Menelisik Kembali Gagasan Said Nursi

Republik Turki sebagaimana yang kita kenal saat ini, dulunya disebut sebagai Ottoman Empire atau Turki Utsmaniyah, dan menjadi kekhilafaan terakhir dalam dunia Islam. Turki Utsmaniyah yang sekian abad menguasai sebagian besar teritori Eropa dan Afrika, bahkan sebagian kawasan Asia di akhir abad ke-19 dan memasuki awal abad ke-20 harus mengalami dan menerima kenyataan ketir serta pahit; hilangnya teritori tersebut, sebagai dampak dari gelombang besar Perang Dunia I saat itu.

Keadaan Turki hampir di semua sektor mengalami keterpurukan, mulai dari perekonomian yang terpukul, dan konflik dalam dan luar ikut memperkeruh keadaan situasi dan kondisi Turki saat itu, hingga keadaan sosial keagamaan.

Di samping semua itu, Turki Utsmaniyah juga mengalami pergumulan dan pergulatan yang muncul dari kedua kekuatan pemikiran; kaum nasionalis-sekuler, seperti Mustafa Kemal Atarturk (1881-1938), dan para pendukung Islam seperti, Said Nursi (1877-1960).

Nyatanya, kejatuhan Imperium Turki Utsmaniyah menjadi Republik Turki di tangan Mustafa Kemal Atarturk mengalami sekularisasi di berbagai bidang, terutama keagamaan. Turki di tangan Mustafa Kemal kiblatnya ke dunia barat Eropa, bukan lagi ke dunia Islam, apalagi ke kawasan Timur Tengah dan Arab Saudinya. Dan, umat Islam sedikit banyak mengalami marginalisasi, serta memiliki sedikit ruang untuk berkontribusi kembali.

Kondisi dan situasi yang demikian, hingga tampilnya Said Nursi sebagai seorang pembaharu, pemimpin gerakan, ulama terkemuka, mufasir dan sekaligus mubalig sufi ini sedikit banyak membawa angin segar bagi umat Islam. Selain sangat menguasai ajaran keislaman, Said Nursi juga sangat mengusai sains modern.

Ulama kelahiran 1877 di desa Nurs, Provinsi Bitlis Turki Utsmaniyah ini berusaha mempersatukan kembali umat Islam dengan berjuang dan membebaskan diri dari terpaan arus sekularisasi yang sejak akhir abad ke-19 yang menggerogoti negerinya.

Baca Juga:  PASCAL WAGER

Pada dasarnya, Said Nursi bukan tipe ulama yang tak perduli dan tak cinta pada tanah airnya; Turki. Dalam beberapa kesempatan Said Nursi dapat dikatakan sangat nasionalis.

Misalnya, di beberapa literatur, Said Nursi dinarasikan pernah membela dan ikut membantu negara dalam pertempuran ketika awal-awal perang dunia I. Dan, pernah ikut bergabung militer, serta turut ketika melawan Uni Soviet, bahkan pernah ditahan di penjara Serbia, yang saat itu masih berpaham komunis.

Meskipun demikian, komitmen dan perjuangan Said Nursi dalam menegakkan kembali nilai-nilai keislaman di tengah gencarnya sekularisasi tak diragukan lagi. Baginya, sekularisasi bukan jawaban yang tepat untuk mengembalikan masa keemasan Turki Utsmaniyah saat itu. Jika hendak mau menggembalikan maka harus kembali tuntunan Islam dan Al-Qur’an dan Sunnah Nabi Muhammad saw.

Ini dapat kita lihat dari fakta yang memang secara personal sudah barang tentu dimusuhi, dan beberapa kali dipenjara serta pernah diasingkan. Di Indonesia sendiri kisah-kisah dan perjuangan, serta komitmennya banyak, hampir serupa dengan perjuangan Buya Hamka.

