Renungan tentang Makan dari Fisik, Psikis dan Spiritual

Banyak hal menakjubkan dalam tubuh kita, bila kita mau berpikir dan bersyukur. Salah satunya adalah proses makan yang dianggap hanya rutinitas sehari-hari. Padahal di dalamnya terkandung hal yang menakjubkan, yang dapat ditinjau dari aspek fisik, psikis dan spiritual.

Dari aspek fisik, tentunya makan merupakan proses untuk memperoleh nutrisi bagi tubuh kita. Sepertinya sepele, tetapi di dalamnya terjadi proses yang luar biasa menakjubkan. Usus kita sendiri merupakan organ yang sangat menakjubkan, bahkan mungkin merupakan organ yang paling kompleks, selain otak. Sebagai perbandingan kulit manusia bila dibentangkan mempunyai luas permukaan sekitar 4 m2, sedang paru sepuluh kalinya yaitu 40 m2, tetapi ada yang lebih dahsyat yaitu saluran cerna yang mempunyai luas permukaan sekitar 400 m2 (seluas lapangan tenis).

Setiap detik permukaan yang amat luas tadi kontak dengan milyaran benda asing berupa makanan, virus, bakteri, jamur, parasit, alergen, dan antigen. Ajaibnya sel imun dan sel usus dalam saluran cerna dapat mengenal satu persatu benda asing tersebut, mana yang berguna dan diserap oleh tubuh, dan mana yang harus ditolak. 

Bila suatu waktu terjadi kegagalan, maka akan muncul pelbagai penyakit. Misalnya penyakit infeksi, kalau yang tertelan dan diserap oleh tubuh adalah virus, bakteri, jamur dan parasit. Atau penyakit alergi (asma, eksim, biduran, dll), bila yang masuk adalah alergen. Atau risiko penyakit autoimun, bila yang sering tertelan dan diserap adalah antigen.

Dalam saluran cerna juga terdapat 100 triliun bakteri yang sangat berguna bagi tubuh. Dulu bakteri dianggap hanya sebagai kotoran saja. Namun, saat ini diketahui bahwa bakteri tersebut adalah organ sendiri, dan merupakan ‘makhluk cerdas’ yang luar biasa manfaatnya bagi kita. Bakteri tersebut mempunyai peran untuk sistem kekebalan tubuh, pencernaan makanan, serta penghubung antara usus dan otak manusia.

Baca Juga:  SAYYID QUTB: ISLAMIC THEOLOGY AND EARLY MODERN SALAFISM

Sistem pencernaan manusia dirancang untuk mengubah segala makanan yang kita makan menjadi nutrisi yang bermanfaat. Baik sebagai sumber energi maupun pertumbuhan dan perbaikan semua sel tubuh. Sebagian besar makanan tidak bisa langsung diserap, tubuh kita perlu mencerna dan memecahnya menjadi molekul yang lebih kecil. Misalnya protein menjadi asam amino, lemak menjadi asam lemak, dan karbohidrat menjadi glukosa, baru kemudian diserap.

Agar makanan bisa dicerna, dibutuhkan campuran biokimia yang mengandung berbagai enzim. Dalam campuran biokimia tersebut terdapat enzim yang dapat memilih sendiri fungsinya. Kalau kita makan protein (daging, telur, ikan) ada enzim pemecah protein (protease). Kalau kita makan karbohidrat (nasi, kentang, roti) ada enzim pemecah karbohidrat (amilase, laktase, sukrase). Demikian juga bila kita makan lemak (minyak, kacang kacangan, gajih) ada enzim pemecah lemak (lipase, empedu).

Semua proses tersebut berjalan cepat, otomatis tanpa dikontrol, dan sangat efektif. Enzim tersebut tidak  pernah salah dan secara ajaib akan mencari sendiri zat makanan yang akan dicernanya. Ini dikontrol oleh mekanisme yang ajaib berupa hormon dan saraf dalam usus. 

Usus kita adalah organ otonom yang tidak dikendalikan oleh otak. Dalam usus terdapat milyaran sel saraf sendiri yang mengendalikan setiap proses pencernaan tadi. Karena kecerdasannya itu, usus sering  disebut sebagai otak kedua manusia  (second brain). 

