Mengaktualkan Islam, Menjemput Kemajuan

Judul Buku : Islam Aktual : Refleksi Seorang Cendekiawan Muslim

Penulis        : Jalaludin Rakhmat

Penerbit      : Mizan

Edisi           : Edisi Pertama

Cetakan      : XV, Dzulhijjah 1424/Februari 2004

Tebal          : 319 halaman

Semua Muslim tentu sepakat bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kedamaian serta membawa misi agung menebar rahmat ke alam semesta. “Islam adalah agama yang sempurna!” begitu kata para mubalig di atas mimbarnya. Kitab sucinya (Al-Qur’an) bukan saja mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, lebih dari itu, ia merupakan kitab etika dan sosial yang mengatur hubungan antar manusia dan masyarakat. Tak heran bila Islam menyediakan seperangkat aturan yang mengatur pemeluknya mulai dari bangun tidur, hingga tidur lagi; dari buaian, hingga liang lahat.

Masalah cakrawala ilmu, tak usah ditanya. Islam menyediakan landasan bagi semua aspek keilmuwan mulai dari yang paling rumit semisal Matematika, Fisika, Kimia, Astronomi, Ekonomi, Kedokteran, Biologi, Geologi dan lain sebagainya, hingga masalah yang ringan dan praktis semacam cara menyuap makanan dan mengenakan baju lengkap dengan doa-doanya. Kita punya semua itu.

Namun anehnya, kekayaan khazanah ilmu itu, tak mengantarkan negeri-negeri Muslim modern pada kejayaan. Kebanyakan justru hidup di bawah garis kemiskinan dengan kualitas pendidikan di bawah rata-rata, gizi buruk, pengangguran, dan indeks kebahagiaan rendah. Apa masalahnya? Mengapa kesempurnaan ajaran Islam itu tak membawa kualitas hidup yang baik bagi pemeluknya? Hal itulah yang digelisahkan Jalaludin Rakhmat dalam bukunya Islam Aktual : Refleksi Seorang Cendekiawan Muslim.  

Jalaludin Rakhmat menulis dalam kata pengantarnya, “Perlunya aktualisasi nilai-nilai Islam”. Apa maksudnya? Secara konseptual-ideal memang Islam begitu sempurna dan megah. Namun, bila kesempurnaan konsep itu tidak diaktualkan, hampir takkan terjadi perubahan nyata. Al-Qur’an pun berpesan demikian, “Sesungguhnya Allah takkan mengubah nasib suatu kaum, hingga mereka mengubah diri mereka sendiri”. Dalam pengantarnya, Jalaludin Rakhmat mengutip perkataan Dr. Siddiqui yang cukup menyentak ‘Muslim terletak pada tindakan mereka, bukan pada teks-teks suci yang mereka yakini’. 

Jalaludin Rakhmat memang ahli tafakur yang luar biasa peka, dalam bukunya ia merefleksikan masalah hidup hampir ke segala arah. Mulai dari masalah ukhuwah, etika komunikasi, politik dan kekuasaan, sains-teknologi, kepemimpinan, penderitaan rakyat kecil hingga bentuk jihad di era modern.  Kegelisahannya pun disampaikan dengan begitu indah, hingga para pembacanya pun ikut gelisah. Saat beliau menyampaikan pesan optimistis, kita akan terbawa semangat. Bila ia menceritakan derita umat kita pun diajaknya menangis bersama. Meski buku tersebut ditulis puluhan tahun yang lalu, namun ide-ide universalnya tetap relevan menjadi bahan perenungan bagi Muslim zaman sekarang bahkan masa depan.

