Makna Tasawuf Menurut Para Sufi

Apa itu tasawuf? Menjawab pertanyaan tersebut, para sufi—pelaku amaliah tasawuf—memberikan makna yang beragam terkait tasawuf sesuai dengan tingkatan spiritualnya masing-masing, seperti:

Muhammad ibn Ali Al-Qashshab—guru Imam Junaid—mendefinisikan tasawuf adalah budi pekerti yang agung, lahir dari seseorang yang amat agung, bersama kaum yang agung pula.

Imam Junaid—imamnya para guru sufi—mendefinisikan tasawuf adalah bahwa engkau bersama Allah tanpa embel-embel. Ini adalah pengertian yang mengekspresikan pengalaman fana’—(dapat) rusak, hancur, mati, luluh, dan sebagainya: tidak kekal; lawan kata baqa—dan makrifat yang tidak lain adalah taraf kemurnian tauhid.

Ruwaim bin Ahmad mengartikan tasawuf adalah kepasrahan jiwa bersama Allah sebagaimana kehendak-Nya. Kepasrahan total kepada Allah adalah petanda realisasi fana’. Setiap dirimu ‘mengada’, maka Tuhan ‘meniada’ dan setiap kali dirimu ‘meniada’ (fana’), maka Tuhan ‘mengada’.

Amru ibn Utsman al-Makki—sahabat Imam Junaid—mendefinisikan tasawuf itu adalah bahwa sang hamba selalu berada pada level terbaik dari seharusnya, setiap saat. Maksudnya seorang sufi selalu mentransformasi diri menjadi terbaik di setiap ruang dan waktu, lantaran kebersamaannya dengan Allah yang tiada putus.

Ibn ‘Arabi—tokoh sentral tasawuf falsafi—mengartikan tasawuf itu ialah berakhlak dengan akhlak Allah.

Menurut Ibn ‘Ajiba—penulis kitab tafsir sufi Al-Bahr al-Madid fi Tafsir al-Qur’an al-Majid—tasawuf itu adalah ilmu tentang perilaku (terpuji) yang membawa pelakunya ke dalam kehadiran Tuhan Yang Maha-ada melalui penyucian batin dan penyelenggaraan amal-amal baik. Jalan tasawuf awalnya ilmu, tengahnya amal. Akhirnya karunia Ilahi (berupa kedekatan dengan-Nya).

Abu Hasan Syadzili—Imam Besar Tasawuf dan Pendiri Tarekat Syadziliyyah—mendefinisikan tasawuf itu adalah praktik dan latihan diri melalui cinta dan penghambaan yang mendalam untuk mengembalikan diri ke jalan Tuhan.

Beragamnya definisi yang ditawarkan di atas, bukanlah sebagai alasan untuk mempropagandakan ‘kesamaran’ hakikat tasawuf. Itu justru sebagai isyarat bahwa pendekatan tasawuf tidak cukup hanya dengan analisis ilmiah. Yang lebih penting justru praktik (syar wa suluk). Sebagaimana ungkapan Imam al-Ghazali dalam Al-Munqizh Min Al-Dhalal bahwa jalan sufiyyah/tasawuf merupakan jalan yang takkan dapat ditempuh, melainkan dengan ilmu dan amal. Ia harus ditempuh dengan melalui tanjakan-tanjakan batin dan membersihkan diri/jiwa.

Baca Juga:  9 Ujaran Cinta Haidar Bagir

*Disadur dari buku Al-Munqizh Min Al-Dhalal, Mencintai Allah Secara Merdeka: Buku Saku Tasawuf Praktis Pejalan Haiyah dan Mengenal Tasawuf: Spiritualisme dalam Islam.

1 Shares:
You May Also Like
Read More

9 Jalan Cinta Haidar Bagir

1. Saat tertekan dalam kesulitan-kesulitan, termasuk oleh kekerasan orang, ingat orang-orang yang mencintai kita, yang mau korbankan apa…