IBADAH UNIK UNTUK BERTEMU YANG MAHA UNIK: Puasa menurut Syaikh al-Akbar Ibn al-‘Arabi

Oleh: Haidar Bagir

Pengasuh Nuralwala: Pusat Kajian Akhlak dan Tasawuf

Betapa pun shalat adalah ibadah yang utama, menurut Ibn al-‘Arabi tetap saja puasa adalah ibadah (penghambaan) yang paling sempurna —bahkan lebih dari shalat—. Shalat itu adalah sarana munajat (curhat) manusia dengan Allah, sedangkan puasa merupakan sarana musyahadah (bertemu, atau “menjadi/menyatu” dengan) Allah swt. Seperti dikatakan  Nabi saw. “Tak ada ibadah yang seperti ibadah puasa”. Karena, dalam puasa, Allah sendiri —dan bukan “cuma” kesempatan berhubungan dengan-Nya— yang menjadi imbalannya. Maka, melalui puasa, —yang adalah ibadah yang unik— manusia pun bisa berjumpa dengan “Yang tak ada sesuatu yang seperti-Nya” (laysa ka-mits li hi syai’) (QS. Asy-Syura [42]:11). Yakni “Yang Unik” pula.

Puasa itu artinya menahan diri (dari sesuatu yang berada di luar kita). Sesuatu yang menunjukkan kepasifan. Menolak “dipersekutukan”/bergantung dengan yang lain:  nafsu makan, nafsu berantem, dll. Lalu membiarkan diri kita tetap berada dalam dirinya sendiri, sehingga kita memelihara keberbedaan diri kita dari segala sesuatu yang lain. Dengan demikian, menjadi seperti Allah, yang memiliki sifat shamadaniyah (shamadiyah): Unik dan berdiri atas dirinya sendiri, serta tak butuh kepada yang lain. Puasa, dengan demikian, mengangkat pelakunya ke maqam keilahian. Puasa membawa pelaku puasa bertemu Allah, meski dalam keadaan Dia swt.  memanifestasikan sifat tasybih (imanen/keserupaan)-Nya (dengan makhluk-Nya). Sementara sesungguhnya Allah swt, yakni dalam Dzat-Nya, bersifat tanzih sepenuhnya (transendensi, keberbedaan dari yang lain).* Maka Allah adalah Dia/Bukan Dia. Dia adalah dia dalam sifat tasybih-Nya, dan Dia Bukan Dia dalam sifat tanzih-Nya.

Maka, oleh Allah dalam hadis qudsi, puasa secara khusus disebut “untuk-Ku”. Untuk shamadaniyah-Nya. Dan “Allah sendiri” —dengan “tangan-Nya”— yang akan memberi pahala puasa. Bahkan menjadikan diri-Nya sebagai imbalan puasa itu sendiri.  Karena, meski yang melakukan ibadah puasa itu adalah manusia pelaku puasa itu, sesungguhnya manusia yang berpuasa itu sedang mengimitasi Allah —mengingat sifat puasa yang menolak sesuatu yang di luar dirinya itu. Sehingga ketika— seperti dalam sebuah hadis dikatakan, “Orang berpuasa itu mendapatkan pahala bertemu Allah (di samping kegembiraan makan “enak” ketika buka puasa), hakikatnya adalah Allah bertemu dengan diri-Nya sendiri”.

Baca Juga:  PERCIKAN MISTISISME SIR MUHAMMAD IQBAL

Memang, seperti ketika membaca al-Fatihah** dalam shalat, puasa juga dibagi dua antara Allah dan makhluk. Setengah hari puasa buat Allah, dan setengah hari sisanya tidak puasa, buat manusia. Tapi, sesungguhnya ketika bahkan kita sudah tidak berpuasa setelah berbuka itu, Allah menganjurkan kita untuk bangun dan shalat malam. Dan jika puasa di siang hari itu, dalam suatu hadis Nabi saw. disebut sebagai dhiya’ dan siraj (lampu, sumber cahaya), maka shalat malam disebut nur (cahaya juga, tapi yang merupakan pendar/pantulan dari sumber cahaya (puasa) itu***. Maka, bahkan ketika manusia tidak puasa (setelah berbuka, di malam hari) —yang secara lahir adalah untuk memberi makan aspek kehewanannya yang memang butuh makan itu— pada saat dia memberi makan nafsu kehewanannya itu sesungguhnya dia memberi makan dengan tangan Allah juga. Maknanya, pada akhirnya, seluruh ibadah kita di bulan puasa itu adalah untuk Allah jua.

Keterangan

* Yakni seperti metafor yang dibuat Alquran sehubungan dengan kisah Balqis dan Nabi Sulayman bin Daud as. Yakni, ketika Balqis meminta Sulayman as. harus bisa membawakan singgasananya yang jauh di Saba ke tempat Nabi Sulayman as. Ketika kemudian, dalam sekejap mata, Balqis benar-benar melihat singgasananya terletak di depan matanya, dia mengatakan bahwa singgasana yang dibawa Sulayman as itu seolah-olah seperti/musyabbah dengan singgasananya (Balqis). Padahal jika diketahui hakikatnya, sesungguhnya singgasana yang dibawakan oleh Sulayman as. itu adalah benar-benar singgasana Balqis itu sendiri.

**Dalam hadis qudsi difirmankan bahwa, “Keseluruhan al-Fatihah itu dibagi dua. Setengah untuk Allah, yakni mulai bismillah hingga “iyyaaka na’budu” —yang di dalamnya manusia menyebut asma’-Nya, memuji-Nya, dan menyatakan beribadah kepada-Nya—. Sementara setengah sisanya mulai “iyyaaka nasta’iin” hingga waladh-dhaalliin, —yang di dalamnya manusia meminta pertolongan kepada-Nya, meminta petunjuk-Nya dan memohon agar tak tersesat dan dimurkai-Nya— adalah untuk manusia.

Baca Juga:  Islamisasi Ilmu Pengetahuan Ismail Raji al-Faruqi

** Dalam Alquran matahari, sebagai sumber cahaya, memang disebut sebagai dhiya’ dan siraj, sementara bulan —yang bukan sumber cahaya, melainkan pemantul cahaya matahari­— disebut sebagai nur.(Lihat QS. Al-Furqan [25]:61)

Catatan tambahan: Sebagian ayat dan hadis yang dipakai Ibn ‘Arabi di bagian ini (selain yang sudah disebut dalam body tulisan) :

(1) “Maka ketika dia (Balqis) datang, ditanyakanlah (kepadanya), “Serupa inikah singgasanamu?” Dia (Balqis) menjawab, “Seakan-akan itulah dia.” (Dan dia berkata), “Kami telah diberi pengetahuan sebelumnya dan kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada  Allah)” (an-Naml [27]:44).

(2) “Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya..” (QS. al-Furqan [25]:61)

(3) “Puasa adalah untuk-Ku, dan Akulah yang memberi imbalannya” (HR. Bukhari)

(4) “Bagi orang yang berpuasa ada dua kegembiraan, kegembiraan (makan makanan ketika)  berbuka, dan kegembiraan bertemu Rabb-Nya” (HR. Bukhari dan Muslim)

0 Shares:
You May Also Like