Dalam bukunya itu, Jalaludin Rakhmat memaparkan terjadinya kesenjangan antara ide ukhuwah Islamiyah dengan kenyataan umat Muslim yang semakin cenderung masuk dalam eksklusivisme kelompok dan fanatisme beragama. Akibatnya perpecahan tak terhindarkan. Intoleransi menjadi-jadi. Masing-masing kelompok membangun tembok. Di balik tembok itu, mereka membangga-banggakan ajarannya sembari mencaci maki dan merendahkan bahkan mengkafirkan selain kelompoknya. Ayat-ayat dan hadis saling dilontarkan bukan untuk mempersatukan, melainkan untuk menginjak-injak keyakinan kelompok lain. Permusuhan dan berbantah-bantahan, bahkan peperangan sering kali terjadi dalam tubuh umat Muslim. Padahal Nabi  berpesan “Perumpamaan seorang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Bila satu disakiti, maka yang lain juga ikut tersakiti”. (HR. Bukhari dan Muslim). Jika demikian, bukankah kita sedang menyiksa diri sendiri?

Jalaludin Rakhmat pun berusaha membangun jembatan antar kelompok-kelompok Islam itu bahkan antar agama-agama. Baginya, selalu ada hikmah dalam ajaran apapun. Sebagai pecinta ahlul-bait, ia begitu kuat memegang perkatataan Sayidina Ali bahwa hikmah harus dipungut di manapun berada, bahkan jika ia lahir dari orang munafik sekalipun. Yang dilihat adalah substansinya, bukan kulit luarannya. Lihatlah apa yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikan. Bacalah buku Jalaludin Rakhmat, kita akan lihat kutipan mulai dari orang Barat yang untuk menyebut namanya saja susah, lalu kutipan dari kitab-kitab para ulama (Sunni ataupun Syiah) dari klasik sampai kontemporer, hingga kutipan Jang Odeng, orang Sunda yang saya pun tak tahu ia siapa. Ia juga membalas kritikan-kritikan orang untuknya dengan cara yang terbaik.

Itulah Jalaludin Rakhmat. Seorang yang memegang prinsip non-sektarian. Baginya, sudah saatnya umat Islam saling terbuka satu sama lain. Tak perlu lagi menyimpan dendam dan curiga berabad-abad yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tembok-tembok harus diruntuhkan. Perbedaan fikih tak seharusnya menyebabkan kita tidak berakhlak kepada kelompok lain. Umat Islam harus mengaktualkan ajarannya tentang persatuan sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur’an. Untuk itu, beliau rela menjadi jembatannya. Tak peduli bila ia harus diinjak-injak dan direndahkan.

Baca Juga:  Tilik Buku Ibn Rusyd: Tujuh Perdebatan Utama dalam Teologi Islam

Hal yang cukup mengesankan adalah Jalaludin Rakhmat menulis pembahasan tentang etika komunikasi. Padahal buku tersebut ditulis tahun 90-an awal, di mana teknologi informasi tak secanggih sekarang. Namun isi pembahasannya serasa menyindir kita semua yang sekarang sering ribut-ribut di sosmed. Kita yang mudah menilai orang dan debat kusir tak tentu arah. Kita yang mudah digiring berita-berita hoaks. Meyakini sesuatu berlandaskan informasi tak pasti di internet. Bahkan menyerang orang lain tanpa dasar yang jelas. Padahal kita Muslim? Muslim yang punya konsep tabayun, iqra’, tafakur dan sebagainya. Tapi itu semua jarang sekali teraktual dalam aktivitas bermedsos kita. Kita justru lebih senang membudayakan debat kusir yang ujungnya adalah perpecahan dan keributan.  

Jalaludin Rakhmat juga adalah intelektual yang memihak orang-orang lemah dan yang dilemahkan. Dalam buku Islam Aktual, banyak pembahasan yang ditujukan untuk menggambarkan penderitaan umat mulai dari kemiskinan, kebodohan dan masalah kesehatan umat yang buruk. Dalam keadaan yang demikian, umat diminta bersabar dan menyerahkan semuanya kepada Allah.

