BERTEMU AL-GHAZALI DI BASEMENT SEBUAH TOKO BUKU DI HARVARD SQUARE (BAGIAN 3)

Ya, betul! Beliau adalah Prof. Harun Nasution.

Tak ada orang yang bersentuhan dengan dunia pemikiran Islam zaman itu yang tak pernah mendengar nama beliau. Yang tak banyak orang tahu adalah, meski beliau dikenal sebagai seorang pemikir rasionalis yang mempromosikan teologi rasionalis Mu’tazilah, beliau juga adalah seorang pelaku tasawuf, bahkan pengikut tarekat. Maka jadilah Prof. Harun penyemai benih ketertarikan saya pada filsafat dan tasawuf. (Belakangan, ketika mengambil S-3 di UI, saya juga beruntung mengenal seorang tokoh terpenting pemikir filsafat dan budaya negeri ini. Beliau, Prof. Toetty Herati Noerhadi alm—sebagaimana Prof Harun—juga selalu dengan penuh simpati mendorong para mahasiswa filsafat—termasuk saya, yang beruntung selalu mendapatkan dukungan, perhatian, dan keramahtamahannya—untuk berkembang dalam studi mereka di bidang ini. Saya bahkan ge-er, menduga bahwa beliau jugalah yang mengusulkan saya  menjadi anggota Dewan Kesenian Jakarta—meski tawaran itu tidak bisa saya penuhi hanya karena saya khawatir akan mengecewakan banyak orang akibat banyaknya kesibukan saya di tempat lain. Bagi saya, jika Pak Harun adalah seorang “Bapak-Guru”, maka Ibu Toetty adalah seorang “Ibu-Guru”.

Kembali ke masa-masa studi saya di IAIN Jakarta, saat itu saya memang sudah tertarik pada kedua cabang ilmu keislaman ini—yakni filsafat dan tasawuf. Tapi bersama Pak Harunlah pertama kali saya belajar sistematis tentang keduanya. Saya, sejak memutuskan untuk melanjutkan studi pascasarjana, memang sempat bimbang untuk memilih manakah di antara filsafat/tasawuf dan ilmu tafsir yang akan saya pilih. Saya bahkan sempat mendatangi Prof. Muhammad Quraish Shihab—idola saya, dan idola banyak orang di bidang ini—dan menyampaikan bahwa saya merasa berada di simpang jalan antara memperdalam tafsir atau filsafat/tasawuf dalam studi saya selanjutnya. Saya ingat bahkan menanyakan apakah mungkin saya belajar ilmu tafsir lebih jauh kepada beliau. Saya meminta izin kepada beliau, apakah dimungkinkan jika saya mengikuti acara-acara ceramah/keilmuan beliau ke mana-mana agar saya bisa menyerap sebanyak mungkin ilmu dari beliau. Saya sudah lupa, apa persisnya jawaban beliau. Tapi, tetap dengan ramah dan penuh simpati, jawaban beliau terkesan pada saya sebagai tidak mengarahkan saya ke arah yang saya bayangkan itu. Sangat bisa dipahami bahwa, meski studi filsafat dan tasawuf tetap membutuhkan kemampuan berbahasa Arab—khususnya untuk membaca kutab-kitab asli para filsuf dan sufi itu, dan kenyataannya memang demikian—tentu tafsir membutuhkan penguasaan bahasa Al-Qur’an ini secara lebih sempurna. Sudah tentu Pak Quraish bisa menduga, penguasaan bahasa Arab saya pasti tidak mencapai tingkat itu. Sehingga, akhirnya, saya pun begitu saja terseret lebih jauh untuk mempelajari filsafat dan tasawuf.

Alhasil, studi saya di IAIN pun berjalan lancar. Alhamdulillah. Di tengah-tengah proses belajar itu, dan di tengah pergaulan dengan masyarakat terpelajar di Ciputat dan tempat-tempat lain di Jakarta, saya menjadi tahu bahwa sesungguhnya ada peluang bagi saya untuk mendapatkan beasiswa belajar di luar negeri. Pada waktu itu saya tak ingat yang lain kecuali berhasrat melanjutkan studi di AS, jika mungkin. Saya pun tahu ada setidaknya dua sumber beasiswa yang mungkin saya kejar. Yang satu dari pemerintah (saya agak lupa nama lembaganya, kalau tak salah di bawah Bappenas), dan yang satu lagi Fulbright. Yang belakangan adalah semacam Yayasan pemberi beasiswa belajar di AS, yang berada di lingkungan kementrian luar negeri AS. Saya mendaftar ikut seleksi di kedua lembaga tersebut. Saya ingat meminta rekomendasi dari Kang Jalal (Jalaluddin Rakhmat alm) dan Prof. Nurcholish Madjid alm. Alhamdulillah saya lolos di keduanya. Saya pun bisa memilih, dari lembaga yang mana saya hendak memperoleh beasiswa studi di AS itu. Tanpa waktu panjang, saya memilih Fulbright, yang lebih bergengsi dan lebih berpengaruh di dalam negeri AS. Seingat saya, pada waktu itu besaran beasiswa dari kedua lembaga sebetulnya hampir sama.

