Nikmat Islam

Oleh: Faqry Fakhry

Muhib di Jalan Menuju Mahbub

Kita sering mendengar para khatib menyatakan agar kita bersyukur atas “nikmat Islam” dan bahwa nikmat Islam adalah nikmat yang terbesar yang Allah karuniakan atas kita. Begitu seringnya diungkapkan, sehingga sudah terasa klise pernyataan itu. Bahkan lebih sering tak punya makna, kalau malah bukan terkesan dangkal dan membosankan. Padahal kalau kita renungkan, ungkapan “nikmat Islam” ini memiliki makna mendalam. Bagaimana?

Lebih sering selama ini kita melihat bahwa Islam yang kita anut ini adalah kewajiban yang dipaksakan oleh pemilik semua ciptaan, Allah swt. Kewajiban, yang kalau tidak kita wujudkan, bisa menyebabkan kita menjadi kafir dan diganjar neraka. Karena itu menjadi Muslim adalah sesuatu yang didorong oleh ketakutan akan nasib buruk dan kesengsaraan yang akan kita dapatkan dalam kehidupan setelah mati, yang kekal abadi. Akibatnya, kita pun beribadah dalam suasana penuh ketakutan.

Beribadah dangan ketakutan kadang memang diperlukan. Karena seringkali penyebab kelalaian kita dalam beribadah adalah kesombongan, perasaan bahwa kita penuh kuasa dan tak ada kekuasaan lain yang mengendalikan kita. Bahwa kita bisa berbuat apa saja, semua saja, tanpa ada risiko apa pun yang bisa menimpa kita. Tentu, ada makna lain dari gagasan tentang rasa takut (khawf) ini. Bahwa khawf  kepada Allah sesungguhnya pendahulu cinta kepada-Nya. Tapi tulisan ini tidak sedang membahas soal ini.

Nah, yang kita sering lupa, bahwa pada puncaknya Islam adalah nikmat Allah kepada kita. Bahwa, kalau pun kita tidak dipaksa oleh-Nya untuk menjadi Muslim, sesungguhnya orang yang waras dan memahami Islam dengan benar akan memilih untuk menjadi Muslim. Bahwa Islam adalah fasilitas hidup yang kita butuhkan, bukan hanya agar kita terhindar dari siksa barzakh dan neraka serta berbahagia di sana, tapi bahwa Islam bahkan kita butuhkan untuk menjamin kebahagiaan  hidup kita di dunia. Bagaimana bisa?

Baca Juga:  Corona: Kutukan atau Berkah?

Pertama, prinsip tauhid yang diajarkan Islam telah membuat hidup kita padu, seimbang, serta tak terfragmentasi dan terdisorientasi. Semua berasal dari Yang Satu, diatur dengan penuh keseimbangan dan harmoni oleh Yang Satu itu dan pada akhirnya akan kembali pada Yang Satu itu juga. Penuh keteraturan dan koherensi. Bukan saja prinsip ini menjadikan kita secara psikologis mendapatkan ketenteraman berkat tertutupnya kemungkinan chaos dan hal-hal sembarang yang bisa terjadi atas hidup kita, tapi penghargaan kepada sains dan keteraturan alam (cosmic order) pun akan lahir dari situ.

Kedua, Islam memberikan fasilitas kepada pemeluknya dalam bentuk sarana berkomunikasi dan curhat kepada suatu Wujud Yang Maha Kuasa sekaligus Maha Pengasuh. Kapan saja manusia yang ringkih ini mengalami masalah besar yang otherwise bisa membuatnya putus asa karena merasa tak ada manusia lain yang bisa membantunya keluar dari kemelut hidupnya, dia bisa meminta tolong kepada-Nya. Ini saja sudah suatu fasilitas psikologis yang luar biasa. Apalagi jika diingat bahwa memang pertolongan yang sesungguhnya kita yakini benar bisa datang dari Dia. Artinya, selain bersifat psikologis, aspek Islam ini juga bermakna riil dan konkret. Bahwa pertolongan itu bisa benar terwujud.

Ketiga, Islam mengajarkan akhlak mulia. Bahkan dikatakan bahwa Islam adalah agama akhlak. Bahwa Islam diturunkan melalui Nabi Muhammad saw. sebagai penyempurna akhlak mulia. Dan siapa yang akan tidak sepakat bahwa kepemilikan akhlak mulia—kerendahhatian, kebaikan hati dan sifat tanpa pamrih—adalah kunci kebahagiaan hidup kita?

Tentu jika dirinci, masih banyak lagi nikmat Islam yang bisa kita ungkapkan. Tapi, kiranya 3 hal pokok di atas sudah cukup bagi tulisan yang ringkas ini. Segala puji bagi Allah yang telah mengaruniakan kepada kita nikmat Islam.

Baca Juga:  Islam Agama Cinta

1 Shares:
You May Also Like
Read More

Tentang Neraka

Haidar Bagir Pembina Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf Di antara salah satu masalah yang perlu dijelaskan berkaitan…