Kematian

Oleh: Haidar Bagir

Pengasuh Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf 

Sebelumnya, kita sudah bicarakan tentang pentingnya kesehatan, pentingnya mengikuti aturan-aturan medis untuk memelihara kesehatan, dan tentang tidak perlunya bersikap panik dalam menghadapi wabah Corona ini. Kita juga telah diskusikan hikmah-hikmah yang bisa kita petik dari wabah ini, kemudian hikmah dari sakit, termasuk juga tentang manfaat doa dalam mengubah takdir.

Kini penting bagi kita membicarakan satu topik lain yang boleh jadi sedikit lebih berat, namun tentu saja bagi yang sudah membaca tulisan-tulisan saya sebelumnya, topik ini bakal terlintas di kepalanya. Mari kita awali dengan mengambil hikmah dari musibah. Kita bisa saja mengambil hikmah dari sakit, tapi bagaimana jika wabah ini sampai menyebabkan kematian? Bukankah kematian itu menakutkan? Bukankah banyak orang ingin menghindari kematian?

Pertama, hampir-hampir tidak perlu saya ingatkan lagi bahwa kematian itu tidak bisa dihindari oleh siapa pun. Kita sering mendengar firman Allah berikut ini dibacakan:

كُلُّ نَفْسٍ ذَاۤىِٕقَةُ الْمَوْتِ

Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati”. (QS: Al-Ankabut [29]:57)

ذَآئِقَة itu dalam bahasa Arab artinya sesuatu yang datang secara tiba-tiba dan tidak bisa ditolak. Jadi, sebut saja, semua jiwa itu akan diterkam, akan didatangi secara tidak terduga dan tidak bisa dihindarinya, oleh maut. Jadi, seharusnya sikap kita dalam menghadapi kematian bukanlah dengan rasa takut, karena ketakutan itu tidak ada manfaatnya. Bukan saja kematian itu akan datang, tapi kematian itu bisa datang sewaktu-waktu. Bahkan, bayi yang baru berusia sehari pun bisa meninggal dunia, malah bayi yang baru lahir di rahim ibunya pun bisa meninggal dunia. Karena itu, seorang filosof Jerman yang terkenal mendefinisikan manusia sebagai a being unto death, wujud yang setiap saat bisa diterkam kematian. Tampaknya apa yang disampaikan oleh Heidegger, filosof Jerman itu, merupakan tafsiran yang baik dari ayat Alquran di atas.

Karena itu, seseorang yang pikirannya sehat harusnya mampu mengusir rasa takutnya terhadap kematian, dan kemudian menyiapkan diri, menyiapkan bekal untuk menghadapi kehidupan setelah kematian.

Kematian itu sendiri—sebelum kita berbicara tentang bekal itu—sebetulnya sesuatu yang alami belaka. Sebelum manusia hidup di muka ini, ia sudah pernah hidup di alam lain, yaitu hidup di alam rahim ibu selama sembilan bulan sebagai janin, yang patut diduga ia tidak tahu tentang adanya alam setelah dia dilahirkan oleh ibunya. Bukan saja dia tidak tahu bahwa akan ada alam yang dia akan hidup setelah dilahirkan dari rahim ibunya, bagi dia kehidupan di alam dunia itu adalah suatu misteri, dia tidak tahu apa yang terjadi. Bahkan, sebagian orang mengatakan ketika bayi lahir dan kemudian bayi itu langsung menangis, tangisan itu sebetulnya adalah tangisan ketakutan dan kesedihan karena dikeluarkan dari satu alam yang di dalamnya dia nyaman, yang sumber kehidupannya dijamin oleh ibunya, suatu alam yang sangat damai bagi dia, dekat dengan rahim ibunya. Rahim sendiri artinya sifat kasih sayang. Ketika dia keluar dari rahim ibunya, dari alam yang begitu damai dan dekat dengan cinta ibunya, dia pun khawatir dan menangis.

Baca Juga:  Sayyid Aḥmad bin Idrîs: Tiga Kunci Langit dan Bumi dari Rasulullah

Ketika di alam rahim, janin tidak perlu meminta jika membutuhkan makanan, karena makanan yang dibutuhkan olehnya selalu tersedia untuk dia ambil, yang berasal dari ibunya. Ketika bayi lahir, dia pun kebingungan. Dia merasa haus, membutuhkan apa-apa yang dia butuhkan seperti ketika di rahim ibunya, tapi kali ini berbeda. Sebab saluran untuk mendapatkan apa-apa yang dia inginkan di rahim ibunya sudah tidak ada lagi. Jadi, sebetulnya berpindah dari alam rahim ke alam dunia itu juga kadang sebuah proses yang kadang menakutkan. Rasulullah saw. mengatakan bahwa sesunggunya kematian itu adalah perpindahan dari satu alam ke alam lain, sama seperti kita berpindah dari alam rahim ke alam dunia.

