Shadr al-Din al-Qunawi: Penyambung Lidah Ibn al-‘Arabi dan Sahabat Rumi

Oleh: Tim Redaksi Nuralwala

Shadr al-Din Muhammad bin Ishaq bin Yusuf bin Ali al-Qunawi, dilahirkan di Qunniyah sebuah kota di provinsi Malatiyyah Anatolia pada tahun 606/607 H. Dan meninggal dunia di Qunniyah pada tahun 673 H yaitu pada usia 67 tahun. Al-Qunawi dikenal sebagai seorang sufi yang menguasai beragam cabang pengetahuan baik lahir terlebih batin.

Sejak kecil ia telah yatim yang diperkirakan tahun wafat ayahnya pada 615 H, saat itu usia al-Qunawi baru 9 tahun. Pada masa itu al-Qunawi masih sangat kecil dengan tubuh yang sangat lemah dan sakit-sakitan serta hanya diasuh oleh ibunya yang kemudian dinikahi oleh Syaikh Akbar Ibn al-‘Arabi. Karena sejak kecil al-Qunawi berada pada asuhan dan pendidikan Ibn al-‘Arabi sehingga menghantarkannya untuk mencapai puncak kesempurnaan perjalanan ruhani.

Syaikh Shadr al-Din al-Qunawi menjadi tokoh besar dalam dunia tasawuf. Dialah salah satu tokoh penting yang menyebarkan ajaran-ajaran Ibn al-‘Arabi, hingga dikenal sebagai penyambung lidah dan komentator pemikiran Ibn al-‘Arabi paling ulung terutama dalam prinsip utama pemikiran Ibn al-‘Arabi “Wahdat al-Wujud”. Untuk keperluan itu ia menulis sebuah buku dengan judul Nafahat al-Ilahiyyah.

Ketika Ibn Al-‘Arabi wafat pada tahun 638 H. Al-Qunawi merasa kehilangan sebagian jiwanya, ia menulis beberapa syair tentang kesedihannya ketika ditinggalkan gurunya tersebut. Singkat cerita al-Qunawi beberapa waktu meneruskan kelas yang dibimbing oleh Ibn al-‘Arabi di Damaskus dan kemudian meninggalkan Damaskus pada tahun 640 H –di usia 34 tahun— menuju Hijaz untuk menunaikan ibadah haji kemudian meneruskan perjalanannya ke Mesir. Dalam masa tinggalnya di Mesir ia berjumpa dengan pemikiran Ibn Sab’in yang berpandangan Wahdat al-Wujud.

Kemudian al-Qunawi kembali ke kampung halamannya Qunniyah dan menetap di sana sampai akhir usianya. Di Qunniyah seperti layaknya syaikh-syaikh agung yang lain, ia mengajar hadis-hadis, tafsir Alquran dan memberikan komentar terhadap 40 hadis mistik.

Baca Juga:  Kenapa Pengetahuan tentang Tuhan Disebut Iman (Kepercayaan)?

Menjelang wafatnya al-Qunawi menuliskan wasiat agar dimakamkan di samping kekasihnya yaitu Ibn al-‘Arabi di Damaskus, akan tetapi karena hal itu sulit dilaksanakan, maka ia dimakamkan di Qunniyah.

Persahabatannya dengan Rumi

Menurut catatan sejarah al-Qunawi satu masa dengan Maulana Jalal al-Din Rumi. Pada mulanya dia tidak menyukai Maulana Jalal al-Din Rumi. Tetapi pada akhirnya menjadi sahabat yang baik. Keduanya saling belajar dan menghormati, dan keduanya menjadi sumber rujukan para ulama dalam dunia sufisme.

Ada cerita menarik tentang persahabatan dua sufi besar ini. Suatu hari, Syaikh Shadr al-Din al-Qunawi memberikan pengajian di hadapan para ulama besar di rumahnya. Tiba-tiba Maulana Rumi datang. Syaikh al-Qunawi berdiri menyambutnya. Para ulama lain mengikutinya. Maulana kemudian duduk di pojok paling belakang. Ia tidak mau melangkahi dan mengambil tempat kosong di tengah-tengah para ulama itu. Syaikh menggelarkan sajadah untuk Maulana dan meminta dengan sungguh-sungguh agar Maulana mau duduk di atas sajadah itu. Maulana menjawab: “Tidak. Aku tidak patut duduk di atas sajadah itu. Bagaimana aku harus menjawab peristiwa ini di hadapan Allah kelak”. “Jika begitu, duduklah di atasnya bersamaku, engkau di separuh sajadah ini dan aku separuh yang lain”. Maulana tetap menolak. Syaikh al-Qunawai menjawab: “Jika sajadah ini tidak patut diduduki Maulana, maka ia juga tidak patut aku duduki”. Syaikh al-Qunawi lalu melipat sajadah itu dan melemparkannya.

Cerita lain datang dari Abd al-Rahman al-Jami, dalam tuturnya: “Suatu hari para jama’ah meminta Maulana menjadi Imam di sebuah masjid. Maulana menolak, karena ia tahu di situ ada Syaikh al-Qunawi. Maulana mengatakan : ”Kita para “abdal” (para santri) duduk di tempat kita sampai dan berdiri di situ. Yang patut menjadi Imam shalat adalah sang sufi mumpuni, sambil tangannya menunjuk Syaikh al-Qunawi”. Keduanya saling mengajukan yang lain untuk menjadi Imam. Akhirnya Syaikh berdiri di depan, menjadi Imam. Maulana mengatakan kepada para jama’ah, “Siapa yang shalat di belakang seorang imam yang amat saleh, maka dia seperti salat di belakang Nabi”.

Baca Juga:  Tasawuf Cinta Penulis Simth al-Durar

Manakala Maulana menjelang pulang, Husan al-Din, murid utama Maulana, bertanya kepada Maulana: “Siapakah yang akan memimpin shalat jenazahmu, kelak?”. Maulana menjawab: “Syaikh Shadr al-Din al-Qunawi”. Itulah beragam kisah persahabtan antara dua sufi agung.

0 Shares:
You May Also Like