Padahal di sisi lain, orang-orang kaya yang berkelimpahan harta masih saja korup dan apatis. Hal ini tentu membawa pada kecemburuan sosial. Bayangkan, beberapa orang terlahir dari keluarga miskin harus bekerja banting tulang untuk upah yang tak seberapa. Sedangkan, segelintir yang lain hampir tak melakukan apapun, namun menikmati kemewahan yang luar biasa (kadang dipamerkan pula). Lebih dari itu, tak ada kepedulian sosial apalagi solidaritas sosial yang digalakkan. Sehingga, hubungan antara si miskin dan si kaya adalah hubungan tuan dan budak. Antara pemeras dan sapi perah yang dihisap jiwa dan raganya.

Dalam iklim kehidupan yang seperti ini, semuanya jadi kacau. Orang kaya yang terbiasa menikmati kemewahan tak lagi memedulikan urusan belajar apalagi memajukan umat, toh hidupnya sudah enak. Sebaliknya, si miskin hampir seluruh hidupnya digunakan untuk bekerja mencari makan, mana sempat belajar (apalagi memajukan umat?) hidupnya sendiri pun sudah susah! Dalam kondisi itu, Jalaludin Rakhmat mengajak pembacanya untuk merindukan dan meneladani sosok-sosok seperti Abu Dzar al-Ghifari dan Hatim yang begitu berpihak pada nasib orang-orang susah dan miskin (di mana, yang seperti itu jarang ditemukan sekarang?)

Nilai-nilai tauhid harus diaktualkan dalam diri-diri pemimpin Muslim. Sehingga tak lagi mereka menuhankan uang, jabatan dan kekuasaan. Tiada tuhan selain Allah. Bila mereka mengabaikan penderitaan kaum mustadafin, mereka sedang menduakan Allah. Padahal Allah senantiasa membersamai orang-orang miskin. Jalaludin Rakhmat berpesan, “Yang kuat jadilah pelindung yang lemah, yang kaya naungilah yang miskin”. Itulah kunci kekuatan sosial. Ketika seorang pemimpin tidak lagi memikirkan dirinya, melainkan hanya kepentingan rakyat (umat), saat itulah ia sedang mengaktualkan nilai-nilai Islam. Saat kesenjangan ekonomi diperkecil, semua orang dapat menikmati pengalaman pendidikan yang terbaik, gizi dari makanan yang terbaik, yang artinya kualitas hidup yang baik. Saat itulah umat akan mampu berpikir, belajar,  dan mengembangkan sains dan teknologi. Yang mana itulah kunci majunya suatu peradaban.

Di akhir bukunya, Jalaludin Rakhmat berpesan ‘sudah saatnya umat Islam tak hanya jadi penonton tapi pemain yang bergulat dengan segala macam problem dunia’, lalu dengan sedikit menantang ia bertanya pada umat Islam ‘mampukah umat Islam tampil kembali sebagaimana zaman keemasan dulu? Sudah siapkah kita untuk memimpin dunia?’

Jawabannya sangat bergantung pada aktual atau tidaknya nilai-nilai Islam dalam tiap gerak langkah pergerakan Muslimnya. Pemimpin yang jujur, amanah dan berpihak pada rakyat artinya ia mengaktualkan Islam; mahasiswa yang belajar dengan tekun maka ia sedang mengaktualkan Islam; pedagang-pedagang yang tidak mencurangi timbangan ia sedang mengaktualkan Islam; konglomerat yang berbagi kelebihan hartanya pada kaum miskin, maka ia pun sedang mengaktualkan Islam; mendamaikan orang yang berseteru, menjalin silaturahim, mencintai sesama, itulah Islam. Aktualkan itu, bawa turun ajaran langit itu ke muka bumi, maka umat Islam siap menyongsong masa depannya yang cerah.

