena di dalamnya terjadi perubahan intelektual, psikologis, filosofis, dan religius dalam sejarah yang tercatat. 

Baca Juga:  Syekh Abdul Karim al-Bantani: Guru Sufi dan Dalang Perlawanan Petani Melawan Belanda

Pada masa ini, lahir tradisi-tradisi yang tanpa henti menumbuh-suburkan nilai-nilai kemanusiaan di empat belahan dunia, yaitu: Pertama, Konfusianisme dan Daoisme di Cina; Kedua, Hinduisme dan Budhisme di India; Ketiga, Monoteisme di Israel—yang menjadi rujukan Yudaisme, Kristen dan Islam; Keempat,  filsafat rasional di Yunani, yang melahirkan filsafat Barat. Ini adalah masa lahirnya Budha, Socrates, Konfusius, Jeremiah, Mistik Upanishad, Mencius dan Euripides. Meskipun masa ini sangat jauh dari kita namun faktanya keberagamaan kita tidak pernah melampui masa ini, tegas Armstrong. Para pemuka agama hanyalah menafsirkan ulang nilai-nilai masa Aksial dengan cara yang berbeda sesuai dengan konteks zaman mereka. Karena itu, Rabbi Yahudi, Kristen, dan Islam misalnya, tidak lain daripada perkembangan akhir dari masa Aksial yang asli. Ketiga tradisi ini hanya melahirkan visi masa Aksial dan menerjemahkannya ke dalam bahasa yang langsung berhubungan dengan lingkungan mereka.

Karakter iman pada masa Aksial yang menjadikannya sebagai sumbu agama dunia adalah konsepsi pengalaman religius sebagai tidak terungkapkan (inefabble) dan karena itu satu-satunya sikap yang paling tepat terhadapnya adalah diam penuh takjub (reverent silence).  Jika Buddha atau Konfusius ditanya apakah dia percaya pada Tuhan, dia mungkin akan sedikit mengernyit dan menjelaskan—dengan sangat sopan—bahwa ini bukanlah pertanyaan yang tepat. Diam di sini bukanlah tidak memiliki kebenaran. Tapi, kebenaran yang langsung dialami secara intuitif dengan menghapus berbagai ego manusia. Dan ketika kebenaran mistikal sudah didapatkan, maka ekspresi yang paling tepat adalah dengan melakukan aksi kemanusiaan dalam bingkai welas asih.

Karena itu, para Agamawan Bijak saat itu menghindarkan diri dari memaksakan orang lain untuk menerima konsepsi mereka tentang realitas yang mereka miliki. Ini berbeda dengan para agamawan paska Aksial yang memandang masalah iman sebagai pertama-tama harus mempercayai kredo iman tertentu seperti umumnya agama pada masa kini. Namun, kebanyakan orang bijak Aksial tidak tertarik pada doktrik metafisik tertentu misalnya seperti Budha. Karena itu, ada sebagian dari mereka yang tegas menolak sekadar membahas masalah teologi bahkan menganggap hal itu akan menggangu dan merusak keimanan. 

Baca Juga:  Karen Armstrong dan Dunia yang Diimpikannya

Menurut Armstrong penolakan mereka didasari karena seringkali ketika para agamawan membicarakan masalah ultimate reality, apakah itu Tuhan, Nirvana, Brahman, Dao, Allah, dan lain-lain, mereka mengira bahwa mereka mengetahui sepenuhnya apa yang sedang mereka bicarakan. Padahal kenyataanya ultimate reality adalah jauh melampui apa yang kita bisa ketahui. Yang lain berpendapat bahwa mencari jenis kepastian absolut yang diharapkan banyak orang bisa diberikan agama adalah tidak dewasa, tidak realistis, dan menyesatkan. Karena seringkali pendekatan teologis lebih bersifat apologetik dan polemis sehingga yang terjadi adalah ketegangan mengenai perebutan klaim kebenaran dan merupakan misi utama agama untuk membela kemanusiaan dan menciptakan perdamaian.

Karakter kedua, agama pada masa Aksial adalah praktik welas asih. Agama bukanlah hanya masalah mempercayai (to belief) tetapi bagaimana kita berperilaku (doing things). Agama adalah tentang melakukan hal-hal yang mengubah manusia secara mendalam dan mendasar. Para Guru Bijak zaman Aksial mengubah pusat agama pra Aksial dari sekadar ritual agama menjadi dipenuhi dengan makna etis baru dan menempatkan moralitas di jantung kehidupan spiritual. Satu-satunya cara agar kita dapat menemukan apa yang mereka sebut sebagai: Tuhan, Nirvana, Brahman, atau Jalan (Dao) adalah dengan menjalani kehidupan yang dipenuhi dengan welas asih. Ini karena hakikat agama adalah welas asih. Beriman dengan basis welas asih adalah mengasihi semua makhluk di manapun, siapapun bahkan termasuk kepada musuh kita sendiri. Dengan kata lain, beriman adalah pertama-tama seseorang harus berkomitmen kepada kehidupan etis; kemudian melakukan kebajikan terdisiplin dan rutin. Inilah yang akan mengantarkan dirinya kepada pengalaman transendensi (kepada Yang Absolut) seperti yang diharapkan. Kebenaran agama diraih dengan melakukan aksi praktis. Armstrong mengambil contoh sehari-hari, seperti kita tidak bisa mengendarai mobil hanya dengan melihat buku manual cara menyetir. Kalau kita mau bisa menyetir maka kita harus praktik langsung. Karena itu, agama adalah disiplin praktis yang mengajarkan kita untuk menemukan kapasitas-kapasitas baru pikiran dan hati.

Baca Juga:  Ramadan: Madrasah Spiritual Orang-Orang Beriman (Bagian 3)

Tujuan utama dari para Agamawan Bijak masa Aksial adalah menciptakan jenis (pengalaman spiritual) manusia yang sama sekali beda.  Semua orang bijak zaman ini mengajarkan spiritualitas empati dan welas asih; mereka bersikeras bahwa orang harus meninggalkan egoisme dan keserakahan mereka, kekerasan dan ketidakbaikan mereka. Tidak hanya membunuh manusia lain itu salah, bahkan tidak boleh mengucapkan kata-kata kasar atau membuat isyarat yang menjengkelkan. Lebih jauh, hampir semua orang bijak Aksial menyadari bahwa manusia tidak dapat membatasi kebajikan hanya pada orang-orang sendiri: perhatian semua manusia entah bagaimana pun caranya harus meluas ke seluruh dunia. Faktanya, ketika orang-orang mulai membatasi wawasan dan simpati mereka, itu adalah tanda lain bahwa zaman Aksial akan segera berakhir. Setiap tradisi mengembangkan rumusannya sendiri tentang aturan emas ini, misalnya diekpressikan dalam bentuk negatif: “Jangan lakukan kepada orang lain apa yang tidak akan Anda lakukan terhadap Anda (Do not do to others what you would not have done to you)”. Atau dalam bentuk positif: “Perlakukanlah semua orang sebagaimana Anda ingin diperlakukan”. (Always treat all others as you would wish to be treated yourself). Menurut Para Bijak zaman Aksial, penghormatan terhadap hak-hak suci semua yang ada adalah agama itu sendiri. Jika orang berperilaku dengan kebaikan dan kemurahan hati kepada sesamanya, mereka bisa menyelamatkan dunia.

Sumber Bacaan:

Karen Armstrong, The Great Transformation

Karen Armstrong, The Case for God

Karen Armstrong, The History of God

Karen Armstrong, Twelve Steps to Compassionate Life

6 Shares:
You May Also Like