Baca Juga:  Sayyid Aḥmad bin Idrîs: Tiga Kunci Langit dan Bumi dari Rasulullah

Maka, sambil menyelesaikan kuliah, saya pun mulai mempersiapkan diri untuk berangkat ke AS. Tapi, sebelum itu, saya harus melakukan semacam riset—dibantu Yayasan Aminef (American Indonesian Exchange Foundation), yang menjadi perwakilan Fulbright di sini. Karena saya harus banyak bolak balik ke kantor Aminef di Wisma Metropolitan—yang juga memiliki perpustakaan yang cukup besar—saya pun memborong isteri dan kedua anak saya—plus mobil Fiat tua keluaran tahun 1972, yang lebih sering mogok—ke rumah kontrakan baru kami di Mampang Prapatan, agak dekat ke Jalan Sudirman tempat Yayasan Aminef berlokasi pada waktu itu. Saya ingat, karena hanya memiliki dana pas-pasan, saya harus tinggal di suatu rumah sederhana di sebuah gang kecil di Mampang Prapatan, yang persis di depannya terletak kandang ayam. Tapi, saya ingat hidup kami pada waktu itu tetap menyenangkan, dalam prospek keberangkatan ke AS untuk melanjutkan studi itu.

Saya pun mempertimbangkan beberapa universitas di AS untuk saya masuki. Saya ingat diterima di lebih dari satu universitas. Tapi, alangkah senangnya saya ketika tahu bahwa salah satu universitas yang menerima saya adalah Harvard University. Maka, tanpa berpikir panjang, saya pun menyampaikan ke Aminef untuk memilih Harvard. Alasannya, bukan saja Harvard adalah universitas terbaik di dunia, tapi di jurusan-jurusan studi Islam yang akan saya masuki terdapat profesor-profesor hebat. Alm. Prof. Muhsin Mahdi—pemikir Islam dunia ahli Ibn Khaldun, yang belakangan mendalami al-Farabi—Prof. Annemerie Schimmel, Prof. Abdul Hamid Sabra—satu di antara dua ahli sejarah sains Islam paling terkemuka di dunia—Prof. Roy Muttahedeh, Prof. William Graham, di samping profesor-profesor lain kaliber dunia di departemen-departemen terkait lainnya. Sayang, Aminef menyatakan bahwa Harvard terlalu mahal, dan dana beasiswa saya tak mencukupi untuk itu. Tapi saya ngotot, antara lain dengan berupaya untuk mencari sumber dana lain yang bisa menambal kekurangan itu. Belum sampai mendapatkannya, saya mendengar kabar gembira bahwa Fulbright bersedia menambah beasiswa saya sehingga cukup untuk studi di Harvard. Alhamdulillaaah….!

Maka saya pun bersiap-siap berangkat. Tapi, lalu berpikir. Saya harus bisa membawa keluarga saya. Bukan saja karena saya memang tak akan sanggup tinggal di AS selama 2 tahun sendirian tanpa isteri dan kedua anak saya yang masih kecil-kecil, tapi saya pun ingin mereka berkesempatan memanfaatkan pengalaman tinggal di AS bersama saya. Namun, dari mana saya bisa mendapatkan tambahan dana padahal uang saku saya hanya cukup untuk satu orang saja? Ternyata Allah sudah punya rencana. Tanpa saya duga sebelumnya, tiba-tiba saja saya ditawari—bahkan dibujuk—untuk mau menjadi koresponden sebuah Majalah Ekonomi dan Bisnis baru yang akan segera terbit pada waktu itu. Namanya Majalah Prospek. Yang membujuk saya adalah seorang teman-yunior saya, Sdr. Syafiq Basri, seorang dokter yang memutuskan untuk memilih jurnalisme sebagai profesinya. Dan, tanpa saya minta, ternyata iming-iming honornya cukup menggiurkan. Saya hitung-hitung, bersama uang saku saya, tampaknya tambahan ini akan memungkinkan saya memboyong keluarga saya berangkat ke Harvard—betapa pun pas-pasannya.