Karena kita tidak memiliki pengetahuan apa pun tentang kehidupan setelah kematian, juga tidak ada orang yang sudah mati kemudian bisa kembali menceritakan apa yang terjadi di alam kematian, maka kondisi pasca kematian pun menimbulkan ketakutan di dalam diri kita. Apa lagi di dalam kitab suci dan ajaran para nabi dikatakan bahwa ada risiko setelah kematian: bahwa kita akan mendapatkan siksaan baik di alam ruhani maupun di alam alam barzakh, yaitu alam antara yang menengahi alam dunia dan alam akhirat. Jadi, ada alasan di balik kekhawatiran itu.

Maka, orang yang pikirannya sehat harus berpikir bagaimana caranya—di dunia tempat kita hidup sekarang ini—kita punya cukup bekal agar ketika nanti berpindah ke alam ruhani, melewati apa yang disebut alam barzakh atau alam kubur, kita bisa mendapatkan kondisi di mana kehidupan kita di alam barzakh dan alam akhirat itu adalah kehidupan yang penuh kenikmatan, bahkan lebih nikmat daripada kehidupan kita di alam dunia saat ini.

Rasulullah saw. juga mengatakan bahwa kehidupan kita di dunia ini adalah ladang bagi kehidupan kita di akhirat. Jadi, dunia adalah tempat kita menanam, yang hasilnya akan kita panen nanti di alam barzakh dan alam akhirat. Di dalam Alquran juga dikatakan barangsiapa yang menginginkan pertemuan dengan Tuhannya, maka hendaknya dia beramal saleh.

Baca Juga:  Guru Sufi tertentu Menerima Ajaran Tambahan dari Nabi di Luar Al-Qur’an dan Hadis. Benarkah ?

Kita perlu singgung sedikit tentang pertemuan dengan Tuhan. Pertemuan dengan Tuhan sesungguhnya adalah pertemuan dengan Kekasih kita, satu ungkapan kenikmatan tertinggi yang bisa kita peroleh di surga. Sesungguhnya apa yang kita kejar di dunia ini berupa harta, polularitas, kekuasaan, dan apa saja yang kita kejar dan kita anggap sebagai sumber kebahagiaan itu, sejatinya adalah penyamaran dari sesuatu yang kita rindukan. Yaitu, mendapatkan cinta. Cinta siapa? Cinta kekasih sejati kita, dan kekasih sejati kita adalah Allah swt. Di dalam Alquran dikatakan, juga sering diungkapkan ketika ada peristiwa kematian, sekaligus kita dianjurkan untuk mengatakan Inalillahi wa inna ilaihi ra’jiun, sesungguhnya  kita ini bagian dari Allah swt. Allah juga berfirman bahwa,

فَاِذَا سَوَّيْتُه وَنَفَخْتُ فِيْهِ مِنْ رُّوْحِيْ

Ketika sudah disempurnakan ciptaan fisik manusia itu, maka Allah swt. meniupkan sebagian dari ruh-Nya…” (QS. Shad [38]:72)

Jadi, kita ini sebetulnya percikan ruh Allah swt. dan nanti akan kembali kepada Allah., Sebagaimana dalam puisi Rumi, ketika bambu itu dicabut, dipotong menjadi seruling, maka saat ia ditiup menimbulkan suara merdu sekaligus sendu. Kata Rumi, itu sebetulnya keluhan bagi bambu yang ingin kembali ke kumpulan bambu yang darinya dia dipisahkan.

Saat manusia mengejar dunia, mengejar harta, mengejar kekuasaan, mengejar popularitas, sesungguhnya semua itu dilakukannya untuk mencari kebahagiaan. Dan Allah swt. mengajarkan bahwa kebahagiaan sejati itu adalah ketika kita kembali kepada Sumber kita, kembali kepada Soulmate kita, kembali kepada Kekasih kita, yaitu Allah swt. Itulah surga.

