Mencintamu adalah Kezaliman: Tafsir QS. Yunus [10]: 13 Perspektif Imam Al-Qusyairi

Oleh: Dicky Adi Setiawan

Mahasiswa Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Kampus Al-Fitrah Surabaya

Al-Qusyairi adalah salah satu ulama sufi yang produktif dan ahli ibadah. Kesufian al-Qusyairi sangat mashur baik di masanya maupun di era kekinian. Hal ini dibuktikan bahwa karya-karyannya di bidang tasawuf menjadi sumber rujukan di berbagai penjuru dunia. Di antara karya al-Qusyairi di bidang tasawuf yang sangat monumental seperti Al-Risalah al-Qusyairiyah dan Lathaif al-Isyarat. Kitab Lathaif al-Isyarat ini adalah kitab yang menjelaskan tentang penafsiran ayat-ayat Al-Qur’an yang digali lewat kaca mata sufistik.

Sehubungan dengan hal ini, metode al-Qusyairi dalam menafsirkan Al-Qur’an cukup unik dan sangat bernuansa sufi. Keunikan tersebut sama sekali tidak bertentangan dengan makna lahir Al-Qur’an, justru menjadi bukti bahwa Al-Qur’an itu bisa dikaji dari berbagai kaca mata. Misalnya ketika ia menafsirkan QS. Yunus [10]: 13 yang berbunyi:

وَلَقَدْ أَهْلَكْنَا الْقُرُونَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَمَّا ظَلَمُوا وَجاءَتْهُمْ رُسُلُهُمْ بِالْبَيِّناتِ وَما كانُوا لِيُؤْمِنُوا كَذلِكَ نَجْزِي الْقَوْمَ الْمُجْرِمِينَ

“Demi (keagungan dan kekuasaan Kami)! Sungguh, Kami telah membinasakan umat-umat (terdahulu) yang (datang) sebelum kamu, ketika mereka berbuat zalim, sedangkan para rasul mereka telah datang kepada mereka dengan membawa keterangan-keterangan yang nyata, tetapi mereka sekali-kali tidak (mau) beriman. Demikianlah Kami memberi balasan (bagi) kaum pendurhaka” (QS. Yunus [10]: 13).

Kata zalim yang disorot di atas ditafsiri oleh al-Qusyairi bahwa sesuatu apapun jika ditempatkan tidak pada tempatnya dapat dikatakan sebagai perbuatan zalim. Dan nilai isyari-nya ialah jika seseorang meletakan, menempatkan, dan memusatkan tujuannya disertai bergantung kepada makhluk, maka sama halnya menempatkan sesuatu tidak pada tempatnya, yakni zalim.

Alih-alih, al-Qusyairi juga mengqiyaskan kata zalim dengan hubungan percintaan makhluk. Bahkan secara gamblang ia mengatakan :

Baca Juga:  Impak Dosa terhadap Eksistensi dan Pengetahuan Manusia Menurut Suhrawardi Al-Maqtul

إذا أحبّ مخلوقا فقد وضع محبته فى غير موضعها، وهذا ظلم وعقوبته خراب روحه لعدم صفاء ودّه ومحبته لله

“Ketika seseorang mencintai seorang makhluk—bisa pacar (yang belum halal) atau semacamnya—maka perbuatan tersebut sama halnya menempatkan kecintaanya tidak pada tempatnya, yakni termasuk perbuatan zalim. Dan hukuman dari pada orang yang menempatkan cintanya tidak pada tempatnya adalah kehancuran jiwa, disebabkan tidak adanya kemurnian dalam mencintai-Nya” (al-Qusyairi, Lathaif al-Isyarat, h. 8).

Namun meskipun demikian, sejatinya manusia telah dibekali oleh Allah swt. rasa cinta, entah itu cinta terhadap lawan jenis, benda, dan semacamnya. Seperti halnya keterangan pada QS. Ali Imran [3]: 14 yang mendeskripsikan bahwa manusia itu dihiasi cinta terhadap perempuan, anak-anak, harta benda entah itu emas, perak, hewan ternak dan perkebunan.

Akan tetapi perkataan al-Qusyairi sama sekali tidak bertentangan dengan Al-Qur’an, justru dalam QS. Ali Imran [3]: 92 menjelaskan bahwa siapapun itu tidak akan memperoleh kebajikan sebelum menginfakkan sebagian harta yang dicintainya. Dan apapun yang telah diinfakkan manusia, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.

Artinya dalam hal ini, al-Qusyairi hendak memberikan rambu-rambu dan peringatan kepada manusia agar tidak mencintai mahluk-Nya secara berlebihan. Karena  sesuatu apapun yang berlebihan yang tidak ditujukan kepada Allah dan Rasulullah maka sama saja termasuk perbuatan zalim.

 

0 Shares:
You May Also Like