Corona: Kutukan atau Berkah?

Oleh: Haidar Bagir

Pengasuh Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf

Pada kesempatan ini saya akan membahas terkait fenomena mewabahnya virus Corona. Saya akan membahas apa yang entah secara eksplisit atau muncul di pikiran atau batin banyak orang yang mempertanyakan apakah Corona itu adalah sebuah kutukan atau berkah?

Yang pertama saya ingin sampaikan, di dalam ajaran Alquran semua yang menimpa kita itu datang dari Allah swt.

قُلْ لَّنْ يُّصِيْبَـنَاۤ اِلَّا مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَـنَا

Katakanlah (Nabi Muhammad saw.):”Sekali-kali tidak (ada manfaat atau mudharat yang) akan menimpa kami melainkan apa yang telah ditetapkan Allah bagi kami…” (QS. At-Taubah 9:51)

Di sisi lain Allah berfirman

مَاۤ اَصَا بَكَ مِنْ حَسَنَةٍ فَمِنَ اللّٰهِ وَمَاۤ اَصَا بَكَ مِنْ سَيِّئَةٍ فَمِنْ نَّـفْسِكَ

“Apa saja nikmat (kebaikan) yang engkau peroleh adalah dari Allah, dan apa saja bencana (keburukan) yang menimpamu maka dari (kesalahan) dirimu sendiri…” (QS. Al-Nisa’ 4:79)

Sebagian orang tidak sempat melakukan penelitian untuk merenungkan dua ayat di atas, sehingga menyimpulkan dua ayat tersebut itu bertentangan; yakni di satu sisi Allah mengajarkan kita untuk yakin bahwa apa saja yang menimpa kita itu berasal dari-Nya. Di sisi lain Allah mengatakan, yang datang dari Allah itu adalah yang baik dan kalau yang buruk itu dari diri diri kamu sendiri.

Kalau kita amati dua ayat tersebut dengan teliti dan penuh kehati-hatian, maka disimpulkan dua ayat tersebut mengajarkan satu pesan yang luar biasa bagi kita. Apa pesannya jika kedua ayat tersebut kita jajarkan? Yakni, Allah ingin mengatakan, “Semua yang menimpamu itu datangnya dari Allah. Dan semua yang menimpamu yang dari Allah itu semuanya adalah berupa kebaikan. Artinya, kalau sampai yang menimpamu itu menjadi hal yang buruk, maka sadarilah kamulah yang telah menyebabkan yang datang dari Allah —yang aslinya kebaikan— menjadi keburukan.

Baca Juga:  Tumpang Tindih Makna Jihad

Kita sering membaca pandangan orang mengenai kebahagiaan, bahwa kebahagiaan itu bukanlah sesuatu atau yang ditentukan oleh apa yang terjadi di luar diri kita. Yang membuat kita bahagia itu adalah sikap kita terhadap apa yang terjadi di luar diri kita, meskipun sesuatu yang terjadi di luar itu nampak seolah-olah keburukan. Kalau reaksi kita positif, maka itu akan nampak hikmahnya. Pada saat yang sama akan menjadi berkah atau kebaikan. Jadi seorang Muslim diajarkan tidak melihat apa pun yang datang kepadanya kecuali sebuah kebaikan yang datang dari Allah swt.

Sebelum saya melanjutkan pembahasan tentang musibah —yang sebetulnya itu semua datang dari Allah dan merupakan kebaikan— saya akan membahas sedikit tentang apa perbedaan antara bala’ dan azab?

Bala’ itu adalah sesuatu yang oleh Allah turunkan dalam bentuk tantangan atau kesulitan, bukan karena telah melakukan kesalahan dan dosa. Di dalam Alquran bala’ diartikan  dengan ujian. Ujian itu tidak mesti karena orang tersebut telah melakukan perbuatan yang salah. Ujian bisa diberikan untuk meningkatkan kualitas seseorang.

Sedangkan azab arti umumnya adalah siksaan atau hukuman. Sehingga orang mengatakan kalau bala’ tidak ada hubungannya dengan dosa, sementara azab itu adalah respon Allah terhadap orang yang telah melakukan kesalahan atau dosa.

