Tarawih dan Anak-Anak

Tanpa terasa, Pak Mursyid berjumpa kembali dengan bulan Ramadhan di tengah kondisi pandemi yang sudah berumur satu tahun lebih dan entah sampai kapan akan dapat kembali ke kondisi normal seperti sedia kala.

Sedikit berbeda dengan tahun sebelumnya, Ramadhan tahun ini kegiatan-kegiatan kembali dapat dilaksanakan di masjid secara berjamaah. Maka tidak heran jika warga lingkungan tempat tinggal Pak Mursyid sangat antusias dalam menyambut Ramadhan. Di mulai dari kondisi makam yang lebih ramai peziarah dibanding hari-hari lainnya. Acara ruwahan dan kirim doa juga secara bergiliran rutin hampir setiap hari dari rumah ke rumah. Tidak heran jika akan ada berkat di setiap malam yang sampai di rumah, entah itu hanya diantar oleh tetangga, atau pak buah tangan pak Mursyid setelah menghadiri acara di salah satu rumah tetangga.

Malam itu, sembari melihat televisi menunggu hasil sidang Isbat dari pemerintah, Pak Mursyid dan warga mempersiapkan dan mengatur kembali kondisi masjid sesuai dengan protokol kesehatan yang dianjurkan.

Sampai tibalah pengumuman bahwa puasa akan dimulai besok hari, sekaligus isyarat jika malam itu juga akan dilaksanakan tarawih berjamaah di masjid setelah di tahun lalu kegiatan ini tidak diperbolehkan.

Selesai shalah Isya’ berjamaah, dilanjutkan dengan shalat ba’diyah yang tidak diikuti oleh seluruh jamaah. Tiba saatnya bilal shalat tarawih bersuara “Shollu sunnat at-tarawih rak’ataini jami’at ar-Rahimakumullah” tanpa aba-aba seluruh jamaah pun berdiri mengikuti Imam, begitupun Pak Mursyid.

Masjid yang memang sejak dulu menjadi pusat dari kegiatan Ramadhan tidak bisa lepas dari suka-cita anak-anak untuk turut hadir meramaikan masjid. Kehadiran anak-anak ini menjadi perhatian tersendiri di mata Pak Mursyid. Selain memaknai bahwa semakin banyak anak-anak yang aktif ke masjid sebagai tanda bahwa beliau tidak akan kehilangan penerus perjuangan memakmurkan masjid, ada sedikit hal lain yang mengganggu pikirannya.

Baca Juga:  Canda Nabi dan Canda Sufi

Di sela-sela shalat tarawih, beliau masih memperhatikan polah tingkah anak-anak dalam bertarawih.

“Duh, anak-anak ini enggak ada yang bisa diem”, celetuk seorang jamaah yang berada di sebelah Pak Mursyid.

“Iya, ganggu orang saja. Mereka itu cuma bisa diem dan ikut shalat beneran di 4 rakaat awal.” Jawab jamaah yang lain.

Percakapan tersebut mesti terhenti, karena bilal telah memberi komando untuk melanjutkan shalat tarawih berikutnya.

Perkataan orang kedua itu sedikit mengganggu pikiran Pak Mursyid. Dalam shalatnya beliau memperhatikan anak-anak yang dimaksud. Dengan kondisi pikiran yang ke sana ke mari, Pak Mursyid masih bisa mengikuti gerakan Imam sampai pada rakaat kedua.

Di rakaat kedua beliau terpikirkan,

 “Sepertinya aku juga masih sama dengan anak-anak kecil itu. Di antara 8 atau 20 rakaat shalat tarawihku, aku tidak bisa khusyuk dan fokus seutuhnya. Mungkin hanya 4 sampai 6 rakaat saja aku bisa sedikit fokus ibadah. Itupun tidak yang khusyuk-khusyuk amat dari takbir hingga salam. Mungkin hanya saat takbir atau tahiyyat akhir saja aku mencoba untuk memfokuskan ibadahku di hadapan-Nya.”

Dari hasil pikiran tersebut beliau berkesimpulan, “Ah ternyata kualitas imanku masih seperti anak-anak yang suka main kesana-sini.”

 “Assalamu’alaikum warahmatullah,” diucapkan secara samar namun berbarengan oleh seluruh jamaah kembali menyadarkan Pak Mursyid dari renungannya. Tanpa disadari ternyata sedari tadi beliau masih berdiri mematung di antara para jamaah yang telah dalam posisi duduk tasyahud. Tentu saja kondisi ini menjadikan Pak Mursyid sebagai pusat perhatian seisi masjid.

“Ah, ini dia yang aku maksud.” Ucap Pak Mursyid dalam hati, sembari menundukkan muka untuk melanjutkan Tarawih.

6 Shares:
You May Also Like