Baca Juga:  Yang Sirna dari Kita: Tabayun

Maka, di suatu bulan Agustus, 1990, saya pun berangkat ke Kota Boston, tepatnya Cambridge, AS, dan keluarga saya menyusul sebulan kemudian. Di bulan September tahun yang sama, saya pun memulai perkuliahan saya di Harvard University. Meski saya tak ingat pernah merasa keberatan, saya pun menanggung sedikitnya 3 fungsi dalam kehidupan saya di AS itu: fungsi mahasiswa S-2 Harvard yang bebannya sama sekali tidak ringan, fungsi ayah (dan suami tentu saja), dan fungsi pekerja jurnalistik. Dalam hal yang terakhir ini, saya harus sangat aktif mengirim bahan-bahan berita dan tulisan agar saya bisa mendapatkan honor yang lumayan setiap bulannya. (Terkadang saya harus ke kota lain untuk mewawancarai nara sumber, termasuk tokoh-tokoh ekonomi terkemuka di AS, di antaranya John Kenneth Galbraith, Milton Friedman, dan Paul A. Samuelson—yang bukunya merupakan referensi utama waktu saya belajar ekonomi di Teknik Industri ITB yang diampu Pak Wimar. Maklum, saya waktu itu secara agak ceroboh memutuskan menyewa aparteman kampus yang lumayan mahal harganya. Dan di antara pengeluaran lain, yang sudah dipotongkan dari beasiswa saya, adalah membayar asuransi. Aminef pada waktu itu mewajibkan para penerima beasiswa untuk mengambil asuransi Blue Cross Blue Shield, sebuah asuransi yang termasuk termahal di AS. Nah, karena sudah “telanjur” memiliki asuransi ini, saya pun ingin ia tak tersia-siakan begitu saja. Karena, alhamdulillah saya waktu itu masih muda (umur saya 33 tahun saat itu) dan sehat, saya pun memanfaatkan kesempatan untuk melakukan pemeriksaan umum bulanan di RS Universitas Harvard.

Tiga bulan berlalu, dokter tak menemukan suatu gangguan kesehatan yang serius pada diri saya. Kecuali adanya tendensi tekanan darah tinggi yang tak parah. Maka, dokter melakukan observasi beberapa saat. Hingga sampailah dia pada kesimpukan bahwa kecenderungan tekanan darah tinggi saya tampaknya tidak permanen, melainkan lebih disebabkan karena tekanan kesibukan menjalankan 3 fungsi itu sekaligus. Alih-alih memberikan obat, dokter menyarankan saya agar mengikuti meditasi. Tawaran dokter saya terima dengan suka cita. Sudah lama saya mendengar ada banyak kelompok spiritual dan meditasi di Barat. Dan saya ingin punya pengalaman mencicipi hal ini. Maka dokter memberikan alamat sebuah kelompok meditasi kepada saya. Tapi, dasar malas (di samping sangat sibuk juga), sebulan setelah itu, saat saya harus melakukan pemeriksaan bulanan berikutnya, saya harus menjawab pertanyaan dokter dengan menyampaikan bahwa saya bahkan belum sempat menyambangi kelompok meditasi itu. Tak putus asa, dokter menyarankan saya membaca sebuah buku, sebagai ganti mengikuti meditasi tersebut. Langsung saja, sepulangnya saya dari RS Universitas Harvard itu, saya menuju ke sebuah toko buku besar di Harvard Square.

Baca Juga:  Muqaddimah dan Karakteristik Pemikiran Ibn Khaldun

Toko buku adalah di antara tempat di kota Cambridge—khususnya di Harvard Square, semacam area tertentu di sekitar kampus Harvard yang merupakan suatu pusat kegiatan yang ramai dan cukup sibuk—yang biasa saya sambangi sehari-hari. Ada beberapa toko buku langganan saya, termasuk sebuah toko buku spiritual  mungil di suatu basement gedung sederhana. Di toko buku yang lampunya sengaja dibuat redup dan beraroma dupa yang selalu dinyalakan ini, saya biasa mencari buku-buku tentang sufisme. Tapi, kali ini saya mencari sebuah buku yang lebih dekat dengan kesehatan. Maka saya datang ke sebuah toko lain, yang jauh lebih besar dan terdiri dari beberapa lantai itu. Salah satu kelebihan toko buku— yang saya sudah lupa namanya—ini adalah, selain kelengkapan koleksinya,  basement-nya yang cukup luas dipakai khusus untuk menjual buku-buku bekas dengan harga yang jauh lebih murah dibanding edisi barunya, yang juga mereka jual di lantai-lantai atasnya. Maka, sebagai mahasiswa asing yang uangnya pas-pasan, saya pun selalu memulai pencarian saya akan sebuah buku di basement ini. Baru ketika tak memperoleh copy bekasnya—yang lebih sering bisa saya dapatkan—saya melihat edisi barunya. Di sini dan pada saat itulah saya mendapatkan pengalaman istimewa—yang terus saya bawa dalam hidup saya, dan makin memperbesar ketertarikan saya kepada tasawuf, khususnya dalam hal efek penyembuhannya untuk penyakit, yang hari-hari ini sedang saya dalami. Pengalaman berkesan inilah yang mengilhami bagian judul serial tulisan ini: bertemu Al-Ghazali…. (bersambung)

0 Shares:
You May Also Like