Allah swt. berfirman: “… Jika kamu merindukan perjumpaan dengan-Ku, maka beramal salehlah (kamu ketika di dunia ini)” (QS. Al-Kahfi [18]:110). Maka alih-alih takut kepada kematian, sebaiknya kita usahakan hidup di dunia ini menjadi khalifah-Nya, menjadi deputi-Nya, menjadi wakil-Nya, wakil dari Dzat yang penuh kasih sayang. Sehingga, kita pun selalu mengungkapkan kasih sayang dan berbuat baik kepada banyak orang.

 Dalam konteks ini, tampaknya relevan juga mengetahui apa yang dimaksud dengan siksa. Di dalam Alquran muncul kata azab, meskipun kata azab itu sesungguhnya bukan berarti siksa. Menurut para ahli, makna azab adalah rasa sakit yang ditinggalkan oleh cambukan. Pertanyaannya, mengapa Allah menggunakan kata azab? Karena kata azab ini bisa berarti rasa sakit, tapi pada saat yang sama—kata yang berasal dari tiga huruf ain, dzal, ba—ini bisa membentuk kata adzbun, yang berarti rasa manis yang menyegarkan. Di dalam Alquran, misalnya, salah satu keajaiban yang Allah ciptakan adalah lautan yang rasanya tidak hanya asin, tapi rasanya mengandung adzb atau adzib—yakni, rasa air laut itu bukan asin tapi manis menyegarkan. (baca: QS. Al-Furqan [25]: 53)

Baca Juga:  Esensi Manusia Menurut Jalaluddin Rumi

Jadi, arti kata azab itu sesungguhnya adalah arti yang baik; bahwa ada sakit, namun sakit itu adalah cara Allah untuk memperbaiki manusia, agar dia hidup di alam barzakh, dan nantinya hidup di alam akhirat, dengan baik. Itulah arti azab. Sementara kata siksa sendiri berasal dari bahasa Sansekerta, yang berarti pelajaran, lesson. Jadi siksa itu adalah pelajaran yang diberikan kepada orang-orang yang hidupnya tidak sesuai dengan standar orang-orang yang beramal saleh, sehingga dia belum siap menikmati kehidupan di barzakh dan di akhirat. Karena itu, di barzakh dan di akhirat Allah memberikan pelajaran berupa siksa, pelajaran berupa azab, sehingga dengan itu dia bisa lebih bersih dan mencapai standar agar bisa hidup dengan nyaman di alam barzakh dan di akhirat.

Sesungguhnya siksa ini sudah dialami oleh manusia di dunia ini dalam bentuk yang lain. Yaitu, dalam bentuk musibah, dalam bentuk bala, dalam bentuk azab juga. Kehidupan manusia di dunia ini kan tidak sepenuhnya enak, kadang terkena musibah—seperti musibah Covid-19 sekarang—kadang ada ujian, kadang ada hukuman. Siksa itu adalah bentuk musibah, azab atau ujian yang diberikan ketika kita sudah meninggal, agar nilai kita memenuhi persyaratan untuk mendapatkan surga, baik surga di alam barzakh maupun surga di alam akhirat. Siksa ini harus diberikan oleh Allah, karena ketika manusia meninggal, manusia tidak bisa beramal lagi.

Di dalam Alquran disebutkan, bahwa orang yang meninggal sementara amal salehnya kurang, maka mereka meminta kepada Allah agar dikembalikan ke dunia supaya bisa beramal. Namun Allah menjawab: Tidak bisa, di antara kalian sudah ada barzakh yang menghalangi kalian dari kembali ke alam dunia setelah kalian melewati barzakh itu. Karena kita tidak bisa berbuat amal setelah meninggal, maka satu-satunya cara oleh Allah swt untuk meningkatkan nilai kita sehingga kita bisa masuk surga di alam barzakh dan alam akhirat adalah dengan memberikan siksa atau azab itu.

Mudah-mudahan Allah memberikan kita hidayah-petunjuk, inayah-pertolongan, taufik-kemampuan kepada kita agar bisa hidup sesuai dengan apa yang diinginkan Allah swt. Sehingga ketika kita meninggal nanti, kita benar-benar diterima oleh Allah swt. secara sempurna. Persis sebagaimana makna kata wafat, yang artinya diterima secara sempurna. Semoga Allah swt memberikan kita surga, baik di alam barzakh maupun di alam akhirat.

0 Shares:
You May Also Like
Read More

Syirik

Oleh: Faqry Fakhry Muhib di Jalan Menuju Mahbub “Allah mengampuni semua dosa kecuali syirik” (QS. an-Nisa [4]: 48),…