Mengenal Allah via Cermin Alquran

Oleh: Dr. Ammar Fauzi

Founder Indonesia Berfilsafat dan Pengajar di Nuralwala

Alquran dihadiahkan kepada kita sebagai sumber pengetahuan, tuntunan dan pedoman hidup, agar manusia berada pada jalan kemuliaan serta kebahagiaan di dunia dan akhirat. Jika Alquran itu pedoman hidup, maka seharusnya ia selalu segar untuk menerangi peta kehidupan dan menghantarkan kita tuk mengenal hakikat diri dan hakikat Pencipta dan Pengatur alam semesta yaitu Allah swt.

Tidak ada yang lebih baik untuk menghantarkan pengenalan kita kepada Allah swt. kecuali melalui ayat-ayat suci-Nya. Allah menjadikan kitab suci itu sebagai alat yang paling baik untuk memperkenalkan diri-Nya kepada kita.

“Dan demikianlah, kami telah menurunkannya (Alquran yang merupakan) ayat-ayat yang nyata; dan bahwa Allah memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki (berdasarkan kesiapannya untuk menerima petunjuk-Nya). (QS. Al-Hajj 22: 16)

Di ayat lain, Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai; “Dia-lah Yang Awwal (Yang telah wujud sebelum segala sesuatu  wujud sehingga tidak ada yang mendahului-Nya) dan Yang Akhir (Yang akan hidup selama-lamanya setelah segala sesuatu musnah) dan Yang Zhahir (Yang begitu jelas wujud-Nya melalui alam raya yang Dia ciptakan dan pembuktian logika dan rasa) dan Yang Bathin (Zat yang hakikat-Nya sehingga tidak dapat dijangkau, jangankan oleh mata, tetapi juga oleh akal dan khayal); dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. Al-Hadid 57:3)

Problem kita ialah sering kali saat kita membaca Alquran, kita tidak mampu menjumpai Allah. Ada ungkapan, “Temukan Allah dalam kitab suci-Nya.” Ungkapan ini sangat singkat namun padat akan makna. Memang demikian, apabila kita ingin mengetahui seorang tokoh, ulama, ilmuan di abad-abad yang amat jauh dengan kita, di mana kita tidak mampu menjumpainya, maka cara yang terbaik ialah dengan mengakses karya-karyanya. Dengan membaca, menelaah, dan menghayati karya-karyanya kita bisa melihat dan menyimpulkan betapa keagungan dan keluasan ilmu yang dimiliki oleh penulisnya. Dengan melihat karyanya juga kita bisa melihat pula sosoknya, pemikirannya, dan kedalaman akan ilmu pengetahuannya.

Baca Juga:  Doa: Menggerakkan Alam Ruhani, Mengubah Takdir

Pendekatan di atas, hemat saya bisa diterapkan saat membaca Alquran —kalam Allah— Saat membaca Alquran, semestinya kita juga bisa meresapi atau menangkap satu derajat dari sekian tingkatan-tingkatan keagungan Allah swt. Karena Alquran ialah kalam-Nya, maka dipastikan Allah menampilkan diri-Nya, untuk itu seharusnya kita pun bisa melihat betapa besar keagungan-Nya, kemuliaan-Nya, dan kesempurnaan-Nya.

Dalam sebuah hadis disebutkan, “Seseorang yang membaca Alquran tetapi dia tidak menambah ilmu pengetahuan dari bacaan sebelumnya, maka sebetulnya ia tidak menemukan hakikat kandungan Alquran.”

Adalah benar, jika kita membaca satu ayat, pada kali pertama kita membacanya mendapatkan satu pengetahuan, kemudian saat kita membaca kedua, atau ketiga kali kita pun mendapatkan pengetahuan baru dari ayat yang sama dan redaksi yang sama. Jika kita berada dalam kondisi seperti ini, maka kita telah mampu menjadikan Alquran sebagai sumber pegangan dan sumber pengetahuan kita. Dan pada saat yang sama, kita akan diantar oleh Alquran untuk mengenal lebih dalam akan hakikat Allah swt. (Nuralwala/DA)

(Keterangan: Tulisan ini hasil transkip dari video berjudul Pengantar Tafsir Sufi 01 oleh Ammar Fauzi di kanal Youtube Nuralwala dan telah disesuaikan oleh Tim Nuralwala)


Nuralwala.id Portal ini, dan berbagai akun media sosial Nuralwala lainnya, berada di bawah naungan Yayasan Nuralwala–sebuah yayasan Islam yang sepenuhnya bersifat non-profit. Untuk kelangsungan program-programnya, saat ini Nuralwala mengandalkan donasi perorangan yang amat terbatas. Jika Anda ingin berkontribusi dalam kelangsungan dan pengembangan kegiatan yayasan ini, Nuralwala menerima infak terbaik Anda dengan donasi ke:

JENIUS $CASHTAG : $NURALWALA | BANK BTPN : 90140041226 (Kode Bank: 213) | BANK BRI : 118201004455501 An. DARMAWAN
0 Shares:
You May Also Like
Read More

Asupan Cinta

Oleh: R. Sunarto Penikmat Sastra, Filsafat, dan Tasawuf Adakah Aku? Pertanyaan ini bisa menyerang pikiran manusia. Seperti yang…