Baca Juga:  Islam, Otoritarianisme dan Ketertinggalan: Perbandingan Lintas Zaman dan Kawasan Dunia Muslim

 

Judul Buku : Islam Aktual : Refleksi Seorang Cendekiawan Muslim

Penulis        : Jalaludin Rakhmat

Penerbit      : Mizan

Edisi           : Edisi Pertama

Cetakan      : XV, Dzulhijjah 1424/Februari 2004

Tebal          : 319 halaman

Semua Muslim tentu sepakat bahwa Islam adalah agama yang mengajarkan kedamaian serta membawa misi agung menebar rahmat ke alam semesta. “Islam adalah agama yang sempurna!” begitu kata para mubalig di atas mimbarnya. Kitab sucinya (Al-Qur’an) bukan saja mengatur hubungan manusia dengan Tuhan, lebih dari itu, ia merupakan kitab etika dan sosial yang mengatur hubungan antar manusia dan masyarakat. Tak heran bila Islam menyediakan seperangkat aturan yang mengatur pemeluknya mulai dari bangun tidur, hingga tidur lagi; dari buaian, hingga liang lahat.

Masalah cakrawala ilmu, tak usah ditanya. Islam menyediakan landasan bagi semua aspek keilmuwan mulai dari yang paling rumit semisal Matematika, Fisika, Kimia, Astronomi, Ekonomi, Kedokteran, Biologi, Geologi dan lain sebagainya, hingga masalah yang ringan dan praktis semacam cara menyuap makanan dan mengenakan baju lengkap dengan doa-doanya. Kita punya semua itu.

Namun anehnya, kekayaan khazanah ilmu itu, tak mengantarkan negeri-negeri Muslim modern pada kejayaan. Kebanyakan justru hidup di bawah garis kemiskinan dengan kualitas pendidikan di bawah rata-rata, gizi buruk, pengangguran, dan indeks kebahagiaan rendah. Apa masalahnya? Mengapa kesempurnaan ajaran Islam itu tak membawa kualitas hidup yang baik bagi pemeluknya? Hal itulah yang digelisahkan Jalaludin Rakhmat dalam bukunya Islam Aktual : Refleksi Seorang Cendekiawan Muslim.  

Jalaludin Rakhmat menulis dalam kata pengantarnya, “Perlunya aktualisasi nilai-nilai Islam”. Apa maksudnya? Secara konseptual-ideal memang Islam begitu sempurna dan megah. Namun, bila kesempurnaan konsep itu tidak diaktualkan, hampir takkan terjadi perubahan nyata. Al-Qur’an pun berpesan demikian, “Sesungguhnya Allah takkan mengubah nasib suatu kaum, hingga mereka mengubah diri mereka sendiri”. Dalam pengantarnya, Jalaludin Rakhmat mengutip perkataan Dr. Siddiqui yang cukup menyentak ‘Muslim terletak pada tindakan mereka, bukan pada teks-teks suci yang mereka yakini’. 

Jalaludin Rakhmat memang ahli tafakur yang luar biasa peka, dalam bukunya ia merefleksikan masalah hidup hampir ke segala arah. Mulai dari masalah ukhuwah, etika komunikasi, politik dan kekuasaan, sains-teknologi, kepemimpinan, penderitaan rakyat kecil hingga bentuk jihad di era modern.  Kegelisahannya pun disampaikan dengan begitu indah, hingga para pembacanya pun ikut gelisah. Saat beliau menyampaikan pesan optimistis, kita akan terbawa semangat. Bila ia menceritakan derita umat kita pun diajaknya menangis bersama. Meski buku tersebut ditulis puluhan tahun yang lalu, namun ide-ide universalnya tetap relevan menjadi bahan perenungan bagi Muslim zaman sekarang bahkan masa depan.

