Doa: Menggerakkan Alam Ruhani, Mengubah Takdir

Oleh: Haidar Bagir

Pengasuh Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf

Hari-hari ini kita berada di masa krisis yang risikonya bisa menimpa siapa saja di antara kita. Oleh karena itu, seperti saya sampaikan dalam dua sharing saya sebelum ini, kita harus terus waspada dan berikhtiar tanpa harus merasa panik. Juga, kita perlu mengambil hikmah, karena setiap musibah pasti ada hikmahnya.

Lalu, orang sering menanyakan, apa peran doa? Apa memang betul doa punya peran praktis? Jangan-jangan doa “hanya” sebuah pelajaran dari Allah swt. agar manusia pasrah kepada-Nya, lalu mau mendekat kepada-Nya? Benar, bahwa doa mempunyai beberapa peran, di antaranya peran spiritual, yaitu suatu medium untuk mengeluh dan meminta kepada Allah. Dengan cara itu, diharapkan kita menjadi dekat dengan Allah swt.

Doa juga disebut sebagai ungkapan ta’abbud atau ‘ubudiyyah kepada Allah swt. yang menyadarkan manusia, bahwa ia adalah hamba yang dhaif (lemah) yang tidak bisa hidup kecuali bergantung kepada-Nya. Semua hal itu benar, namun apakah doa tidak punya peran dalam menciptakan suatu realitas atau mewujudkan sesuatu? Apakah semua kejadian di dunia ini sudah diatur oleh sunnatullah, yang tidak ada sesuatu pun dapat mengubahnya? Atau apakah hukum alam tidak bisa berubah sesuai dengan harapan manusia?

Untuk mengetahui hal ini kita harus mempelajari apa yang disampaikan Alquran, dan memahami sifat kehidupan atau alam semesta sebagai sesuatu yang terbagi menjadi dua alam yang berbeda:

Pertama, ‘alam al-khalq (alam fisik), yaitu alam natural atau alam ciptaan yang diatur oleh hukum alam (saintifik). Hukum alam ini bisa diduga dan diramalkan karena sifatnya yang diatur oleh kausalitas dan berulang, serta berlaku pada setiap tempat dan waktu. Keberadaan hukum ini merupakan suatu realitas yang tidak bisa dinafikan.

Baca Juga:  Dimensi Tasawuf Dalam Tarekat Hizib Nahdlatul Wathan

Kedua, ‘alam al-amr, yaitu alam ruhani. Sebagaimana disebutkan dalam Alquran:

“Dan mereka bertanya kepadamu tentang ruh. Katakanlah: “Ruh itu berada di bawah pengarahan Tuhanku…”(QS Al-Isra’ 17:85)

Dalam terjemahan populer ayat tersebut dimaknai:,”Urusan ruh adalah urusan Tuhan, dan manusia tidak bisa ikut campur”. Padahal sambungan ayat Alquran tersebut berbunyi: “…dan kamu tidak diberikan pengetahuan tentang ruh, kecuali sedikit”. Artinya, betapa pun juga, manusia bisa memiliki pengetahuan  tentang ruh. Sehingga para mufasir yang lebih teliti menafsir kata “al-amr” bukan sebagai “urusan”, melainkan “pengarahan”.

Kesimpulannya, di samping ada alam fisik, juga ada alam ruhani. Di dalam alam fisik terdapat sunnatullah, juga di alam ruhani terdapat sunnatullah. Apa yang terjadi di dunia ini, merupakan interaksi bekerjanya, baik sunnatullah di alam fisik maupun sunnatullah di alam ruhani. Bila ada perubahan di alam ruhani, maka apa yang terjadi di alam fisik juga bisa berubah. Nah, bagaimana menggerakkan sunnatullah atau hukum-hukum yang ada di alam ruhani?

Pertama, adalah dengan doa. Fungsi doa selain bersifat spiritual, juga memiliki fungsi untuk menggerakkan hukum-hukum di alam ruhani. Jadi, hukum-hukum alam ruhani mampu mempengarui kejadian di alam fisik. Artinya, ada ‘inayah (dukungan) dari Allah swt. kadang disebut imdad ghaibiyah, yaitu dukungan yang bersifat ghaib atau ruhani, yang mampu mengubah akibat yang terbentuk akibat bekerjanya hukum alam.

Misalnya, ada sebuah penyakit dalam ilmu kedokteran yang secara keilmuan tidak dapat diobati dengan dasar hukum alam fisik. Namun, apabila kita berdoa dan mampu menggerakkan hukum-hukum yang berlaku di alam ruhani, kemudian hukum itu bekerja mempengaruhi hukum-hukum yang berlaku di alam fisik, maka hal yang tadinya bersifat mustahil menurut hukum-hukum alam fisik, bisa saja terjadi karena adanya  pengaruh dari bekerjanya hukum-hukum di alam ruhani itu.

Baca Juga:  Makna Tasawuf Menurut Para Sufi

Selain doa, ada hal-hal lain yang mampu  mempengaruhi berlakunya hukum-hukum di alam fisik, yaitu sedekah. Sedekah bisa jadi ‘penolak bala’ dan mengubah takdir. Atau amal saleh secara umum. Selain itu, amal silaturahim, yaitu berhubungan dengan makhluk Allah yang lain berdasarkan kasih sayang, juga mampu memberikan pengaruh. Ini seharusnya mendorong kita untuk melakukan kebaikan kepada makhluk Allah yang lain.

Kesimpulannya, kita harus memaksimalkan ikhtiar, dan mengikuti arahan-arahan dari ahli kedokteran, ahli mikrobiologi, ahli virus, termasuk arahan pemerintah. Setelah kita lakukan ikhtiar secara maksmimum, mari berdoa, bersedekah dan perbaiki silaturahim.

Dengan itu semua, mudah-mudahan selain ikhtiar yang kita lakukan untuk menyembuhkan yang sakit dari penyakitnya, insya Allah kita juga mendapatkan dukungan dari alam ruhani yang mempermudah untuk melakukan upaya-upaya penyembuhan dalam menyelamatkan seluruh manusia dari bencana yang sekarang menimpa kita ini.

Keterangan: Tulisan ini hasil transkip dari video Berdoa di Masa Krisis  di kanal Youtube Nuralwala oleh Sdr Harkaman dan telah disesuaikan serta diperkaya oleh tim Nuralwala.

20 Shares:
You May Also Like
Read More

SASTRA DAN DAYA IMAJINASI

Haidar Bagir Dewan Pembina Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf Kalau dilihat dari bentuknya, puisi jelas merupakan bentuk…