Musibah  dalam bahasa Indonesia itu konotasinya negatif, sedangkan dalam bahasa Arab bermakna sesuatu yang  menimpa maknanya netral bisa baik dan bisa juga buruk (baca: QS. Al-Nisa’ 4:79).

Kita lihat bagaimana Alquran berbicara prihal ini. Dalam hal hasanah/kebaikan atau pun sayiah/ keburukan, Allah menggunakan kata ashaaba  yang satu akar kata dengan musibah. Ashaaba itu adalah kata kerja dan musibah itu kata benda. Jadi ada musibah yang netral, ada juga bala’ yang berhubungan dengan keinginan Allah untuk meningkatkan kualitas seseorang —meskipun orang-orang itu tidak membuat kesalahan— dan ada azab yang dipahami sebagai hukuman dari dosa.

Baca Juga:  Tentang Neraka

Yang ingin saya katakan ialah, bahkan dalam kata azab itu ada tujuan Allah untuk menyempurnakan orang yang telah berbuat dosa. Membuat orang yang terbiasa berbuat dosa menjadi tidak melakukannya lagi. Ketahuilah kata azab dalam bahasa Arab itu berasal dari akar kata ain, dzal, ba yang bisa bermakna adzbun. Kata adzbun dipergunakan  oleh Alquran untuk menunjuk di lautan itu ada air yang terasa manis dan membuat segar (baca: QS. Al-Furqan 25:53). Jadi azab meskipun bermakna hukuman, tapi tujuannya Allah itu baik bukan membalas dendam.

Berdasarkan pemaparan di atas dalam bala’ atau pun azab itu pasti ada hikmahnya dan ada muatan berupa kebaikan. Untuk itu kita tidak perlu berdebat terlalu panjang terkait virus Corona ini apakah bala’ atau adzab? Bagi orang yang sudah baik itu adalah cobaan. Dan bagi orang yang sering berbuat dosa itu adalah sebuah peringatan agar dia menyadari dosa-dosanya, yang kemudian dia bertobat kepada Allah, hingga akhirnya berubah menjadi baik. Maka  tidak ada musibah oleh Allah swt. kecuali untuk kebaikan kita semua.

Kembali kepada apa yang saya sampaikan. Semuanya itu tergantung respon kita. Kalau reaksi kita negatif, maka akibatnya ketika kita mendapatkan bala’ kualitas kita akan turun. Seperti; marah-marah, putus asa, serakah, menimbun atau mementingkan diri sendiri. Kalau itu yang terjadi, maka bala’ menjadi buruk dan azab menjadi kutukan bagi kita. Tetapi jika kita bersikap positif  yang muncul adalah sikap sabar, mendekatkan diri kepada Allah bahkan kalau sampai musibah itu mengambil ajal kita atau keluarga kita —wal iyadu billah semoga Allah menjauhkan dari itu— kita pasrah dan percaya bahwa ajal itu bisa datang melalui bentuk apapun dan Allah Maha Bijaksana, Maha Mengetahui, Maha Pengasih, Maha Penyayang. Kalau sikap seperti ini yang terpatri musibah berupa virus Corona akan menjadi berkah dan kita mendapatkan hikmah dari sesuatu yang tadinya kita lihat sebagai keburukan.

Baca Juga:  Tasawuf dan Kemerdekaan

Semoga Allah swt. selalu memberikan sehat dan afiat kepada kita semua….

Wa-Allahu a’lam

Keterangan: Tulisan ini hasil transkip dari video Bencana: Kutukan atau Berkah?  oleh Dr. Haidar Bagir di kanal Youtube Nuralwala dan telah disesuaikan oleh tim Nuralwala.


Nuralwala.id Portal ini, dan berbagai akun media sosial Nuralwala lainnya, berada di bawah naungan Yayasan Nuralwala--sebuah yayasan Islam yang sepenuhnya bersifat non-profit. Untuk kelangsungan program-programnya, saat ini Nuralwala mengandalkan donasi perorangan yang amat terbatas. Jika Anda ingin berkontribusi dalam kelangsungan dan pengembangan kegiatan yayasan ini, Nuralwala menerima infak terbaik Anda dengan donasi ke:


BANK BRI SYARIAH : 1013807759 An. Azam Bahtiar