Mohon Maaf Lahir (nge)Batin

Selesai shalat Idul Fitri, Pak Mursyid melanjutkan kegiatan yang sudah menjadi tradisi di kampungnya dengan saling bersalaman dan meminta maaf kepada tetangga-tetangganya.

Minal ‘aidin wal faizin”, ucap Pak Komar sambil memberikan tangannya untuk bersalaman.

“Iya Pak, sama-sama. Saya juga mohon maaf lahir batin ya,” jawab Pak Mursyid.

Setidaknya hal serupa akan Pak Mursyid temui di sepanjang jalan saat beliau berpapasan dengan para tetangganya.

Bukan hanya sebatas saling bermaafan ketika sedang berpapasan seperti sebelumnya, namun ibarat sudah menjadi kewajiban saat Idul Fitri adalah menyambung tali silaturahmi dengan berkunjung dari satu rumah tetangga ke rumah lainnya, terlebih yang masih memiliki hubungan saudara. Namun, sebelum berkeliling, Pak Mursyid dan keluarganya menyempatkan untuk menyapa dan mendoakan saudara-saudaranya yang telah mendahului. Ziarah kubur dan tabur bunga juga tradisi yang sudah mengakar saat lebaran di lingkungan kampung Pak Mursyid.

Setelah ziarah, Pak Mursyid berkeliling terlebih dahulu ke rumah sanak saudara yang lebih tua darinya sebagai bentuk hormat seorang adik yang masih diberi kesehatan kepada kakak-kakaknya sebelum beliau mengunjungi rumah tetangga dan teman-temannya.

“Mau kemana lagi Pak?” tanya Pak Saidun setelah keduanya saling bertukar maaf dengan Pak Mursyid di gang menuju rumah kakaknya.

“Ini, mau ke rumahnya kak Sofyan” jawab Pak Mursyid

“Oh, ya sudah Pak. Saya duluan ya, mau lanjut ke rumahnya Pak Komar. Jangan lupa nanti mampir ke rumah saya, Pak. Ada menu rajungan kesukaan Pak Mursyid.”

“Insya-Allah nanti saya mampir, Pak.” Sahut Pak Mursyid.

.

Sesampainya di rumah Pak Sofyan ternyata sudah ada beberapa anggota keluarga yang berkumpul. Maklum saja, Pak Sofyan adalah kakak tertua dari keluarga Pak Mursyid, jadi ya wajar saja jika saat lebaran rumah Pak Sofyan akan menjadi titik kumpul bagi adik-adiknya.

Baca Juga:  Shadr al-Din al-Qunawi: Penyambung Lidah Ibn al-'Arabi dan Sahabat Rumi

Saling sapa dan tukar maaf antar keluarga terasa hangat dan cair tanpa ada sesuatu yang diberatkan. Dalam hatinya Pak Mursyid bersyukur karena mempunyai keluarga yang guyub rukun, meskipun ini hanya beliau jumpai setahun sekali.

Masih dalam hatinya, beliau juga meng-iyakan tulisan dari Gus Mus yang sempat beliau baca, bahwa manusia yang mudah marah dan sulit untuk memaafkan, bahkan untuk kekhilafan yang tidak disengaja memerlukan timing yang pas untuk saling maaf memaafkan. Lebaran ini mungkin jawaban timing dan momen yang pas tanpa ada lagi gengsi dan sifat merasa paling dari yang lain.

“Syid, Mursyid ko bengong aja,” sapa Pak Sofyan

“Oh iya kak, ini seneng aja ngeliat kita masih bisa kumpul rukun kaya gini” jawab Pak Mursyid setelah dikagetkan oleh sapaan mendadak dari sang kakak.

“Oh, iya Alhamdulillah ” Jawab Pak Sofyan.

Setelah itu, mendadak Pak Sofyan memanggil semua keluarga untuk berkumpul di ruang tengah. Panggilan ini, juga sekaligus menyudahi obrolan antar anggota keluarga yang lain, entah itu obrolan bisnis, pencapaian, atau bahkan update gosip terbaru di lingkungan kampung.

“Jadi gini, saya mau ngomong sedikit. Bukan kok mau menggurui kalian-kalian yang sudah bisa dibilang matang. Cuma ya mumpung lebaran engga ada salahnya kalau kakak mau berucap beberapa kalimat.” Kalimat pembuka dari pak Sofyan kepada adik-adik, anak, dan keponakannya.

“Sebelumnya kakak juga engga ada rencana ini, tapi gara-gara si Mursyid bengong tadi, dan mendengar alasannya kenapa bengong jadi ngingetin kakak akan suatu hal yang mungkin bisa kakak share ke kalian”

“Oke siap, pakde.” Jawab salah satu keponakannya.

“Kita kaya gini, kan engga bisa setiap hari. Paling banyak juga setahun dua kali waktu lebaran aja. Jadi alangkah baiknya kita untuk saling memaafkan lahir dan batin. Jangan cuma maafnya diucapan tapi hatinya masih ngebatin kesalahan saudara kalian. Sebaliknya juga, jangan ada yang sembrono dan seenaknya sama saudara atau sama siapapun itu. Inget aja, kalau dosa antar sesama itu lebih sulit untuk meminta maaf dari pada kesalahan kita pada Allah.” Ucap Pak Sofyan didengarkan oleh seksama oleh seluruh anggota keluarga.

Baca Juga:  Canda Nabi dan Canda Sufi

Namun, di tengah kekhusyukan mendengarkan kalimat bijak dari Pak Sofyan, salah satu keponakannya nyeletuk

“Maaf ya maaf, tapi kalau hutang ya beda lagi pakde”.

Celetukan yang disambut tawa tipis dari seluruh anggota keluarga.

1 Shares:
You May Also Like