Dalam bukunya itu, Jalaludin Rakhmat memaparkan terjadinya kesenjangan antara ide ukhuwah Islamiyah dengan kenyataan umat Muslim yang semakin cenderung masuk dalam eksklusivisme kelompok dan fanatisme beragama. Akibatnya perpecahan tak terhindarkan. Intoleransi menjadi-jadi. Masing-masing kelompok membangun tembok. Di balik tembok itu, mereka membangga-banggakan ajarannya sembari mencaci maki dan merendahkan bahkan mengkafirkan selain kelompoknya. Ayat-ayat dan hadis saling dilontarkan bukan untuk mempersatukan, melainkan untuk menginjak-injak keyakinan kelompok lain. Permusuhan dan berbantah-bantahan, bahkan peperangan sering kali terjadi dalam tubuh umat Muslim. Padahal Nabi  berpesan “Perumpamaan seorang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh. Bila satu disakiti, maka yang lain juga ikut tersakiti”. (HR. Bukhari dan Muslim). Jika demikian, bukankah kita sedang menyiksa diri sendiri?

Jalaludin Rakhmat pun berusaha membangun jembatan antar kelompok-kelompok Islam itu bahkan antar agama-agama. Baginya, selalu ada hikmah dalam ajaran apapun. Sebagai pecinta ahlul-bait, ia begitu kuat memegang perkatataan Sayidina Ali bahwa hikmah harus dipungut di manapun berada, bahkan jika ia lahir dari orang munafik sekalipun. Yang dilihat adalah substansinya, bukan kulit luarannya. Lihatlah apa yang disampaikan, bukan siapa yang menyampaikan. Bacalah buku Jalaludin Rakhmat, kita akan lihat kutipan mulai dari orang Barat yang untuk menyebut namanya saja susah, lalu kutipan dari kitab-kitab para ulama (Sunni ataupun Syiah) dari klasik sampai kontemporer, hingga kutipan Jang Odeng, orang Sunda yang saya pun tak tahu ia siapa. Ia juga membalas kritikan-kritikan orang untuknya dengan cara yang terbaik.

Itulah Jalaludin Rakhmat. Seorang yang memegang prinsip non-sektarian. Baginya, sudah saatnya umat Islam saling terbuka satu sama lain. Tak perlu lagi menyimpan dendam dan curiga berabad-abad yang diwariskan dari generasi ke generasi. Tembok-tembok harus diruntuhkan. Perbedaan fikih tak seharusnya menyebabkan kita tidak berakhlak kepada kelompok lain. Umat Islam harus mengaktualkan ajarannya tentang persatuan sebagaimana yang termaktub dalam Al-Qur’an. Untuk itu, beliau rela menjadi jembatannya. Tak peduli bila ia harus diinjak-injak dan direndahkan.

Baca Juga:  Majelis Ayat Kursi: Keseimbangan Dunia Akhirat & Moderasi Beragama

Hal yang cukup mengesankan adalah Jalaludin Rakhmat menulis pembahasan tentang etika komunikasi. Padahal buku tersebut ditulis tahun 90-an awal, di mana teknologi informasi tak secanggih sekarang. Namun isi pembahasannya serasa menyindir kita semua yang sekarang sering ribut-ribut di sosmed. Kita yang mudah menilai orang dan debat kusir tak tentu arah. Kita yang mudah digiring berita-berita hoaks. Meyakini sesuatu berlandaskan informasi tak pasti di internet. Bahkan menyerang orang lain tanpa dasar yang jelas. Padahal kita Muslim? Muslim yang punya konsep tabayun, iqra’, tafakur dan sebagainya. Tapi itu semua jarang sekali teraktual dalam aktivitas bermedsos kita. Kita justru lebih senang membudayakan debat kusir yang ujungnya adalah perpecahan dan keributan.  

Jalaludin Rakhmat juga adalah intelektual yang memihak orang-orang lemah dan yang dilemahkan. Dalam buku Islam Aktual, banyak pembahasan yang ditujukan untuk menggambarkan penderitaan umat mulai dari kemiskinan, kebodohan dan masalah kesehatan umat yang buruk. Dalam keadaan yang demikian, umat diminta bersabar dan menyerahkan semuanya kepada Allah.