Di dalam penjara dan pengasingan ini Said Nursi justru kian banyak memberi inspirasi sedikit banyak masyarakat Turki yang sedang mengalami sekularisasi melalui berbagai karyanya. Konon katanya, dari dalam penjara ini, Said Nursi secara diam-diam banyak mengkritik penguasa baru Turki. Tentu, selain juga mempengaruhi orang-orang dalam penjara.

Tampaknya penjara dan pengasingan tak bisa mematikan semangat dan komitmen dalam mempejuangkan nilai-nilai keislaman. Bahkan digunakan untuk memberikan pencerahan, mempengaruhi masyarakat luas, dan mendidik, serta menyebarkan karya-karyanya.

Tulisan-tulisannya banyak disalin secara diam-diam dan disebarluaskan oleh para murid dan pengikutnya. Salah satu karya monumentalnya yang hingga kini sampai pada kita berjudul, Risale-i Nur atau Risalah Nur.

Secara garis besar karyanya; Risalah Nur merupakan karya dalam bidang tafsir Al-Qur’an, akan tetapi gaya penafsiran Said Nursi agak berbeda dengan para mufasir pada umumnya. Bahasa yang digunakannya pun dianggap sangat menyentuh dan meluluhkan kalbu para pembacanya. Serta pendekatan yang digunakan juga sangat khas, sehingga dengan mudah sangat menyentuh serta menginspirasi masyarakat Turki dan masyarakat Islam pada umumnya.

Baca Juga:  MANA YANG LEBIH HEBAT, NABI SAW ATAU BAYAZID BUSTHAMI?

Paradigma dan pendekatan yang dipakai Said Nursi dalam Risalah Nur untuk memahami Islam dan sains modern. Gagasan ini banyak yang mengatakan di kemudian hari digunakan beberapa Perguruan Tinggi Islam Negeri di Indonesia—meminjam paradigma keilmuan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta sebagai integratif-interkonektif. Pendekatan ini digunakan Said Nursi untuk memadukan pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an dan ayat-ayat kauniyah (sunnatullah) secara komprehensif.

Bagi Said Nursi, nilai-nilai kebenaran tak hanya terbatas atau hanya ada pada wahyu yang tertulis saja, akan tetapi juga bisa dibaca dari alam semesta sebagai kitab yang sangat terbuka, di mana ayat-ayatnya sangat gamblang dikaji manusia.

Selain gagasan Islam dan sain modern, gagasan lain yang tak kalah menarik dari Said Nursi, adalah Insan Kamil atau sosok manusia ideal. Dalam pandangan Said Nursi, akal manusia memerlukan iman yang kuat agar tak terbawa arus hawa nafsu. Oleh karena itu, Insan Kamil harus selalu senantiasa bisa memadukan antara penggunaan akal dan wahyu. Dalam konteks ini setiap manusia butuh pada risalah kenabian.

Bagi Said Nursi, kenabian merupakan sumber kebenaran dan kebahagian hidup. Karenanya dalam Al-Qur’an, Nabi disebutkan sebagai contoh yang baik, atau uswah khasanah. Dan, tanpa contoh yang baik ini manusia akan mengalami kesulitan dan kesesatan.

Sebagai seorang mujadid, tampaknya Said Nursi tahu betul apa yang dirasakan masyarakat Turki pada khususnya dan masyarakat Islam pada umum, sehingga gagasannya seakan menjadi penerang di tengah masyarakat modern yang masih terlelap, bahkan terlena pada dunia modern saat ini.

Atas segala bentuk perjuangan dan komitmennya sejarah memberi gelar dan julukan pada Said Nursi dengan sebutan Badiuzzaman “keajaiban zaman”. Namun demikian, dengan menelisik kembali gagasan Sang Bediuuzzaman kita dapat menemukan berbagai corak gagasan dan pemikiran yang sesuai dengan konteks kekinian.

Baca Juga:  Islam dan Rasionalitas: Konstruksi Masyarakat Ideal
0 Shares:
You May Also Like