ARTIKEL

Apa itu Makna Wali Majdzub?

Penulis

Haidar Bagir
November 21, 2025
3 menit membaca

Kata majdzūb berasal dari akar jadzaba—“menarik.” Secara harfiah kata majdzub berarti “yang ditarik (oleh Tuhan).” Dalam istilah tasawuf, kata majdzub menunjuk pada seorang sufi yang ditarik oleh Allah, dengan Cinta-Nya kepada diri-Nya sehingga kesadarannya seperti sirna. Fenomena ini bukan hasil usaha spiritual secara bertahap (melalui suluk).

Oleh karena itu, para sufi kemudian membedakan antara salik, yakni orang yang “menempuh jalan” menuju Allah melalui latihan dan disiplin (riyadhah dan mujahadah), dengan majdzub sebagai orang yang “ditarik” oleh Allah secara langsung.

Istilah lain untuk menyebut para wali majdzub ini adalah muhib-murid (orang yang dicintai Allah kemudian ditariknya dengan cinta-Nya), sedangkan salik disebut sebagai murid muhib (orang yang menjalani mujahadah dan riyadhah, lalu ditarik dengan kepada diri-Nya).

Akibat ditarik secara mendadak ini, kadang perilaku si wali tidak mengikuti adab lahir para salik. Sehingga para wali majdzub ini kadang dilihat sebagai bertingkah laku tidak sesuai dengan syariah (antinomian). Kadang dikatakan bahwa majdzub adalah urusan Allah, yang manusia tak punya kapasitas untuk turut campur di dalamnya.

Itu sebabnya, dikatakan oleh para sufi, dalam teks-teks standar, bahwa para majdzub ini tak boleh dijadikan panutan dalam perilakunya. Syaikh Zarruq, misalnya, mengatakan: “Majdzub tidak dijadikan teladan, walaupun ia seorang wali.”

Dalam tradisi anak benua India mereka kadang dipanggil sebagai qalandar atau mast. Yakni semacam orang “gila-suci”. Memang banyak kisah tentang karamah para wali seperti ini. Yakni, tindakan-tindakan menghasilkan sesuatu yang sebetulnya berada di luar hukum alam (khariq al-‘adah). Dan sudah banyak diskusi mengenai hal ini. Yang kadang menjadi pertanyaan, dari mana lahirnya gejala orang-orang yang dianggap wali mengumpat dengan kata-kata kotor?

Memang ada sebuah kebiasaan atau ungkapan yang sering dikaitkan dengan para wali, yang disebut sebagai syathhiyat (atau syathahat). Contohnya, ucapan “Ana al-Haqq” (al-Hallaj) atau “Subhani” (Busthami). Syathhiyat adalah ungkapan paradoks yang muncul dari keadaan fana’ fillah (sirna dalam Allah). Syathahat tidak dimaksudkan sebagai penentangan terhadap syariat, melainkan terungkap begitu saja diakibatkan batas “aku” telah lenyap. Syathhiyat, dalam teks-teks standar tasawuf, tidak dikenal mengambil bentuk ungkapan kotor atau makian.

Bukan tak ada, memang, gambaran wali yang bertingkah laku “aneh” dan terkesan melanggar syariat. Biasanya hal ini lebih banyak muncul dari tradisi Malamatiyah, Qalandariyyah, dan mast India-Persia.

Kaum Malamatiyah (abad ke-9 M, bermula di Naysabur) dikatakan sengaja menampakkan aib untuk menghindari riya dan ketenaran. Mereka tidak bermaksiat, tapi menampilkan diri seolah-olah bermaksiat. Namun, tak semua ahli-sufi sepakat dengan hal ini.

 

Dalam tradisi Jawa, konsep ini berpadu dengan gagasan kasekten (daya batin), ngelmu kasampurnan, dan gagasan tentang “orang gila suci” (the holy fool)—sebuah tipe religius yang menantang norma sosial, yang kemudian ditafsir rakyat sebagai “orang yang dekat dengan Tuhan.”

Di sinilah muncul legenda tentang: wali yang memaki, wali yang makan di siang hari bulan Ramadhan, wali yang menari-nari di masjid, dan sebagainya.

Di Jawa, pemahaman tentang wali majdzub bercampur dengan kisah populer atau folklor yang menampilkan wali “gila” atau “nyeleneh,” yang kemudian diimajinasikan publik sebagai “majdzub.”

Dalam Serat Centhini, misalnya, ada penunjukan kepada tokoh utamanya, Seh Amongraga, sebagai wali majdzub:

“…Seh Amongraga, atmajeng Jeng Sunan Giri, kontap janma linuwih, oliya wali mujedub …

”Syekh Amongraga, putra Sunan Giri, seorang manusia utama, seorang wali majdzub.”

Tapi, tampaknya yang lebih ditekankan dalam kisah Syekh Amongraga adalah perilakunya yang di luar adat kebiasaan, serta karamahnya. Di dalamnya tidak ada kisah perilaku beliau yang melanggar syariah secara nyata, termasuk kebiasaan mengumpat dengan kata-kata kotor, dan sebagainya.

Keberlangsungan Baca Nuralwala dalam menyajikan ajaran Islam yang damai dan mencerahkan sangat bergantung pada kolaborasi bersama pembacanya. Jaringan penulis dan tim kreatif kami mengundang Anda untuk menjadi bagian dari perjalanan ini. Dukungan materiil yang Anda berikan akan dialokasikan sepenuhnya untuk produksi artikel, infografis, dan video berkualitas demi kemaslahatan publik.

Bagaimana perasaan Anda setelah membaca ini?

Penulis belum menambahkan bio / deskripsi profil pada pengaturan akunnya.

Baca Semua Artikel Penulis

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Silakan hitung untuk melanjutkan