Usus juga saling  berhubungan dengan otak (gut brain axis), sehingga usus dapat mempengaruhi otak, sebaliknya otak juga dapat mempengaruhi usus. Secara sederhana hubungan ini dapat dilihat bila orang yang perut kosong akan cenderung moody, sebaliknya orang yang stres bisa timbul gangguan fungsional di saluran cerna (sakit perut, konstipasi, muntah, diare).

Dari aspek psikis makan juga mempunyai keunikan sendiri. Pernahkah kita sekali waktu ingin makan terus, tetapi di lain waktu justru tidak ingin makan sama sekali? 

Baca Juga:  LAKU SUFI R.A. KARTINI

Orang obesitas cenderung makan karena merasa ingin makan, bukan makan karena lapar. Remaja  obesitas sering mengalami problem psikis, termasuk depresi, bulimia, diskriminasi sosial, harga diri kurang, dan ketidakpuasan diri.

Sebaliknya pada orang anoreksia nervosa, yaitu orang yang punya rasa takut luar biasa akan kenaikan berat badannya. Mereka terobsesi untuk memiliki tubuh kurus, dan melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan bentuk tubuh yang ideal menurut mereka. Untuk menjaga bentuk tubuh kurus, mereka berusaha keras membatasi porsi makan dan sering minum obat penekan nafsu makan. Meski sudah kurus, mereka  akan terus berolahraga secara berlebihan karena takut berat badan naik lagi. Dua hal yang bertentangan tersebut masih merupakan misteri dan masih terus diteliti oleh para ahli psikologi gizi. 

Yang sering dihadapi sehari hari juga adalah masalah makan pada anak. Sebagian besar masalah makan pada anak adalah masalah psikis bukan masalah fisik. Jadi, tidak ada masalah di saluran cernanya, tetapi mungkin justru anak menolak makan karena riwayat trauma akibat obsesi berlebihan ibu saat memberi makan anak. 

Yang lebih unik lagi adalah aspek spiritual makan. Aspek spiritual ini lebih sulit untuk dijelaskan secara empiris, dan membutuhkan kemauan mempercayai yang mengatasi logika yaitu  keimanan.

Dalam Islam dilarang makan daging babi. Banyak orang mencoba menjelaskan larangan tersebut, dikaitkan karena babi hewan yang kotor, mengandung cacing pita, hewan yang rakus, dll.

Sebagian besar penjelasan tersebut sudah tidak relevan lagi. Karena saat ini babi sudah diternak dengan bersih, tidak mengandung cacing pita. Jadi, larangan tersebut lebih bersifat spiritual atau ketundukan akan perintah Allah (ta’abudi). Karena keimanan kita, ikutilah perintah Tuhan, tidak perlu mencari cari alasan ilmiah dibalik perintah tersebut.

Baca Juga:  Gaya Pemikiran Filsafat Ibn Miskawaih

Saat ini vegetarian dilakukan banyak orang dengan alasan kesehatan, walaupun banyak juga yang tidak sependapat. Namun, sebenarnya asal usul vegetarian adalah murni spiritual, karena ajaran Budha—yang tidak membolehkan membunuh makhluk hidup.

Orang yang berdoa sebelum makan dengan ikhlas dan bersyukur, akan mendapat manfaat yang berbeda dibandingkan orang yang makan dengan berkeluh kesah, meskipun makanan yang dimakan sama.

 

Manfaat berpuasa di bulan puasa, sering dikaitkan dengan kesehatan usus. Meskipun ada benarnya bahwa dengan berpuasa, saluran cerna menjadi beristirahat, namun tidak semua bisa dijelaskan semata mata secara fisik saja. Karena itu, jangan mencari cari penjelasan ilmiah yang kadang-kadang dipaksakan untuk merasionalisasi puasa. 

Berpuasa memiliki nilai spiritual yang tinggi. Yaitu menahan hawa nafsu amarah yaitu nafsu yang cenderung kepada keburukan, termasuk makan berlebihan. Nilai spiritual puasa bersifat rohani bukan fisik dan psikis berdasarkan keikhlasan dan keimanan kita kepada Tuhan.

 

1 Shares:
You May Also Like