Seni Hidup Ala Sufi

Manusia membutuhkan yang namanya harapan dalam menjalani kehidupan. Harapan merupakan cerita dalam alam pikiran yang menjadi faktor penggerak tingkah laku manusia. Ahli psikologi, Carl Jung mengatakan bahwa pertumbuhan dan perkembangan  manusia dipengaruhi oleh harapan di masa depan. Oleh karena itu, harapan menjadi faktor penting untuk manusia dalam menatap dan meratap kehidupan.

Dalam tulisan ini, Tuhan menjadi induk harapan dari segala harapan manusia. Jika dalam hukum sebab akibat, Tuhan menjadi induk sebab dari segala sebab. Di sini, intervensi Tuhan lebih dominan pada setiap kejadian yang dialami oleh manusia. Sebab, manusia tidak akan mampu menembus tembok takdir kecuali atas berkehendak-Nya.

Sufi merupakan kekasih Tuhan, seorang insan yang berpakaian tawakal, ihlas, rida, zuhud, dan sabar. Tasawuf serangkaian alat para mistikus Islam (sufi) dalam menjalin hubungan dengan Tuhan, mulai dari membersihkan hati, menjaga hati dari gemerlapnya duniawi, sampai memiliki perilaku terpuji yang dihiasi pancaran cahaya Ilahi.

Kebahagiaan menjadi variabel penting dalam kehidupan manusia. Maka tidak heran jika manusia berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Dalam tradisi Islam, kebahagiaan merujuk pada salah satu kata dalam bahasa Arab yang disebut sa’adah. Sa’adah adalah kata bentukan dari suku kata sa’ada, yang berarti bahagia.

Dalam khazanah sufi, Imam al-Ghazali dalam karyanya yang monumental Ihya’ Ulumiddin, bahagia merupakan sebuah kondisi batin-spiritual, saat manusia berada dalam satu puncak ketakwaan. Bahagia merupakan kenikmatan dari Tuhan, dan manifestasi berharga dari mengingat Tuhan.

Ada yang beranggapan kalau kebahagiaan bergantung kepada orang lain, sehingga individu mengantungkan kebahagiaannya pada lingkungan sekitar, kenyataannya hal tersebut hanya menjadikan mereka menari-nari di atas tabuhan gendang orang lain yang melelahkan, dan tidak berujung pada kebahagiaan. Meningkat satu level, mereka beranggapan kebahagiaan berasal dari diri sendiri, sehingga kebahagiaan harus diciptakan sendiri. Pun hasilnya melelahkan, tanpa berujung pada kebahagiaan.

Baca Juga:  Alam & Autokritik untuk Kita

Pada akhirnya, level kebahagiaan tertinggi terletak pada kondisi batin yang pasrah kepada-Nya. Inilah sikap para sufi dalam meraih kebahagiaan, yakni dengan membuka pintu-pintu kebahagiaan yang sudah dijamin oleh Tuhan, sehingga manusia tidak mudah kelelahan dalam memenuhi aspek kebahagiaan dalam dirinya. Salah satu untuk menuju pintu kebahagiaan adalah rasa syukur. “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu” (QS. Ibrahim [14]: 7).

Kebahagiaan seorang sufi terletak pada kondisi batin yang selalu terkoneksi dengan Tuhan. Zikir adalah alatnya. Seni hidup ala sufi di antaranya adalah pertama, sufi menawarkan teori muraqabah, sebuah seni hidup yang selalu menghadirkan Tuhan dalam setiap langkah kehidupan, merasa selalu diawasi di setiap gerak-gerik hati dan perilakunya.

Dengan sikap muraqabah akan menjadikan kita lebih behati-hati dalam menjalani kehidupan karena apa yang kita lakukan tidak pernah luput dari penglihatan-Nya. Sehingga perilaku kita tidak terkurung dalam keramaian dan pantauan manusia saja, akan tetapi dalam kondisi sepi pun kita akan konsisten melakukan kebaikan dalam rangka meningkatkan ketakwaan.

Sikap takwa akan menjadikan manusia dapat memelihara diri dari segala yang membahayakan dan menyengsarakan hidup. Bukankah manusia selalu menghindari mara bahaya dan kesengsaraan hidup agar dapat mencapai suatu  kebahagiaan. Maka, takwa menjadi variabel kehidupan yang dapat mempengaruhi kebahagiaan.

Kedua, seni muhasabah yakni introspeksi, mawas diri atau meneliti diri sendiri. Sebuah sikap yang mengevaluasi perbuatan  diri pada tiap tahun, tiap bulan, tiap hari, bahkan setiap waktu. Imam al-Ghazali, muhasabah mencakup perincian perbuatan yang telah lalu dan yang akan datang. Oleh karena itu, kita dapat belajar dari pengalaman masa lalu dan menjadi pribadi yang lebih baik lagi untuk masa yang akan datang.

Baca Juga:  Hijrah (4) : Menuju Masyarakat Madani

Lebih luas, seni muhasabah yang diajarkan oleh para sufi juga berindikasi agar kita dapat memiliki penerimaan diri. Dalam psikologi self-acceptance (penerimaan diri) merupakan aspek dasar agar manusia memiliki kesejahteraan psikologis (psychological well-being). Individu  yang memiliki self-acceptance, maka ia lebih mengenal siapa dirinya. Dengan demikian, kehidupannya akan lebih terarah, seperti memiliki tujuan hidup dan melakukan pengembangan diri.

Ketiga, seni mujahadah yakni berjihad melawan hawa nafsu dengan bersikap radikal ke dalam (diri sendiri) yang berujung sikap toleran dengan yang lain. Para sufi menempuh jalan mujahadah untuk mengagungkan yang Maha Besar dan mengkerdilkan diri sebagai hamba. Serta sebagai sikap kehati-hatian agar mereka tidak terjebak dalam sikap keangkuhan yang tanpa sadar memuja diri dan menuhankan diri sendiri, karena beranggapan memiliki kebenaran mutlak.

Dengan demikian, seni hidup ala sufi berkeinginan mengajak manusia untuk kembali kepada jalan hidup yang lurus. Maksudnya kembali kepada titah manusia diciptakan di planet bumi ini. Menghidupi kehidupannya dengan baik, mewujudkan cita-citanya dengan cara yang benar, menghadirkan Tuhan pada setiap aspek-aspek kehidupan. Serta meletakan sikap sabar, ihlas, tawakal sebagai fondasi awal kehidupan, bukan dijadikan alasan ketika mengalami kegagalan hidup yang tidak sesuai kenginan.

1 Shares:
You May Also Like
Read More

Makna, Fungsi dan Manfaat Puasa

Raghib al-Ishfahani dalam Mufradāt Alfāzh al-Qur’ān menjelaskan makna asli dari kata puasa (al-shaum/as-shiyām) adalah menahan diri dari sesuatu…