Padahal di sisi lain, orang-orang kaya yang berkelimpahan harta masih saja korup dan apatis. Hal ini tentu membawa pada kecemburuan sosial. Bayangkan, beberapa orang terlahir dari keluarga miskin harus bekerja banting tulang untuk upah yang tak seberapa. Sedangkan, segelintir yang lain hampir tak melakukan apapun, namun menikmati kemewahan yang luar biasa (kadang dipamerkan pula). Lebih dari itu, tak ada kepedulian sosial apalagi solidaritas sosial yang digalakkan. Sehingga, hubungan antara si miskin dan si kaya adalah hubungan tuan dan budak. Antara pemeras dan sapi perah yang dihisap jiwa dan raganya.

Dalam iklim kehidupan yang seperti ini, semuanya jadi kacau. Orang kaya yang terbiasa menikmati kemewahan tak lagi memedulikan urusan belajar apalagi memajukan umat, toh hidupnya sudah enak. Sebaliknya, si miskin hampir seluruh hidupnya digunakan untuk bekerja mencari makan, mana sempat belajar (apalagi memajukan umat?) hidupnya sendiri pun sudah susah! Dalam kondisi itu, Jalaludin Rakhmat mengajak pembacanya untuk merindukan dan meneladani sosok-sosok seperti Abu Dzar al-Ghifari dan Hatim yang begitu berpihak pada nasib orang-orang susah dan miskin (di mana, yang seperti itu jarang ditemukan sekarang?)

Nilai-nilai tauhid harus diaktualkan dalam diri-diri pemimpin Muslim. Sehingga tak lagi mereka menuhankan uang, jabatan dan kekuasaan. Tiada tuhan selain Allah. Bila mereka mengabaikan penderitaan kaum mustadafin, mereka sedang menduakan Allah. Padahal Allah senantiasa membersamai orang-orang miskin. Jalaludin Rakhmat berpesan, “Yang kuat jadilah pelindung yang lemah, yang kaya naungilah yang miskin”. Itulah kunci kekuatan sosial. Ketika seorang pemimpin tidak lagi memikirkan dirinya, melainkan hanya kepentingan rakyat (umat), saat itulah ia sedang mengaktualkan nilai-nilai Islam. Saat kesenjangan ekonomi diperkecil, semua orang dapat menikmati pengalaman pendidikan yang terbaik, gizi dari makanan yang terbaik, yang artinya kualitas hidup yang baik. Saat itulah umat akan mampu berpikir, belajar,  dan mengembangkan sains dan teknologi. Yang mana itulah kunci majunya suatu peradaban.

Di akhir bukunya, Jalaludin Rakhmat berpesan ‘sudah saatnya umat Islam tak hanya jadi penonton tapi pemain yang bergulat dengan segala macam problem dunia’, lalu dengan sedikit menantang ia bertanya pada umat Islam ‘mampukah umat Islam tampil kembali sebagaimana zaman keemasan dulu? Sudah siapkah kita untuk memimpin dunia?’

Jawabannya sangat bergantung pada aktual atau tidaknya nilai-nilai Islam dalam tiap gerak langkah pergerakan Muslimnya. Pemimpin yang jujur, amanah dan berpihak pada rakyat artinya ia mengaktualkan Islam; mahasiswa yang belajar dengan tekun maka ia sedang mengaktualkan Islam; pedagang-pedagang yang tidak mencurangi timbangan ia sedang mengaktualkan Islam; konglomerat yang berbagi kelebihan hartanya pada kaum miskin, maka ia pun sedang mengaktualkan Islam; mendamaikan orang yang berseteru, menjalin silaturahim, mencintai sesama, itulah Islam. Aktualkan itu, bawa turun ajaran langit itu ke muka bumi, maka umat Islam siap menyongsong masa depannya yang cerah.

 

8 Shares:
You May Also Like